Beberapa tahun yang
lalu, entah kapan, aku tak mengingatnya. Lahirlah aku dari rahim malaikat
cantik yang kala itu ditemani lelaki tampan tersenyum lega berucap hamdalah.
Alhamdulillah. Pecah tangisku, dan semua orang di ruang itu tersenyum syukur.
Perawat membersihkanku kemudian membedongku dengan kain hangat. Berjalan ia
menuju lelaki tampan yang kemudian ku dengar suara Allahu Akbar.. Allahu
Akbar.. Suara tenang dan menenangkan. Tak lama ku dengar suara lembut dan
tenang menenangkan kedua kalinya menyapa.
“Sayang..
anak gantengnya Ummah.”
Ternyata, suara
malaikat cantik itu yang kudengar. Dari perutnyalah aku lahir. Tangah lembut
menyentuh, degup jantung dan hangat peluk kurasakan. Ia menyebut dirinya.
Ummah.
Kurasakan seisi
ruang berbahagia, namun beberapa orang berbisik di sudut ruang. Malaikat cantik
yang tengah dipeluk lelaki tampan, dengan tangannya yang mendekapku melirik
penasaran, kemudian menetapku lagi. Tak mempedulikan mereka. Adapakah gerangan?
Ah! Sudahlah. Ini hari bahagia tak perlu dikotori dengan kekhawatiran.
Inilah dunia,
tempat dimana aku hidup dengan belaian malaikat selalu, tempatku mendengarkan
alunan suara merdu dan ricuh gaduh, tempatku melihat keindahan dan kesuraman,
tempat merasakan kokoh dan renyahnya kehidupan.
###
“Selamat Ulang
Tahun yang ke 15 tahun, Azal anakku.” Ucap Ummah membelai kepalaku, selepas
menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun.
Aku tersenyum
bertepuk tangan. Teman – teman baruku dari Sekolah Luar Biasa bersorak gembira,
beberapa lainnya mengekspresikan dengan berlarian, menarik baju ibu – ibu
mereka, selebihnya hanya tersenyum tak berucap. Aku cukup gembira, bertepuk
tangan tenang.
“Dilanjutkan acara
memotong kue, dan silahkan ananda Azal untuk memberikan suapan pertama kepada
Ummahnya.” MC berucap mengarahkan.
Potong kuenya.. potong kuenya..
Potong kuenya sekrang juga..
Sekarang juga.. sekarang juga..
Aku menoleh pada
Ummah yang berada di samping belakangku. Ummah tersenyum, meraih tangan kananku
yang sedari tadi dan seterusnya memutar-mutar, mengepal, sedikit memukul antara
sesama.
Menggenggamkan
pisau kue lalu ngengarah pada kue dihadapanku. Pisau tepat mengenai atas kue.
Perlahan tanganku menekan, membelah. Tetap
tenang, tak ada tanda – tanda tubuhku menggeram.
Tak
menghitung detik, tiba – tiba saja..
Bruuukkk..
Kue di depanku
hancur, tak berbentuk, beberapa tercecer di lantai. Tangan kiriku menyambar
kue, sementara tangan kananku mengarah pada Ummah.
Plaakkk..
Pisau
kue menampar muka Ummah. Tanpa kusadari, terjadi tanpa rencana. Aku mengamuk,
berontak tak kendali. Mengacak – ngacak semua di depanku, menarik kerudung
Ummah, mencencengkramnya. Ummah berusaha memelukku agar tenang, sekali lagi
berusaha menggenggam kedua tanganku agar aman.
“Waaa..
aaaa.. wawaaaa..” Suaraku kencang, menakuti beberapa teman – teman baruku.
Selepas
dari kue dan Ummah. Ke-dua tanganku mendarat pada kepalaku dengan keras.
Buuukkk.. Buuukk.. Buuukk.. Buukkk..
Berulang –
ulang memukul kepala tak kendali, tak henti.
“Wawaaaa..
huwaaa.. aaaa.. aaaa..” hanya itu yang ku ucap berkali – kali.
Beberapa teman –
temanku pergi meninggalkan ruangan acara, beberapa lainnya memeluk erat ibu
mereka, ada juga yang hanya diam tak bergeming. Di hari special yang telah
disiapkan Ummah sejak dini hari, kue indah yang menghiasi, hancur, terbuang
begitu saja.
“Langsung saja
dibagikan bingkisannya untuk anak – anak.” Perintah Ummah sambil tetap berusaha
memelukku.
“Baik, Ummah Azal.”
Bergegas MC segera membagi satu persatu bingkisan untuk anak – anak dengan
dibantu salah satu ibu – ibu.
Ummah berhasil. Aku
tenang, dengan tetap menggerak – gerakkan tangan. Acara sudah tak sekondusif
awal tadi. Aku menunjuk kue yang tersisah. Ummah mengambilnya sedikit,
menyuapkan perlahan ke mulutku.
“Aaaa..”
Ummah mencontohkan membuka mulutnya.
“Aaaaaaaaaaaaa...” Aku menirukan, membuka mulutku lebar – lebar.
“Gimana, sayang? Rasa kuenya enak?” Tanya Ummah
sambil mengacungkan jempol memeberi
isyarat.
“Nyam..
Nyamm..” Aku mengangguk sambil terus menatap binar mata Ummah.
Sambil tetap
mengunyah, aku memeluk Ummah. Ini insiden diluar kendaliku, karena kerusakan
syarafku yang membuat ini semua terjadi. Lamat – lamat, ku rasakan, kudengar.
rasa ini, suara degup ini, selalu. Pelukan yang tetap dan akan selamanya hangat
menenangkan seperti awal hadirnya aku di dunia ini.
“Baiklah,
untuk anak – anak dan seluruh yang hadir disini, saya mengucapkan banyak terima
kasih, karena telah berkenan menghadiri acara ulang tahun Azal yang ke-15
tahun. Semoga semuanya yang hadir disini selalu sehat dan selalu dalam
lindungan Allah SWT. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamin. Dan kami mohon maaf atas
kekurangan dan ketidak nyamanan selama acara berlangsung.” Ummah tersenyum
tulus.
Ya! Sampai sini kalian
pasti tau, bahwa penyakit Autism spectrum disorder (ASD) atau yang lebih sering
disebut autisme bersarang di tubuhku, entah sejak kapan, aku tak menyadari.
Sejak lahir mungkin?
Aku hidup berdua
dengan Ummah, hanya berdua. Dimana lelaki tampan yang mengucapkan lafadz tenang
menenangkan saat kelahiranku? Pergi! Dia pergi dengan perempuan lain yang bukan
malaikat setelah mengetahui bahwa aku tak normal, tak sama dengan anak pada
umumnya. Terlambat berbicara, terlambat perkembangan otak, selalu menggerak –
gerakkan tangan tak jelas, mengamuk agresif tak kendali, dan itu berlaku untuk
seumur hidupku. Tak ada penangkal, tak ada obat.
Tetapi penyakit ini
tak membuatku mati rasa. Aku tetap merasakan kasih sayang, bahkan kebencian.
Kebencian seorang lelaki itu,yang ku sebut tampan. Memang dia tampan, tetapi
hati tak setampan paras.
Kala itu. Saat aku
mulai bisa berjalan, lelaki tampan memaksa Ummah untuk membuangku, bahkan ia
hampir merenggut nyawaku, membalut tubuhku dengan tali erat, kemudian
melulumuri dan menumpahkan bensin. Dengan tegas dan perlawanan sekuat mungkin,
Ummah menentang dan menyelamatkanku. Aku yang tak mengerti apapun hanya
terdiam. Sesekali memukul – mukul marah.
Sampai pada
akhirnya lelaki itu tak pernah kembali ke rumah. Kabar yang Ummah dapat, ia
sudah mempunyai buah hati dengan perempuan baru dan membeli rumah mewah di kota
tetangga. Ummah tak peduli dan lebih memilih tinggal bersamaku disini. Bermain
bersamaku.
Ummah bukan hanya
malaikat cantik tapi ia juga kuat. Sampai saat ini aku tak pernah melihatnya
mengeluh menghadapi keagresifku, membimbing keterlambatan perkembangan otakku,
dan menuntun pertumbuhan tubuhku. Hanya ketika sholat, ku lihat ia berulang
kali menyeka air mata. Aku bingung, harus mensyukuri ataukah menyesali hidupku
di dunia ini?
Namun, aku harus berterimakasih padaMu dan
malaikat cantik tak bersayap yang Kau utus untukku.
Karenanya
aku terus terinspirasi untuk tetap hidup.
Terima
kasih.
Ummah, pahlawan tanpa tanda jasa.

No comments:
Post a Comment