Kita selalu punya keresahan, majas-majas sinisme hadir untuk menyadarkan sesorang dengan pelan-pelan.
Sarkasme akan selalu ada. Tapi mau bagaimana? Jika kamu adalah seseorang yang terlahir dari banyak nama instansi dan telah berkali-kali terbentuk oleh training atau sebuah kaderisasi yang bukan orang biasa.
Kemudian ada manusia yang baru mengenal apa itu bentuk pergerakan kemudian mencoba memperkosa wadah itu untuk memenuhi eksistensinya sendiri. Apakah kamu sanggup melindungi instansimu? Atau justru. Kau malah tidak kuat, bahkan tidak sanggup? Lalu memilih untuk melepaskan semua atribut karena malu menggunakannya lagi sebagai lambang kebanggaan.
Retorika sebagai acuan untuk menyembunyikan hakikat pemikiran, tanpa berlandaskan ideologi yang pasti hasil bercocok tanam sendiri. Mungkin ini hasil dari era 4.0 revolusi teknologi? sehingga sangat mudah untuk generasi bangsa memetik buah tanpa dengan usaha.
Sungguh miris pengetahuan di era saat ini, dimana teknologi yang seharusnya kita manfaatkan untuk mengembangkan logika, namun hanya sebatas rekayasa semata.
Mudah, mulus, dan tanpa beban, sehingga banyak pengetahuan pengetahuan yang didapatkan secara instan, namun mudah sekali pemikiran itu dipatahkan dan bahkan akan menjadi senjata makan tuan.
Selamat menunaikan ibadah instan yang tanpa ada otak pembuka perubahan, sehingga menghasilkan pembenaran tanpa kepastian yang berkedok landasan tak bertuan.
QUO VIDAS.....?
No comments:
Post a Comment