Dewi adalah seorang siswi kelas 2 di salah satu sekolah negeri di Lumajang. Tidaklah penting dia dari SMP mana, karena ada hal lain yang lebih penting. Dia salah satu siswi berprestasi di sekolahnya, namun anehnya dia tidak mau untuk meneruskan jenjang pendidikannya lebih lanjut. Dia mengira bahwa setinngi apapun pendidikannya, pada akhirnya seorang perempuan akan kembali ke dapur, menjadi ibu rumah tangga dan lain sebagainya. Dalam artian perempuan tidak bisa mengambil peran tertentu dalam kehidupan, terutama dalam masyarakat.
Tidak sedikit orang berasumsi bahwa perempuan suatu saat hanya akan menjadi ibu rumah tangga, seperti yang dikatakan Dewi. Sampai sekarang pun masih ada pemikiran seperti, hal tersebut bisa kita lihat di setiap daerah masih ada perempuan yang masih ragu untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Seolah-olah mereka tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berperan dalam kehidupan, sehingga hanya laki-laki yang bisa mengambil peran tersebut.
Keadaan masyarakat yang masih belum tahu atau menutup mata tentang hak-hak kaum perempuan. Banyak ditemui dalam masyarakat stigma bahwa perempuan hanya dianggap sebagai pelengkap keluarga dan masyarakat. Dalam artian perempuan tidak mempunyai peran berarti dan dianggap sebagai kaum yang lemah. Peran perempuan sering dinomorduakan, dipandang sebelah mata dan tidak jarang malah terabaikan.
Sebagian perempuan mengalami hambatan, bahkan celaan harian lingkungan. Sebagai perempuan, sekadar membuat pillihan merupakan tantangan. Perempuan kerap didera perasaan bersalah, walaupun memiliki tujuan mulia. Tidak sedikit perempuan yang cemas dengan potensinya sendiri bahkan berasumsi dirinya lebih rendah. Terkadang ambisi yang dimiliki seolah sebuah antitesis sebuah tradisi. Ketika perempuan berupaya mendapatkan posisi diasumsikan sebagai egois pada diri sendiri. Bagi perempuan yang unjuk diri dijadikan pertanda untuk dihindari.
Namun pemikiran tersebut bisa terbantahkan, karena perempuan saat ini mulai berorientasi global, selalu aktif dan menjadi perempuan yang bisa hidup mandiri. Banyak realita yang bisa kita lihat, perempuan menjadi tulang punggung keluarga, pengambil kebijakan penting di berbagai instansi, bahkan pendapatannya melebihi suami sebagai kepala rumah tangga. Zaman sudah berevolusi, jika pada masa R.A Kartini perempuan hanya terbatas dapur, sumur dan kasur. Saat ini perempuan menjelma menjadi sosok yang diperhatikan keberadaannya. Sudah banyak yang menjabat diberbagai posisi penting di negara dan perusahaan-perusahaan penting. Akan tetapi semua itu tidak mengubah kodrat perempuan sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya dan istri bagi suaminya.
Tidak dapat terbantahkan memang adagium “Apabila baik perempuannya maka baiklah negara tersebut”. Ini menunjukkan besarnya pengaruh perempuan dalam maju mundurnya suatu negara. Tinggal bagaimana negara memfungsikan peran perempuan di berbagai bidang kehidupan, dengan membuka lebar semua sektor kehidupan untuk dinikmati dan diakses oleh perempuan dan menjamin keamanan serta kenyamanan bagi warganya terutama perempuan.
Perempuan bisa ikut andil dalam optimalisasi dalam pembangunan sebuah bangsa. Perempuan bisa menjadi aktor strategis di dalam pembangunan. Tidak hanya pembangunan di desa-desa, tetapi juga pembangunan secara nasional yang dapat mengubah kehidupan masyarakat Indonesia lebih baik dan sejahtera.
Sebagai penutup, dapat ditegaskan bahwa perempuan multiperan. Semua datang dengan tuntutan. Tidak ada satupun perempuan yang bingung tentang peran. Di masa kini perempuan dapat bekerja dalam berbagai bentuk aktivitas yang bervariasi. Dalam artian, perempuan memberikan kontribusi untuk negeri ini. Jangan sampai diderap perasaan bersalah akibat dukungan lingkungan dan kebijakan yang bersifat kontra dengan kontribusi diri. Teruslah maju perempuan, hilangkan keraguan, teruslah berperan untuk mencapai peradaban yang lebih mapan.

No comments:
Post a Comment