Tuesday, August 18, 2020

CIKAL BAKAL BERDIRINYA PMII

 


Cikal bakal berdirinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yaitu bermula dari adanya hasrat kuat para mahasiswa nahdliyin untuk membentuk suatu wadah mahasiswa yang berhaluan aswaja. Hal tersebut tidak dapat terpisahkan dari eksistensi IPNU dan IPPNU. Lahirnya pmii bukannya berjalan mulus, banyak sekali rintangan dan hambatan. Hasrat mendirikan wadah mahasiswa NU sudah lama bergolak, tetapi NU belum menganggap perlu adanya organisasi tersendiri untuk mewadahi para mahasiswa NU yang belajar di perguruan tinggi. Di dalam IPNU-IPPNU sendiri pada waktu itu mayoritas yang ada di dalamnya adalah mahasiswa. Itulah sebabnya mereka mempunyai hasrat kuat untuk memiliki wadah tersendiri yang mampu menghimpun mahasiswa nahdliyin. Melihat hal tersebut kemauan anak-anak muda pada saat itu tidak pernah luntur, bahkan semain berkobar-kobar dari kampus ke kampus. Hal tersebut dapat dimengerti karena kondisi politik pada saat itu juga memungkinkan lahirnya organisasi baru. Pada saat itu bayak organisasi yang bermunculan dibawah naungan induknya, salah satunya yaitu HMI yang dekat dengan Masyumi, dan SEMI dengan PSII. Hal itu wajar jika anak-anak NU yang menuntut ilmu di perguruan tinggi ingin mempunyai wadah tersendiri di bawah naungan NU.

Usaha-usaha untuk mendirikan wadah tersendiri tersebut juga dapat dilihat dengan adanya kegiatan sekelompok mahasiswa NU yakni yang pertama, berdirinya IMANU (Ikatan Mahasiswa NU) pada bulan desember 1955. Tetapi kehadirannya tidak bisa diterima oleh bayak pihak, terutama oleh sesepuh NU. Karena IPNU pada saat itu masih baru didirikan yaki pada tanggal 24 februari 1954, sehingga dikhawatirkan akan melumpuhkan IPNU. Kedua, berdirinya KMNU (Keluarga Mahasiswa NU) di Surakarta pada tahun 1955. KMNU ini juga merupakan organisasi mahasiswa NU  yang mampu bertahan sampai lahirnya PMII pada tahun 1960. Ketiga, berdirinya PMNU (Persatuan Mahasiswa NU) dan masih banyak lagi di kota-kota lain yag perguruan tingginya memiliki gejala yang sama.

Pemikiran untuk mendirikan wadah khusus tersebut sempat terlontar pada muktamar II IPNU di Pekalongan Jawa Tengah  pada tanggal 1-5 jauari 1957. Tetapi gagasan tersebut ditolak karena dianggap akan menjadi pesaing bagi IPNU. Akhirnya pada muktamar III di Cirebon tanggal 27-31 desember 1958 dibentuk Departemen Perguruan Tinggi NU yang di ketuai oleh Ismail Makky. Namun langkah yang diambil oleh IPNU untuk menampung aspirasi mahasiswa nahdliyin dengan membentuk Departemen Perguruan Tinggi tidak berjalan seperti yang diharapkan, bayak ketimpangan-ketimpangan, dan hal tersebut juga dikarenakan cara berpikir mahasiswa dan pelajar itu jauh berbeda, dan dalam langkahnya mahasiswa nahdliyin tidak memiliki kebebasan karena selalu diawasi oleh PP IPNU. Akhirnya pada konferensi besar IPNU tanggal 14-17 maret 1960 di Kaliurang Yogyakarta memutuskan perlunya dibentuk wadah khusus untuk mahasiswa nahdliyin  yang terpisah secara structural maupun fungsional dari IPNU-IPPNU, serta lepas baik secara struktur organisatoris maupun administratif. Konbes di Kaliurang juga menghasilkan keputusan penunujukkan tim sponsor pendirian organisasi, yakni dibentuklah 13 orang panitia sebagai sponsor pendiri organisasi mahasiswa nahdliyin dengan batas waktu kerja satu bulan yang akan di laksanakan di Surabaya.

Sebelum melakukan musyawaroh terlebih dahulu 3 orang dari 13 sponsor yaitu sahabat Hisbullah Huda, Said Budairy, dan Makmun Syukri berangkat ke Jakarta pada tanggal 19 maret 1960 untuk sowan kepada ketua umum NU yaitu KH. DR. Idham Khalid  untuk meminta ijin dan meminta nasehat. Kemudian pada tanggal 24 maret 1960 mereka bertemu dengan ketua PBNU. Dalam pertemuan tersebut selain meberikan nasehat sebagai landasan pokok dalam musyawarah beliau juga menekankan hendaknya organisasi yang akan dibentuk itu benar-benar dapat diandalkan sebagai kader partai NU serta menjadi mahasiswa yang berprinsip ilmu untuk diamalkan bagi kepentingan rakyat, bukan ilmu untuk ilmu.

Akhirnya diadakan musyawarah mahasiswa nahdliyin bertempat di gedung mu’allimin NU Wonokromo Surabaya dimulai tanggal 14-16 april 1960, dan terbentuklah organisasi PMII (Pergerakan Mahasisa Islam Indonesia). Sedangkan peraturan dasar PMII dinyatakan berlaku mulai 21 syawal 1379 hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 17 april 1960, dan pada tanggal itu pula ditetapkannya sebagai hari lahir PMII yang kita peringati setiap tahunnya. Musyawarah tersebut juga memutuskan ditetapkanya 3 orang formatur yakni ketua umum H. Mahbub Djunaidi, A. Chalid Mawardi sebagai ketua satu, dan M. Said Budairy sebagai sekertaris jendral.

Salah satu momen sejarah PMII yang membawa sebuah revolusi besar dalam perjalanannya yakni dicetuskannya “Independensi PMII” pada tanggal 14 juli 1972 di Murnajati, Lawang, Malang, Jatim. Yang sampai saat ini kita kenal dengan Deklarasi Murnajati. Lahirnya deklarasi ini karena keadaan politik nasional pada saat itu, peran partai politik mulai dikebiri dan mulai dihapuskan, dan ditambah lagi pada saat itu mahasiswa dgiring dengan komando back to campus. Keterlibatan PMII dalam politik praktis pada tahun 1971 sangat merugikan bagi PMII sendiri. Oleh karena itu PMII mengambil sikap dengan mencetuskan deklarasi ini, yag menyatakan berpisahnya PMII secara struktutal dari partai NU. Keputusan tersebut kemudian diperkuat dengan manifesto independensi yang dihasilkan di kongres V PMII tepatnya di Ciloto Bandung.

PMII dalam perjalannnya tidak terlepas dari peran NU, hingga kemudian menyatakan independen pada tahun 1972. Disisi lain PMII dan NU memiliki persamaan-persamaan baik dalam persepsi keagamaan dan perjuangan, visi sosial dan kemasyarakatan, serta ikatan historis. Maka akhirnya PMII mencetuskan deklarasi “interdependensi” yakni untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan NU, juga untuk menghilangkan keraguan dan saling curiga dan sebaliknya untuk menjalin kerjasama, baik melalui program nyata maupun persiapan sumber daya manusia, tanpa ada interfensi baik secara structural maupun kelembagaan. Deklarasi ini dicetuskan dalam kongres X PMII tanggal 27 oktober 1991 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

No comments:

Post a Comment

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM