Wednesday, November 30, 2022

Pahlawan Inspirasi yang Sesungguhnya


Oleh: Nesia Anisa Yahya

Beberapa tahun yang lalu, entah kapan, aku tak mengingatnya. Lahirlah aku dari rahim malaikat cantik yang kala itu ditemani lelaki tampan tersenyum lega berucap hamdalah. Alhamdulillah. Pecah tangisku, dan semua orang di ruang itu tersenyum syukur. Perawat membersihkanku kemudian membedongku dengan kain hangat. Berjalan ia menuju lelaki tampan yang kemudian ku dengar suara Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Suara tenang dan menenangkan. Tak lama ku dengar suara lembut dan tenang menenangkan kedua kalinya menyapa.

“Sayang.. anak gantengnya Ummah.”

Ternyata, suara malaikat cantik itu yang kudengar. Dari perutnyalah aku lahir. Tangah lembut menyentuh, degup jantung dan hangat peluk kurasakan. Ia menyebut dirinya. Ummah.

Kurasakan seisi ruang berbahagia, namun beberapa orang berbisik di sudut ruang. Malaikat cantik yang tengah dipeluk lelaki tampan, dengan tangannya yang mendekapku melirik penasaran, kemudian menetapku lagi. Tak mempedulikan mereka. Adapakah gerangan? Ah! Sudahlah. Ini hari bahagia tak perlu dikotori dengan kekhawatiran.

Inilah dunia, tempat dimana aku hidup dengan belaian malaikat selalu, tempatku mendengarkan alunan suara merdu dan ricuh gaduh, tempatku melihat keindahan dan kesuraman, tempat merasakan kokoh dan renyahnya kehidupan.

###

“Selamat Ulang Tahun yang ke 15 tahun, Azal anakku.” Ucap Ummah membelai kepalaku, selepas menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun.

Aku tersenyum bertepuk tangan. Teman – teman baruku dari Sekolah Luar Biasa bersorak gembira, beberapa lainnya mengekspresikan dengan berlarian, menarik baju ibu – ibu mereka, selebihnya hanya tersenyum tak berucap. Aku cukup gembira, bertepuk tangan tenang. 

“Dilanjutkan acara memotong kue, dan silahkan ananda Azal untuk memberikan suapan pertama kepada Ummahnya.” MC berucap mengarahkan. 

Potong kuenya.. potong kuenya..

Potong kuenya sekrang juga..

Sekarang juga.. sekarang juga..

Aku menoleh pada Ummah yang berada di samping belakangku. Ummah tersenyum, meraih tangan kananku yang sedari tadi dan seterusnya memutar-mutar, mengepal, sedikit memukul antara sesama.

Menggenggamkan pisau kue lalu ngengarah pada kue dihadapanku. Pisau tepat mengenai atas kue.

Perlahan tanganku menekan, membelah. Tetap tenang, tak ada tanda – tanda tubuhku menggeram.

Tak menghitung detik, tiba – tiba saja..

Bruuukkk..

Kue di depanku hancur, tak berbentuk, beberapa tercecer di lantai. Tangan kiriku menyambar kue, sementara tangan kananku mengarah pada Ummah. 

Plaakkk..

Pisau kue menampar muka Ummah. Tanpa kusadari, terjadi tanpa rencana. Aku mengamuk, berontak tak kendali. Mengacak – ngacak semua di depanku, menarik kerudung Ummah, mencencengkramnya. Ummah berusaha memelukku agar tenang, sekali lagi berusaha menggenggam kedua tanganku agar aman. 

“Waaa.. aaaa.. wawaaaa..” Suaraku kencang, menakuti beberapa teman – teman baruku. 

Selepas dari kue dan Ummah. Ke-dua tanganku mendarat pada kepalaku dengan keras.

Buuukkk.. Buuukk.. Buuukk.. Buukkk..

Berulang – ulang memukul kepala tak kendali, tak henti.

“Wawaaaa.. huwaaa.. aaaa.. aaaa..” hanya itu yang ku ucap berkali – kali.

Beberapa teman – temanku pergi meninggalkan ruangan acara, beberapa lainnya memeluk erat ibu mereka, ada juga yang hanya diam tak bergeming. Di hari special yang telah disiapkan Ummah sejak dini hari, kue indah yang menghiasi, hancur, terbuang begitu saja.

“Langsung saja dibagikan bingkisannya untuk anak – anak.” Perintah Ummah sambil tetap berusaha memelukku.

“Baik, Ummah Azal.” Bergegas MC segera membagi satu persatu bingkisan untuk anak – anak dengan dibantu salah satu ibu – ibu.

Ummah berhasil. Aku tenang, dengan tetap menggerak – gerakkan tangan. Acara sudah tak sekondusif awal tadi. Aku menunjuk kue yang tersisah. Ummah mengambilnya sedikit, menyuapkan perlahan ke mulutku.

“Aaaa..” Ummah mencontohkan membuka mulutnya.

“Aaaaaaaaaaaaa...” Aku menirukan, membuka mulutku lebar – lebar.

“Gimana, sayang? Rasa kuenya enak?” Tanya Ummah sambil mengacungkan jempol memeberi

isyarat.

“Nyam.. Nyamm..” Aku mengangguk sambil terus menatap binar mata Ummah.

Sambil tetap mengunyah, aku memeluk Ummah. Ini insiden diluar kendaliku, karena kerusakan syarafku yang membuat ini semua terjadi. Lamat – lamat, ku rasakan, kudengar. rasa ini, suara degup ini, selalu. Pelukan yang tetap dan akan selamanya hangat menenangkan seperti awal hadirnya aku di dunia ini.

“Baiklah, untuk anak – anak dan seluruh yang hadir disini, saya mengucapkan banyak terima kasih, karena telah berkenan menghadiri acara ulang tahun Azal yang ke-15 tahun. Semoga semuanya yang hadir disini selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamin. Dan kami mohon maaf atas kekurangan dan ketidak nyamanan selama acara berlangsung.” Ummah tersenyum tulus.

Ya! Sampai sini kalian pasti tau, bahwa penyakit Autism spectrum disorder (ASD) atau yang lebih sering disebut autisme bersarang di tubuhku, entah sejak kapan, aku tak menyadari. Sejak lahir mungkin? 

Aku hidup berdua dengan Ummah, hanya berdua. Dimana lelaki tampan yang mengucapkan lafadz tenang menenangkan saat kelahiranku? Pergi! Dia pergi dengan perempuan lain yang bukan malaikat setelah mengetahui bahwa aku tak normal, tak sama dengan anak pada umumnya. Terlambat berbicara, terlambat perkembangan otak, selalu menggerak – gerakkan tangan tak jelas, mengamuk agresif tak kendali, dan itu berlaku untuk seumur hidupku. Tak ada penangkal, tak ada obat. 

Tetapi penyakit ini tak membuatku mati rasa. Aku tetap merasakan kasih sayang, bahkan kebencian. Kebencian seorang lelaki itu,yang ku sebut tampan. Memang dia tampan, tetapi hati tak setampan paras. 

Kala itu. Saat aku mulai bisa berjalan, lelaki tampan memaksa Ummah untuk membuangku, bahkan ia hampir merenggut nyawaku, membalut tubuhku dengan tali erat, kemudian melulumuri dan menumpahkan bensin. Dengan tegas dan perlawanan sekuat mungkin, Ummah menentang dan menyelamatkanku. Aku yang tak mengerti apapun hanya terdiam. Sesekali memukul – mukul marah.

Sampai pada akhirnya lelaki itu tak pernah kembali ke rumah. Kabar yang Ummah dapat, ia sudah mempunyai buah hati dengan perempuan baru dan membeli rumah mewah di kota tetangga. Ummah tak peduli dan lebih memilih tinggal bersamaku disini. Bermain bersamaku.

Ummah bukan hanya malaikat cantik tapi ia juga kuat. Sampai saat ini aku tak pernah melihatnya mengeluh menghadapi keagresifku, membimbing keterlambatan perkembangan otakku, dan menuntun pertumbuhan tubuhku. Hanya ketika sholat, ku lihat ia berulang kali menyeka air mata. Aku bingung, harus mensyukuri ataukah menyesali hidupku di dunia ini?

Namun, aku harus berterimakasih padaMu dan malaikat cantik tak bersayap yang Kau utus untukku.

Karenanya aku terus terinspirasi untuk tetap hidup.

Terima kasih.

Ummah, pahlawan tanpa tanda jasa.


No comments:

Post a Comment

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM