Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan organisasi eksternal kampus yang sangat direkomendasikan untuk seluruh Mahasiswa di Indonesia. Lebih-lebih menjelang tahun ajaran baru, yang mana akan berdatangan gerombolan wajah-wajah Mahasiswa Baru (Maba).
Nah, setelah itu, biasanya mereka akan disuguhi tawaran untuk bergabung pada organisasi kemahasiswaan. Salah satunya, organisasi pergerakan Islam Nasional yang berlandaskan Ahlussunnah Wal Jamaah, yaitu PMII.
Kenapa sih harus gabung di organisasi PMII? Emang apa manfaatnya? Paling cuma sebagai ajang pembodohan masal doang? Organisasi sesat tuh kalik, makanya Maba ditawar-tawarin?
Eits, tunggu dulu! Tanpa banyak berkata panjang, langsung simak aja yuk alasan kenapa Mahasiswa Islam harus banget gabung di organisasi PMII!
1. PMII sebagai sayap organisasi NU dalam bidang kemahasiswaan. Maka dengan PMII, sanad kepada ke-NU-an tidak akan terputus. Karena di PMII, Mahasiswa juga akan kembali diberikan pemahaman tentang Islam Ahlussunnah Wal Jamaah hingga kenyang.
2. Dapat mengasah kemampuan akademik. Karena PMII telah menyediakan wadah-wadah mediasi intelektual sesuai dengan kualitas atau kualifikasi Mahasiswa sesuai Prodi masing-masing. Disamping itu, PMII juga akan membekali para Kadernya terkait materi lintas keilmuan yang bertujuan untuk membangun nalar kritis Mahasiswa.
3. Mempertajam skill non akademik. Dalam pembelajaran di kelas saar kuliah, kemungkinan kecil skill tersebut akan Mahasiswa dapatkan. Oleh karena itu, dalam PMII skill tersebut akan Mahasiswa dapatkan. Seperti skill kepemimpinan (leadership), public speaking, teknik lobi, orasi, jurnalistik, manajemen organisasi, dan tentunya masih banyak lagi.
4. Belajar berjejaring. Dalam hal ini, dapat kita lihat dari orang-orang yang terlahir dari organisasi PMII. Para alumni yang telah memegang lini-lini strategi dalam struktur sosial. Mulai dari Kiyai, akademisi, politisi, pegawai negeri, menteri, hingga guru ngaji, semuanya saling berjejaring dalam Ikatan Keluarga Alumi (IKA) PMII.
5. Dapat belajar beradaptasi dengan kultur perguruan tinggi. Tentunya kultur perguruan tinggi tidak sama dengan kultur persekolahan. Dalam perguruan tinggi, Mahasiswa dianggap orang dewasa yang mempunyai peran penting dalam mewarnai kualitas perkuliahan. Maka dengan memperbanyak diskusi, membaca, dan menulis, Mahasiswa akan lebih mudah untuk bebas bertukar gagasan atau pendapat tanpa harus diselimuti rasa canggung, dan hal tersebut tentunya tersedia dalam PMII.
6. Dapat belajar bertanggung jawab. Mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial maupun individu yang cukup besar pastinya. Entah berupa tugas serta kejujuran ketika di dalam kelas, dan sebagainya.
Maka dengan tri motto PMII, yaitu zikir, fikir, amal sholeh, akan dapat mendidik kadernya untuk responsif terhadap isu-isu di lingkungan sekitar.
7. Dapat belajar menjadi agen perubahan. Dalam tree agent of Mahasiswa, yang mana salah satunya yaitu agent of change (agen perubahan). Berubah dari Siswa menjadi seorang Mahasiswa, dapat menjadi kaum yang cerdik-cendiki, yang tidak hanya melontarkan kritik tanpa aksi yang konkret.
8. Dapat belajar menjadi seorang Muslim yang moderat. Moderat seperti yang telah banyak orang ketahui, menjunjung nilai-nilai toleransi, keseimbangan, serta keadilan. Bukan sebagai Muslim yang mengenalkan agama Islamnya yang keras dan mudah marah.
9. Dapat belajar menjadi insan ulul albab. Sebagaimana dalam Visi PMII yang tersebut dalam Anggaran Dasar (AD) Bab IV pasal 4 'Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan dapat bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitman memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia'. Singkatnya inilah yang dapat disebut insan ulul albab, yaitu manusia yang berilmu ilmiah dan beramal ilmiah.
Selain tersebut di atas, tentunya masih banyak yang dapat Mahasiswa peroleh dari PMII secara gratis tentunya. Tinggal kemauan diri sendiri untuk menggali hal tersebut. Selagi ada, jangan disia-siakan deh!
Untuk ajang pembodohan masal, tergantung bagaimana individu Mahasiswa tersebut bergerak menggali yang ia inginkan di dalamnya. Mudah menyerah karena tersingkirkan argumentasinya sebelum berulang kali mencoba.
Kualitas Mahasiswa, bukan segemilau apa wadahnya. Melainkan sebesar apa keinginan serta kemauannya. Seperti berlian, coba analisa!
Sumber; UNISNU Jepara
Untuk kalian sebagai calon Mahasiswa baru nantinya, atau bahkan sudah menjadi Mahasiswa namun masih meragukan untuk bergabung di PMII, baca sampai tuntas dan analisa lebih dalam pada orang-orang disekitar kalian!
Oleh : Izza afkarina
Perumpamaan gua dipaparkan Filsuf Yunani kuno, Plato dalam karyanya yang berjudul Politeia (Republik).
Berikut adalah ringkasannya:
• Penjara dalam gua
Bayangkan ada sebuah gua. Didalam sebuah gua hidup orang-orang tawanan yang diikat menghadap dinding gua bagian belakang, sejak mereka usia balita. Kaki dan leher mereka terikat. Karena diikat mereka tidak bisa kemana-mana. Dan mereka hanya bisa melihat kedepan menghadap dinding bagian belakang gua.
Dibelakang pundak mereka terdapat tembok. Lalu dibelakang tembok terdapat api yang menyala. Jadi tembok berada diantara api dan tawanan.
Dan dibalik tembok ini terdapat pewayang yang memainkan wayang berupa manusia dan bentuk makhluk hidup lainnya. Para tawanan tak dapat melihat pewayang, karena pewayang bersembunyi dibalik tembok. Tapi para tawanan dapat melihat bayangan yang dihasilkan api dan wayang yang digerakkan oleh seniman wayang atau pewayang. Dan pewayang ini memainkan wayang sambil berbicara.
Para tawanan percaya bahwa suara berasal dari bayangan-bayangan wayang. Bayangan dan suara pewayang menjadi satu-satunya kenyataan dalam hidup mereka.
• Meninggalkan gua
Lalu bayangkan salah satu tawanan lepas dari ikatan yang membelenggunya selama ini sejak balita dan kanak-kanak. Kemudian tawanan yang bebas ini mulai merangkak ke sekitarnya.
Lalu ia melihat api yang menyala. Dan cahaya api yang menyala ini membuat matanya sakit. Dan membuatnya susah untuk melihat wayang yang menghasilkan bayangan. Ia jadi hanya melihat wayang dengan buram. Ia kemudian memutar balikan wajahnya ke dinding belakang gua, ke bayangan yang selama ini ia lihat dengan jelas untuk menyamankan matanya yang sakit karena silau cahaya api.
Dan bukankah ia tawanan akan memutuskan bahwa bayangan ini faktanya adalah lebih jelas daripada wayang yang buram (karena silau cahaya)? Dan kemudian akan tidak percaya jika diberi tahu bahwa wayang adalah yang asli dan bayangan adalah yang palsu?
• Keluar dari gua
Lalu bayangkan jika seseorang memaksanya keluar dari gua tersebut sampai terpapar sinar matahari. Bukankah ia akan merasa jengkel dan rasa sakit karena sinar matahari yg jauh lebih menyilaukan dan membutakan dibanding cahaya api ?
Lama kelamaan tawanan ini terbiasa dengan cahaya matahari. Lalu secara bertahap ia mulai bisa melihat bayangan, kemudian refleksi atau pantulan orang atau benda di air, dan kemudian akhirnya bisa melihat orang-orang dan benda itu sendiri. Lalu suatu saat ia bisa melihat keatas bintang dan bulan pada malam hari dan juga matahari pada siang hari.
Hanya ketika ia melihat matahari secara langsung ia dapat menalarkan/berfikir apa itu matahari.
• Kembali ke gua
Kalau kita mengingat kembali, bukankah tawanan yg telah keluar dari gua ini merasa beruntung karena pencerahan dan perubahan/transformasi yang ia alami? dan merasa iba terhadap tawanan-tawanan yang masih di dalam gua?
Lalu dia memutuskan untuk berbagi pengalaman menakjubkan yang ia dapat selama di luar gua kepada tawanan lainnya yang masih berada di dalam gua. Dan ingin mengajak mereka keluar dari dalam gua.
Si tawanan ini yang sudah terbiasa dengan sinar matahari, merasakan kegelapan dan kebutaan sementara ketika ia kembali ke dalam gua, sama seperti ketika ia pertama kali melihat cahaya api dan sinar matahari.
Sementara matanya masih lemah dan menyesuaikan akan kegelapan, si tawanan yang telah keluar gua ini berusaha meyakinkan tawanan lain untuk juga keluar.
Tawanan-tawanan lain tidak percaya dan mencemooh ajakannya karena untuk apa keluar gua jika hasilnya adalah kerusakaan mata seperti dia (yang mereka kira).
Dan bukankah tawanan-tawanan tersebut akan marah dan mencelakakan dia jika dia memaksa melepas ikatan dan menuntun mereka keluar gua?
Refleksi:
1. Menurut kalian apakah sesuatu di perumpamaan gua Plato juga ada terjadi di dunia kehidupan nyata kita? semisalnya perbedaan antara yang benar terjadi dengan yang diberitakan media?
2. Pernahkah kalian merasakan penolakkan ketika mencoba memberitahu hal yang benar seperti orang yang telah keluar gua dalam perumpamaan ini?
3. Bagaimana kalian menerima pandangan yang baru yang berbeda dari sudut pandangmu saat ini?
4. Apa yang kalian lakukan untuk "keluar dari gua" dan melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih luas dan beragam?
5. Bagaimana cara kalian membantu orang lain keluar dari gua?
Oleh : Shodri MHD Nur
Barda Mandrawata (Kader Rayon FDKI 21)
Pada saat kerajaan Mataram yang dibangun pada tahun 1500-an itu berada di wilayah yang memiliki banyak pohon nangka yang buahnya melimpah. Walhasil, rakyat Mataram saat itu mulai mencari cara untuk membuat masakan yang berbahan dasar nangka, terutama gori atau nangka muda.
Sebab, nangka tidak termasuk hasil pertanian yang diincar penjajah karena nilai jualnya rendah. Rakyatnya saat itu sangat" mencari tahu hingga pada suatu waktu ditemukan cara mengolah gori menjadi masakan. Yaitu dengan direbus cukup lama hingga teksturnya lembut, kemudian diberi bumbu rempah sederhana dan campuran kelapa.
Karena dimasak dalam porsi besar untuk orang banyak, maka wadahnya pun menggunakan ember besar dari logam dan diaduk menggunakan alat yang menyerupai dayung perahu. "Teknik mengaduk ini dalam Bahasa Jawa disebut hangudek atau hangudeg, dan dari sinilah nama gudeg berasal hingga sampai saat dikenal luas oleh banyak orang dan diera modern gudeg dapat diinovasi ada gudeg dari ayam,ikan,dan lain sebagainya.
Oleh : Eka Putri
Tarantula (Kader FDKI 22)
Candi Gedhong Putri yang terletak di kaki gunung api aktif Semeru Dusun Selorejo Desa Kloposawit Kecamatan Candipuro Provinsi Jawa Timur ini, sangat erat kaitannya dengan keberadaan Goa Maling Aguno yang terletak di Desa Sumberejo berada di belakang pasar Candipuro. Candi yang merupakan sebuah komplek dengan terdiri dari tumpukan batu bata merah dan beberapa batu andesit ini, di sekitarnya banyak dijumpai hamparan batuan vulkanik warisan letusan gunung semeru beberapa abad silam.
Perkembangan teknologi semakin menjadi-jadi di zaman modern ini. Berbagai macam teknologi terus dikembangkan demi merubah peradaban manusia menjadi lebih baik. Dari teknologi uap, listrik, hingga perkembangan media digital canggih yang dapat memudahkan aktivitas manusia hampir di semua lini. Gaya hidup manusia berubah dari serba manual ke serba digital. Salah satu kemajuan teknologi yang menyumbang banyak perubahan dalam kehidupan manusia adalah teknologi di bidang informasi dan komunikasi. Zaman dahulu seseorang rela menunggu berhari-hari hanya demi sebuah kabar dari seorang yang jauh dari jangkauan, kedatangan tukang pos selalu dinanti demi sepucuk surat dari sang pujaan hati. Seiring berjalannya waktu, teknologi informasi dan komunikasi terus mengalami perkembangan, hingga pada zaman sekarang sebuah kabar dapat dengan mudahnya tersampaikan dalam hitungan detik walau sejauh apapun keberadaan pengirimnya seolah menembus dimensi ruang dan waktu. Memang tidak secanggih pintu kemana saja milik Doraemon, tapi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi patut diapresiasi. Salah satu kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat fenomenal adalah lahirnya ruang sosial untuk berinteraksi jarak jauh di luar dunia nyata yang sering kita sebut dengan media sosial. Media sosial merupakan ruang publik yang memudahkan manusia berinteraksi sosial dengan manusia lainnya tanpa bertatap muka secara langsung. Kini interaksi sosial tidak hanya ditemui di kehidupan nyata, namun juga dapat terjadi di ruang media sosial yang berada di dimensi berbeda dengan dunia nyata. Dewasa ini interaksi sosial lebih sering dilakukan di dalam media sosial. Menurut data dari We are Social Jumlah pengguna media sosial di Indonesia pada tahun 2017 telah mencapai angka 2,51 miliar. Angka tersebut terus meningkat cukup drastis dibandingkan pada tahun 2010 yang pada saat itu belum mencapai 1 miliar pengguna. Ditambah lagi dalam dua tahun terakhir ini kita mengalami perubahan gaya hidup besar-besaran akibat adanya pandemi covid-19. Hingga saat ini terhitung sejak Januari 2021, pengguna sosial media di Indonesia telah mencapai angka 170 juta jiwa dimana angka tersebut merupakan lebih dari setengah jumlah populasi yang ada di Indonesia. Secara tidak langsung, media sosial telah membentuk dunia kedua bagi peradaban umat manusia. Media sosial tidak lagi menjadi dunia maya bagi manusia melainkan telah membentuk dunia nyata atau realitas baru bagi kehidupan sosial. Media sosial seolah telah menjadi kehidupan ke dua bagi peradaban umat manusia. Setiap kegiatan dalam media sosial merupakan cerminan dari realita atau kegiatan yang terjadi di dunia nyata. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa keberadaan media sosial saat ini bukan hanya sebagai dunia maya yang terpisah dari realita sosial dalam dunia nyata, melainkan media sosial telah menjadi ruang nyata ke dua bagi manusia untuk menjalankan aktivitas sehari-harinya. Meski berada pada dimensi yang berbeda, sosial media sebagai realitas baru tidak dapat dianggap remeh. Karena bagaimanapun juga, aktivitas sosial yang terjadi di sosial media dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan sosial di dunia nyata. Aktivitas yang terjadi dalam media sosial bukan hanya menjadi aktivitas maya belaka namun telah menjadi kenyataan yang dapat memberi pengaruh pada kehidupan di dunia nyata. Kedua realitas tersebut memang berbeda dan berada pada ruang dan dimensi yang tidak sama. Namun antara realitas satu dengan realitas dua memiliki hubungan timbal balik dan dapat mempengaruhi antara satu dengan lainnya. Kenyataan atau aktivitas yang terjadi di dalam media sosial seringkali berawal dari aktivitas yang terjadi dalam dunia nyata begitu juga sebaliknya. Konflik sosial yang terjadipun juga demikian, konflik yang terjadi di dalam media sosial seringkali merambah ke dunia nyata dan konflik sosial yang terjadi di dunia nyata juga akan menyebabkan perseteruan dalam realitas baru.
Adanya media sosial sebagai salah satu produk industri teknologi informasi dan komunikasi menjadi salah satu ciri kehidupan di era industri 4.0 dimana teknologi informasi dan komunikasi sudah menajamah kehidupan manusia di berbagai sektor. Memasuki era Society 5.0 dimana manusia dan teknologi (terutama teknologi kecerdasan buatan) hidup berdampingan dan melengkapi serta menjadi bagian satu sama lain, Bos perusahaan raksasa Facebook Mark Zuckerberg menggaungkan konsep metaverse dimana seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain secara virtual dan dapat merasakannya seolah bertemu langsung. Konsep metaverse ini menggunakan teknologi Augmented Reality (AR) yang dikembangkan sehingga seseorang dapat menyentuh dan merasakan sesuatu di dunia virtual layaknya dunia nyata. Konsep Metaverse sebenarnya sudah muncul sejak lama. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi istilah tersebut mendapatkan popularitas dan menarik minat banyak perusahaan teknologi terkemuka. Dalam metaverse seseorang memungkinkan bertemu, bermain, bekerja, dan berinteraksi dengan orang lainnya secara virtual dengan menggunkan avatar masing-masing namun terasa seperti bertemu secara langsung di dunia nyata. Berubahnya nama perusahaan Facebook menjadi Meta menjadi indikasi keseriusan Mark Zuckerberg dalam mewujudkan dunia metaverse ini. Adanya dunia baru metaverse tentu memungkinkan terbentuknya realitas sosial kedua yang lebih nyata dan menyaingi kehidupan sebenarnya. Realitas sosial baru tentunya memberikan dampak perubahan perilaku sosial masyarakat secara masif terutama kepada masyarakat kaum millenial dan generasi Z yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam dunia digital. Dinamika perubahan sosial yang terjadi di realitas kedua tentunya berbeda dan mungkin lebih sulit untuk ditangani dibandingkan dengan perubahan sosial dalam kehidupan nyata. Bagaimana tidak, dunia Metaverse memiliki cakupan massa yang luas dan tidak dibatasi dimensi ruang dan waktu sepertihalnya dunia nyata. Dunia virtual seperti Metaverse dapat menghubungkan banyak orang tanpa memandang seberapa jauh jarak antara orang-orag tersebut. Dengan begitu metaverse pastinya akan membuka banyak kemungkinan perubahan tingkah laku sosial manusia. Batas antara dunia nyata dengan dunia maya menjadi semakin kabur dan seolah hampir tidak ada perbedaan antara keduanya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kaum intelektual terutama Mahasiswa yang memang memiliki tugas mengawal dan mengontrol perubahan sebagai seorang agent of change dan social control.
Mahasiswa memiliki peran penting dalam kehidupan sosial sebagai Agent of Change yang berarti Mahasiswa hendaknya dapat melopori dan megawal sebuah perubahan positif di tengah kehidupan masyarakat. Mahasiswa diyakini memiliki ilmu pengetahuan dan pemikiran yang mumpuni untuk mengawal perubahan menuju tatanan masyarakat yang lebih baik. Mahasiswa hendaknya mendedikasikan hasil belajarnya untuk memperjuangkan kepentingan bersama dan bukannya untuk kepentingan pribadi. Selain itu, mahasiwa juga memiliki peran sebagai Agent of Social Control yang berarti seorang mahasiswa hendaknya dapat melakukan kontrol terhadap perubahan sosial yang ada agar tidak mengarah terhadap sesuatu yang negatif dan mengakibatkan masalah sosial bermunculan. Mahasiswa hendaknya menjadi pelopor solusi dari masalah sosial yang ada dan bukannya menjadi pemasok masalah sosial baru. Sebelum itu, mahasiswa hendaknya dapat bertahan menghadapi arus perubahan zaman bukannya hanyut dalam hingar bingar perubahan sosial yang negatif. Dewasa ini masih sering kita menemui seorang pemuda bahkan tidak sedikit juga yang dari kalangan mahasiswa yang diperbudak oleh teknologi dan lebih-lebih mereka telah mabuk teknologi. Sebagai mahasiswa yang bertanggung jawab dalam mengemban amanah agent of change and social control hendaknya membentengi diri dari pengaruh buruk teknologi, bukannya terlarut dan tunduk dibawah kekuasaan teknologi. Mahasiswa hendaknya dapat memanfaatkan dan mengendalikan teknologi untuk peradaban manusia yang lebih baik, karena sejatinya teknologi sepertihalnya pedang dengan dua mata, teknologi dapat memberi kejayaan bagi orang yang berhasil menguasainya dan dapat membawa kehancuran bagi orang terlena dan diperbudak olehnya.
Meneladani sejarah perjuangan mahasiswa dari masa ke masa tentunya kita sadar bahwa setiap masa memiliki tantangan dan masalah yang berbeda-beda. Jika mahasiswa era 90 an berhadapan dengan pemerintahan yang otoriter, mahasiswa masa kini menghadapi tantangan yang cukup sulit karena berhadapan dengan perkembangan teknologi dan ancaman penjajahan budaya yang sekilas seolah terasa nyaman namun sebenarnya mematikan. Munculnya realitas baru dari konsep metaverse hendaknya menjadi perhatian serius bagi kalangan mahasiswa. Mahasiswa harus lebih peka terhadap perubahan sosial yang muncul dari realitas baru tersebut dengan tidak mengesampingkan kepekaannya terhadap perubahan sosial yang terjadi di dunia nyata. Pada intinya, mahasiswa harus memiliki cakupan kepekaan dan pemahaman yang lebih luas terlebih dalam hal kemajuan teknologi. Mahasiswa hendaknya lebih bijak dalam menggunakan teknologi, menjadi pelaku produktif bukan hanya konsumtif terhadap perkembangan teknologi, bergerak bersama terknologi dan bukan hanya digerakkan oleh teknologi, dapat berdiri tegak menghadapi dan melawan arus pengaruh negatif dari budaya mabuk teknologi. Dalam mengawal dan mengontrol perubahan sosial dari realitas baru, Mahasiswa harus siap dan sigap membaca dan merespon dinamika sosial yang terjadi di dalamnya. Bukan hanya menjadi penonton, mahasiswa harus aktif menjadi pelaku didalam perubahan sosial di dalam realitas baru, pun juga di dunia nyata. Sudah bukan zamannya mahasiswa hanya membaca buku dan aksi manual saja. Literasi dan pemahaman terkait dunia digital hendaknya menjadi orientasi utama mahasiswa saat ini. Bukan hanya kematangan intelektual namun juga kecakapan digital.
Oleh: Moch. Arifudin
Presiden Mahasiswa IAI Syarifuddin Lumajang
Peserta Diklatpimnas II 2021
Sampah seringkali menjadi sesuatu yang dianggap tidak berguna dikalangan makhluk sosial. Menjadi topik utama terjadinya pencemaran lingkungan. Bahkan juga penyebab bakteri dan penyakit berdatangan dalam suatu lingkup lingkungan masyarakat.
Sama halnya dengan mantan, yang sering dianggap
pembawa luka dan dusta. Setelah memberi kenikmatan cinta yang tak nyata, namun
berbekas hebat kecewa karena ulahnya. Diiming imingi cinta, hingga buta, bisu
dan tuli dibuainya.
Dari sini, apa perbedaan sampah dan mantan
dong? Diantara keduanya mana yang lebih positif cobak?
Dilihat dari sisi positif sampah, yang mana
seringkali kita dengar istilah daur ulang atau circular economy. Yaitu
proses memilah sampah lalu menggunakannya kembali atau proses mendaur ulang sampah
menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Tidak seperti mantan, yang hanya jadian,
putus, terus say goodbye, dan endingnya lost contact deh.
Mengsedih kan, padahal rela-relain menguras tenaga untuk berbagi kebahagiaan di
awal jadian, eh malah jadi mantan, dan endingnya tidak akan pernah dibutuhkan.
Menurutmu bagaimana? Apakah sampah masih lebih
penting daripada mantan?
Oleh : Izza Afkarina
Miris, kampus merdeka atau penjajahan kampus? Kebijakan kampus merdeka telah mengguncang praktik pendidikan formal, mahasiswa dan dosen keluar dari "kandang" program studi dan kampus. Padepokan belajar setelah tamat sekolah menengah tidak lagi hanya institusi perguruan tinggi, tetapi juga kantor kementerian atau lembaga negara dan dinas pemerintah daerah. Selain itu juga kantor desa/kelurahan, kantor penerbitan-percetakan, kantor surat kabar, dunia usaha kecil dan menengah bahkan lembaga sosial keagamaan. Dengan jaringan tempat tempat magang itu, program kampus merdeka diharapkan mendorong perbaikan kurikulum perguruan tinggi, yang sering dikritik Sangat teoritis, bertumpa pada buku teks dan kurang memberikan pengalaman lapangan. Semakin dilema antara pencetak generasi pemimpin atau pabrik produksi pekerja?
Kampus merdeka merupakan perpanjangan dari program merdeka belajar yang masih hangat diperbincangkan di bidang pendidikan, hanya saja kampus merdeka memberikan mahasiswa kebebasan untuk tiga semester mencari pengalaman belajar diluar jurusannyaa. Tidak lepas dari itu statement ini merupakan langkah terciptanya peningkatan kualitas pendidikan yang dicetuskan oleh menteri pendidikan Nadiem Makarim. (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020) Pendidikan selalu mengupayakan terciptanya peserta didik yang selalu melakukan pembaharuan demi pembaharuan dalam setiap waktu. Tidak hanya mampu berpendidikan tinggi akan tetapi mampu menjadi agen perubahan dalam lingkup kecil maupun besar. Satuan pendidikan yang paling berpengaruh dalam perubahan adalan perguruan tinggi.
Mengapa demikian? Karena disinilah kematangan dalam menempuh pendidikan dan diharapkan menjadi perubahan dalam berpikir dan bertindak.Itulah sebabnya perguruan tinggi diharapkan mampu melakukan inovasi inovasi dalam setiap proses pembelajarannya Yakni pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa agar mendukung tercapainya lulusan yang berkualitas yang siap menghadapi situasi zaman yang terus berubah.Pemerintah juga mengambil fungsi dalam pembaharuan pendidikan, dan disinilah pemerintah menciptakan konsep kampus merdeka belajar.
Tantangan yang dihadapi perguruan tinggi dalam pengembangan kurikulum di era Industri 4.0 adalah menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan literasi baru, yakni literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia yang menuju kepada penanaman karakter berakhlak mulia. Salah satu upaya untuk menjawab tantangan tersebut adalah lahirnya kebijakan hak belajar bagi mahasiswa di luar program studi (Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Pendidikan Tinggi). Kebijakan yang populer dengan nama Merdeka Belajar Kampus Merdeka dimaksudkan untuk mewujudkan proses pembelajaran di perguruan tinggi yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki dunia kerja, serta memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menentukan mata kuliah yang akan diambil. Kebijakan ini juga bertujuan untuk meningkatkan link and match dengan industri dan dunia kerja (IDUKA), serta untuk mempersiapkan mahasiswa dalam dunia kerja sejak awal. Kebijakan tersebut berimplikasi kepada munculnya tuntutan kepada perguruan tinggi (PT) untuk merancang kurikulum dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran secara optimal. Mahasiswa diberikan kebebasan untuk mengambil beban belajar (SKS) di luar program studi, baik dalam satu perguruan tinggi (PT), di luar PT, dan/atau non-PT. Artinya, mahasiswa difasilitasi untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna dalam dunia kerja. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana mengembangkan kurikulum berbasis merdeka belajar?
Ketika kita korelasikan buku pendidikan kritis transformatif karya Mohammad Karim, yang intinya dalam buku tersebut lagi-lagi disebutkan bahwa "...pendidikan menjadi semacam pabrik produksi, dimana bukan memanusiakan manusia tapi lebih cenderung mencetak produksi manusia pekerja. Literasi buku tentang kajian keilmuan secara teori mulai ditinggal seakan akan kita dituntut didalamnya menguasai medan kerja yang tidak lain menjadi pekerja."
Mahasiswa pergerakan saat ini haruslah bijak menanggapi peraturan pemerintah tentang ambil alih fungsi pembaharuan pendidikan, mengenai Merdeka Belajar ataupun Kampus Merdeka. Jangan sampai menjadi kausalitas literasi kajian buku mengenai keilmuan menjadi terjajah. Agen of change yang kita cita citakan adalah menjadi sosok leader yang mampu mensejahterakan masyarakat bukan malah menjadi produk pekerja dari sistem pemerintahan.
Editor : Nesia Anisa Yahya
Oleh : Muzzaki Afandi
Barda Mandrawata (FDKI 21)
Beberapa pertanyaan klasik yang sering kali muncul dalam benak mahasiswa tentang problem politik, khususnya politik di kampus. Mengapa harus repot-repot berpolitik di kampus?, untuk apa membentuk koalisi politik ala-ala mahasiswa?, untuk apa bertarung dan memperebutkan pengaruh dari seluruh teman-teman mahasiswa agar berpihak kepada pihak A atau B?. Tidaklah cukup dengan menggunakan dakwah tanpa harus bermusuhan dengan organisasi lain.
Hal ini tentunya merupakan sesuatu yang sangat penting dipahami oleh para mahasiswa. Dengan adanya paragdima dan bacaan yang komprehensif maka strategi dan taktik dalam perjuangan akan mendapatkan arah yang jelas.
Awal mula kita harus memahami julukan kampus atau dunia perkuliahan, kampus atau institut dan ataupun sekolah dan sejenisnya bisa dikatakan sebagai miniatur negara, di kampus ada Prodi, fakultas, hingga universitas atau institut, dan di negara yaitu mencakup, mulai dari desa, kecamatan, kabupaten hingga negara, maka dari itu, dunia perkuliahan sering di sebut sebagai miniatur negara. Kemudian kita harus memahami mengenai urgensi politik kampus, yang mana hal ini tidak bisa kita pungkiri bahwa kampus merupakan tempat lahirnya cadangan pemimpin masa depan bangsa. Jika mencermati gerakan mahasiswa saat ini ide-ide revolusi sistemis, pemerintahan kaum muda dll, merupakan sebuah tawaran segar yang tentunya memerlukan suatu telaah yang mendalam salah satunya pemerintahan mahasiswa.
Selain dikenal kaya akan budaya dan bahasa. Banyak pula ragam jajanan yang mempunyai filosofi tersendiri di Indonesia. Kue jadah ketan salah satunya. Kue yang terbuat dari campuran beras ketan dan kelapa parut, yang dimasak layaknya nasi dan kemudian ditumbuk hingga halus dan menjadi satu kesatuan yang lengket.
Dalam adat suku jawa, jadah ketan atau yang lebih populer dengan sebutan tetel ini, tak pernah absen dalam "iring-iringan" acara pernikahan maupun lamaran hingga saat ini. Tepatnya di daerah Lumajang sendiri. Hal ini masih diberlakukan sebab diyakini memiliki makna filosofi yang diyakini sebagian orang.
Sebagian orang jawa meyakini ketan memiliki arti "keraketan" yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti "merekatkan". Karena teksturnya pula yang lengket, berharap hubungan keluarga yang dibangun akan selalu harmonis dan saling merekat tak terpisahkan. Hingga maut memisahkan pun tetap mencintai meski di alam yang berbeda. Sifatnya yang lengket mengisyaratkan akan saling membersamai satu sama lain menghadapi ujian dan rintangan pernikahan bersama-sama, tanpa adanya perpisahan.
Sebagian juga mengartikan bahwa ketan berasal dari bahasa Arab " khoto' " yang berarti salah. Makna kesalahan inilah yang perlu direnungi dalam kehidupan, terlebih dalam kehidupan rumah tangga. Agar dapat introspeksi diri atas kesalahan yang diperbuat, yang pastinya kerap kali terjadi setiap hari dalam hubungan rumah tangga, dan harus juga saling memaafkan.
Yang membedakan nasi ketan dengan jadah ini hanyalah campuran kelapa dan proses ditumbuknya saja. Jika ingin jadah yang gurih, bisa dengan dicampurkan parutan kelapa lagi ketika sudah matang. Dan jika ingin rasa yang manis, maka bisa dengan ditaburi gula pasir atau pun gula merah cair diatasnya.
Proses pembuatannya yang terbilang panjang ini, memberikan makna bahwa dalam suatu kehidupan rumah tangga pastinya perjalanan yang diarungi tidaklah singkat. Banyak sekali rintangan menghadang yang perlu dihadapi dengan hati lapang. Oleh karenya, perlu adanya kerekatan antara kedua pasangan dan selalu menjaga keharmonisan rumah tangga nya.
Tak hanya itu, rasa manis dan gurih yang dihasilkan juga memiliki makna, bahwa proses yang panjang akan membuahkan hasil yang manis yaitu kebahagiaan.
Oleh : Putri (Tarantula 22)
Kader PMII FDKI 22
Pada zaman dahulu, ada satu kadipaten (kabupaten) yang bernama Pajarakan. Kadipaten itu dipimpin oleh seorang adipati yang bernama Menak Koncar. Dia adalah seorang adipati yang setia pada Majapahit.
Ratu Kencanawungu yang menduduki takhta pada saat itu dibuat sibuk dengan pemberontakan yang terjadi di ber bagai daerah. Akibatnya, dia tidak sempat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Salah satu daerah yang mem berontak adalah Kadipaten Blambangan.
Kadipaten itu ingin melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Untuk mewujudkan rencana tersebut. Adipati Menak Jinggo yang menjadi penguasa di Blambangan, me mengaruhi kadipaten lain di sekitarnya. Termasuk me mengaruhi Adipati Menak Koncar untuk bergabung dengan Blambangan.
"Majapahit di ambang kehancuran. Kencanawungu tidak sehebat pendahulunya. Sebagai seorang wanita, gerak langkahnya terlalu lamban untuk menjadi penguasa. Dia tidak akan mampu memegang kendali Majapahit. Jadi, apa untungnya kamu pertahankan Pajarakan tetap di bawah kekuasaan Majapahit?" kata Menak Jinggo memengaruhi Menak Koncar.
"Ratu Kencanawungu belum lama menduduki takhta. Masih belum cukup waktu bagi kita untuk memberikan pe nilaian. Tapi seandainya dugaanmu itu benar, tidak sepantasnya kita melepaskan diri dari Majapahit. Justru kita harus membantu Ratu Kencanawungu agar Majapahit tetap dapat berdiri tegak di bumi Nusantara ini. ujar Menak Koncar.
"Kenapa kamu begitu setia pada pemerintahan Majapahit? Padahal Majapahit sama sekali tidak menghargai jasa-jasamu. Lihatlah, masa pengabdianmu di Majapahit sudah cukup lama. Tapi kamu tetap saja ditempatkan dil daerah terpencil seperti Pajarakan. Padahal teman-teman seangkatanmu memperoleh kedudukan yang tinggi di pusat pemerintahan."
"Aku berjuang bukan untuk mencari pangkat dan ke kuasaan, Menak Jinggo. Aku berjuang karena terdorong keinginan untuk menyejahterakan rakyat negeri ini."
"Bergabunglah dengan Blambangan. Bila Majapahit berhasil kita taklukkan, dan Nusantara berada dalam genggaman kita, kau akan kuangkat sebagai patih di Blambangan."
"Tidak. Biar kau bujuk dengan cara apa pun, aku tidak akan berpaling dari Majapahit."
Mengetahui usahanya untuk membujuk Menak Koncar gagal. Adipati Blambangan pun menggunakan cara ke kerasan. Dengan membawa ratusan prajurit pilihan, Menak Jinggo menyerang Pajarakan.
Tidak sulit bagi Menak Jinggo yang sakti, dengan prajurit nya, menaklukkan lawannya. Bahkan dalam satu peperang an, keris Menak linggo berhasil merobek perut Menak Koncar
Melihat pemimpinnya terluka parah. para prajurit Pajarakan segera bertindak. Mereka menyelamatkan Menak Koncar, dengan membawanya pergi meninggalkan medan peperangan.
Tujuan mereka Gunung Semeru. Tempat itu dianggap paling aman untuk menyelamatkan diri dari kejaran Menak Jinggo beserta para prajurit Blambangan.
Namun, pelarian tersebut tidak berjalan mulus. Menak Jinggo terus mengejar, ke mana pun mereka pergi. Bahkan ketika sampai di suatu desa yang sempat dijadikan per singgahan Menak Koncar dan prajuritnya, dengan sangat kejam Menak Jinggo membakar habis desa tersebut. Di kemudian hari, desa itu diberi nama Kutorenon (berasal dari bahasa Madura atenon yang artinya terbakar').
Menak Koacar yang tengah menyelamatkan diri, akhir nya tiba di suatu desa. Di situ dia lihat para prajurit pengawal nya tanggung sangat sedikit) sehingga desa tersebut kemudian diberi nama desa Tanggung.
"Aku rela seandainya nanti gugur di tangan Menak Jinggo. Tetapi, aku tidak ingin harta kekayaan milik Majapahit yang tersimpan di Kadipaten Pajarakan, dan saat ini tengah kita bawa jatuh ke tangan prajurit Blambangan. Karena itu aku akan mengutus salah satu di antara kalian untuk me nyelamatkan harta kekayaan yang ada dalam gerobak kencana itu, kata Menak Koncar.
Akhirnya, A-lipati itu mengutus senapati wanita yang bernama Sindhu brorno untuk membawa gerobak kencana Dikawal oleh dua orang senapati pria bernama Lindubovo dan Tambakboj.).
Ketiga senapati itu menempuh arah yang berbeda dengan Menak Koncar dan sisa-sisa prajurit pengawalnya. Perjalanan ketiga orang itu akhirnya sampai di sebelah utara kota. Tepatnya di dua buah yumuk (bukit). Linduboyo dan Tambakboyo berhenti dan berjaga di kedua bukit itu, sedang kan Sindhubromo meneruskan perjalanan ke arah selatan. Karena tempat penjagaan kedua senapati itu memiliki celah di tengahnya, dan tampak seperti lawang (pintu), maka bukit tersebut diberi nama Mlawang
Sindhubromo yang membawa gerobak kencana yang berisi harta kekayaan, akhirnya tiba di sebuah gunung. Di kemudian hari, gurung tersebut diberi nama Gunung Grobogan.
Kembali kepada kepada Menak Koncar yang tengah melanjutkan pelariannya, akhirnya tiba di sebuah desa di saat fajar mulai terbit. Karena suasana sudah padang (terang) maka desa tersebut diberi nama desa Padang.
Perjalanan kembali diteruskan. Para prajurit itu berjalan beriringan di sepanjang tepi kali (sungai) sehingga tampak seperti semut. Dari situlah lahir nama desa Kali Semut.
Karena merasa lelah, Menak Koncar menyuruh prajurit nya untuk berhenti dan beristirahat di sebuah desa. Pada saat itu tampak embok-embok (ibu-ibu) yang tengah adang (menanak pasi) sehingga desa tersebut di kemudian hari diberi nama desa Bodang.
Usai melepas lelah, iring-iringan prajurit kembali berjalan hingga tiba di sebuah tempat yang datar. Di situ mereka memperbaiki perlengkapan dan mengatur pasukan. Tampak bahwa kondisi para prajurit itu sudah babak bandas (babak belur) sehingga tempat tersebut kemudian diberi nama desa Babakan.
Setelan selesai mengatur pasukan, para prajurit itu me lanjutkan perjalanan sampai di desa Kedawung, di kaki Gunung Semeru, Sayang sekali, sesampai di desa itu keadaan Menak Koncar semakin memburuk. Luka parah ditambah darah yang banyak mengalir keluar membuat nyawanya tidak ter selamatkan. Menak Koncar wafat dan dimakamkan di sana.
Perjuangan Menak Koncar, serta pelariannya hingga sampai di kaki Gunung Semeru, terdengar sampai di pusat Kerajaan Majapahit. Akhirnya, Kadipaten Pajarakan juga dikenal sebagai daerah lumajeng atau lumajar yang artinya.
Nama Lamajeng itu sendiri lama-kelamaan berubah menjadi Lumajang. Bahkan Kadipaten Pajarakan akhirnya diganti menjadi Kadipaten Lumajang dengan Pajarakan sebagai ibu kotanya.
Kesimpulan
Cerita ini tergolong legenda
Selain asal usul nama Lumajang, legenda ini juga mengisahkan asal usul nama Gunung Mlawang, Gunung Grobogan, desa Kutorenon, desa Tanggung (sangat sedikit). desa Padang (terang), Kali Semut, desa Bodang, dan desa Babakan.
Legenda ini memberi pelajaran kepada kita mengenai rasa cinta tanah air. Menak Koncar adalah contoh dari sosok yang mencintai tanah airnya sehingga rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk mempertahankan tanah tumpah darahnya.
Oleh : Nesia Anisa Yahya
Barda Mandarawata FDKI 21
Oleh:
Halimatus sa’diyah
ABSTRAK
Ontalan adalah sebuah tradisi masyarakat
kabupaten lumajang, jawa timur yang hingga kini masih dilestarikan. Tradisi ini
telah turun temurun selalu dilakukan pada saat acara lamaran(pertunangan) atau
pernikahan khususnya bagi masyarakat suku madura.
Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan bermaksud untuk
mengetahui pelaksanaan tradisi ontalan pada acara lamaran di desa sumber anyar,
dan juga apa makna dan manfaat yang terkandung dalam tradisi ontalan tersebut.
Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian jenis
kualitatif dengan pendekatan penelitian komparatif, yang pengumpulan data
diperoleh melalui wawancara, dan juga dengan mengumpulkan informasi dari pada
masyarakat yang berkaitan dengan masalah ini yakni kepada masyarakat sekitar
yang melakukan praktik tradisi Ontalan di Desa Sumber Anyar kecamatan
rowokangkung kabupaten lumajang.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi ontalan
pada upacara perkawinan adat Madura masih dipraktikkan oleh masyarakat hingga
pada saat ini.
Kata kunci : Tradisi,
Ontalan, lamaran (pertunangan).
A. PENDAHULUAN.
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman
budaya sebagai warisan dari nenek moyang. Aneka ragam budaya yang terdapat di
Indonesia merupakan kekayaan yang tidak mungkin dimiliki juga oleh negara lain.
Suatu adat kebiasaan atau hasil karya manusia yang dilakukan di daerah tertentu
sebagai warisan dari nenek moyang yang telah turun temurun dilakukan disebut
tradisi. Termasuk salah satunya adalah tradisi ontalan yang dilakukan masyarakat sumber anyar ketika melakukan
prosesi lamaran. Kata Ontalan berasal
dari bahasa Madura yang berarti melempar, yang dilakukan oleh sanak saudara dan
handai taulan ketika pengantin atau tunangan wanita datang ke rumah si pria.
Pasca keluarga pria menyambut kedatangan
rombongan keluarga wanita, dengan didahului dengan serah terima atau sambutan
dari kedua belah pihak dan terkadang juga ada ceramah agama dari alim ulama.
Setelah acara makan bersama kedua mempelai dipersilahkan untuk duduk berdua di
kursi depan rumah atau teras.
Secara universal pernikahan merupakan suatu
prilaku turun temurun sebagai sebuah sarana yang dipandang baik dan benar,
untuk melanjutkan proses regenerasi dan kesinambungan hidup dan kehidupan umat
manusia itu sendiri. Dalam Islam perkawinan adalah jalinan yang sangat suci dan
kuat antara laki-laki dan perempuan, yang diharapkan akan mampu menjalin sebuah
ikatan lahir-batin antara suami istri sebagai awal untuk menciptakan rumah
tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah yaitu keluarga bahagia dan diridhai
Allah SWT.
Menurut hukum adat, pernikahan ialah suatu
ikatan kelamin antara laki-laki dengan perempuan, yang membawa ikatan lebih
luas, yaitu antara kelompok kerabat laki-laki dan perempuan, bahkan masyarakat
yang satu dengan masyarakat yang lain. Ikatan yang terjadi ini ditentukan dan
diawasi oleh sistem norma yang berlaku di dalam masyarakat.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk pada jenis penelitian
kualitatif, dimana penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud
untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian
misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik
dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks
khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Dan juga
dengan mewawancarai beberapa narasumber, penulis dapat mendeskripsikan tentang
tradisi yang ada pada tempat yang diteliti.
C. ) HASIL PENELITIAN
1.) Tradisi Ontalan di
Desa Sumber Anyar
Tradisi Ontalan berasal dari kata ontal yang
artinya melontar atau melempar, ia merupakan saweran dalam
acara lamaran atau perkawinan dengan cara melempar uang kepada kedua mempelai
dikala mereka duduk bersandingan.
Salah satu tradisi yang dilakukan dan masuk
dalam serangkaian upacara lamaran atau pernikahan di desa sumber anyar adalah
tradisi ontalan. Tradisi Ontalan pada Acara
lamaran atau pernikahan di Desa Sumber Anyar Kabupaten Lumajang Jawa
Timur hinggga saat ini terjaga baik dan terus dilestarikan masyarakat setempat
sebagai tradisi dari para leluhur sekaligus sebagai budaya kearifan lokal.
Tradisi ini dilakukan oleh sanak saudara dan
handai taulan ketika pengantin atau tunangan wanita datang ke rumah si pria.
Sebelum ontalan tersebut dimulai, kedua mempelai dipersilahkan untuk duduk
berdua di kursi depan rumah atau teras. Kemudian di depan kedua mempelai
ditaruh sebuah nampan atau wadah. Pada saat itu semua kerabat dan handai taulan
dari keluarga pria memberikan uang secara bergantian dengan menaruh pada sebuah
wadah yang telah dipersiapkan. Bahkan
ada yang menghias uang lalu mengalungkannya pada si wanita.
Di
Sebagian daerah sebelum memulai tradisi ontalan mesti memanjatkan doa-doa
terlebih dahulu. Kemudian salah satu keluarga dari mempelai laki-laki memandu
tradisi tersebut seraya berteriak memanggil nama-nama keluarga mempelai
laki-laki berserta para sahabatnya dengan berkata “yo ayo ontalakin” (ayo ayo
lempar), “yo ayo chappurakin” (ayo ayo sawer), sambil memukul talam itu dengan
sendok, Setelah itu mereka meng-ontal uang-uang mereka dengan ucapan “Sakinah
mawaddah wa rohmah”, atau “ini buat beli shampoo dan sabun” dll. Uang yang
dilempar pun beragam, mulai dari dua ribu rupiah sampai ratusan ribu rupiah,
tidak ada batasan dan paksaaan, semua tergantung dari kesanggupan. Dari pihak
keluarga ada yang mencatat orang-orang yang meng-ontal beserta jumlahnya, namun
uang yang dicatat itu biasanya yang berjumlah diatas dua puluh lima ribu
rupiah.
Setelah
semua orang selesai melakukan Ontalan, uang tersebut dihitung ramai-ramai lalu
dibungkus dan diberikan pada mempelai wanita. Acara tersebut sangat unik, maka
bagi anda para wanita yang mendapatkan tunangan atau suami orang Lumajang.
Jangan kaget jika nanti disambut dengan tradisi Ontalan. Sehabis uang terkumpul
semua, pimimpin ontalan merapihkan uang kemudian diberikan kepada manten
perempuan atau orang tuanya. Di wilayahtertentu uang tersebut dianggap sebagai
uang belanja untuk membeli pakaian serta makanan maupun yang lain. Umumnya uang
itu diberikan dengan ucapan “ariyah kebelih shampoo” nih uang buat beli sampo.
Terdapat pula wilayahyang mengaggap bahwa uang hasil ontalan tersebut sekedar
membuat hati manten perempuan senang dan bahagia.
Setelah
ontalan berakhir ditutup dengan petuah dan nasehat dari keluarga pihak
laki-laki untuk kedua pengantin, nasehat itu berisi penyerahan, pemasrahan
anaknya untuk dibawa ke keluarga perempuan dan permintaan karena pengantin
perempuan itu in main ke tempat kediaman suaminya.
Bagi
daerah yang menjadikan ontalan itu adalah sebuah tradisi dari serangkaian
upacara perkawinan di daerahnya, maka ontalan menjadi penutup, artinya sudah
tidak ada lagi serangkaian dari upacara lamaran atau perkawinan yang harus
dijalankan.
Menurut salah satu masyarakat Desa Sumber
anyar Lumajang Jawa Timur, ibu sri,
acara ini tetap terus dilestarikan oleh masyarakat desa sumber anyar hingga
saat ini mengingat ini merupakan tradisi dari para leluhur dengan tujuan baik
agar sang pengantin mendapatkan berkah dari hasil pernikahan tersebut, “Acara
Ini acara Ontalan namanya, ya dengan tujuan agar mendapatkan berkah sehat,
menjadi keluarga Sakinah Mawadah Warahmah dan banyak rizkinya serta sebagai
tolak balak,"Jelasnya.
Gambar 1
Pada gambar diatas menunjukkan prosesi ontalam
saat lamaran.
2.) Makna dan Manfaat
Tradisi Ontalan
Sangat
penting sekali untuk mengetahui makna dan manfaat dari tradisi ontalan¸karena
tradisi ontalan itu sendiri memang mengakar dan sudah menjadi sebuah kebiasaan
yang melekat di Lumajang khususnya di Desa Sumber anyar ini. Tradisi ontalan
memiliki makna yang sangat dalam, termasuk diantaranya adalah silaturahmi
dengan menyatukan dua insan ke dalam hubungan keluarga.
Tradisi
ontalan ini sangat bermanfaat bagi pelakunya sendiri, baik dari segi sosial
maupun dari segi ekonomi.
a.) Manfaat sosial ontalan adalah untuk
menguatkan ikatan antar keluarga, simbol kekompakan dan kepedulian. Seluruh
keluarga akan berkumpul untuk turut menyemarakkan dan memberi restu kepada
pengantin dan juga sebagai kesepakatan tentang pernikahan mempelai laki-laki
dan perempuan. Bukan hanya keluarga, tradisi ontalan juga melibatkan
teman-teman pengantin laki-laki, yang dengan demikian membuat relasi sosial
semakin kokoh. Hal itu dipertegas oleh Bpak Ali selaku pelaku tradisi yang
menyatakan bahwa manfaat dari tradisi ontalan itu adalah sebagai ungkapan rasa
tolong-menolong dan kepedulian terhadap pengantin.
b.) Sedangkan manfaat ekonomi ontalan adalah
untuk membantu keluarga yang memiliki niat dan sebagai bekal hidup bagi
pasangan baru. Tujuan dari tradisi ontalan diharapkan agar sebuah keluarga
dapat menjadi keluarga yang Sakinah, mawaddah dan rahmah, juga diharapkan
hubungan dengan keluarga besarnya tetap terjalin dengan baik.
Menurut ibu nining, makna dari tradisi ontalan
adalah sebagai penghormatan kepada mempelai perempuan, juga sebagai pengakuan
bahwa keluarga laki-laki itu baik, karena di dalam tradisi tersebut, mempelai
perempuan secara tidak langsung diperkenalkan kepada keluarga besar mempelai
laki-laki. Namun ada juga yang mengadakan tradisi ontalan ini hanya untuk
kepentingan, uang yang didapat dari hasil ontalan ini digunakan untuk membayar
biaya resepsi, seperti kuadi, soundsystem, makanan dan lain sebagainya.
Lumajang kaya akan tradisi dan budaya yang sudah sepatutnya tidak hilang
oleh masa, oleh karena itu tradisi dan budaya di Lumajang harus senantiasa
dilestarikan. Tradisi Ontalan hanyalah salah satu dari sekian banyak tradisi di
Lumajang yang menggambarkan bahwa masyarakat lumajang sangat menjunjung tinggi
kebersamaan serta kepedulian yang mana hal tersebut juga menggabarkan citra
Islam.
D.) KESIMPULAN
Tradisi
ontalan adalah salah satu tradisi yang biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat
Lumajang pada saat upacara lamaran atau perkawinan, berbentuk sedekah yang
disakralkan menjadi sebuah tradisi. Yaitu sedekah dari keluarga pengantin
laki-laki kepada pengantin perempuan. Makna tradisi ontalan adalah sebagai
menyambung dan menjaga tali silaturahmi antara dua keluarga besar yakni
keluarga pengantin perempuan dan keluarga pengantin laki-laki. Adapun manfaat
dari tradisi ini ialah sebagai praktik tolong menolong dan kepedulian terhadap
pengantin serta membantu ekonomi pengantin untuk mengawali hidup sebagai
pasangan baru.







