Mahasiswa
adalah Seorang yang tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas, sekolah
tinggi, hingga akademi. Bagi sebagian orang, status mahasiswa merupakan
status tertinggi dan dianggap sebagai seorang yang intelek. Bahkan, di suatu
tempat tertentu, mahasiswa akan selalu dielu-elukan untuk menjadi agen
perubahan negara dan bangsa ini.
Mahasiswa sendiri
memiliki peran tersendiri di masyarakat. Adapun three agent Mahasiswa yaitu,
Agent of change, agent of sosial, agent of control. Dalam perannya sendiri
mahasiswa diharapkan dapat membawa perubahan yang harus berdiri di barisan
paling depan untuk menggerakkan perubahan ke arah lebih baik. Melalui kacamata
mahasiswa yang masih netral, mereka bisa melihat kesalahan-kesalahan yang
dilakukan di negaranya.
Sedangkan agent sosial
sendiri, mahasiswa diharapkan dapat bisa terjun langsung ke masyarakat yang
dapat melakukan suatu perubahan. Agent of control sendiri artinya Mahasiswa
berfungsi untuk melakukan kontrol kepada hal-hal yang bertentangan dengan nilai
keadilan di masyarakat. Cara yang dilakukan adalah dengan memberikan saran,
kritik, serta solusi untuk permasalahan sosial di masyarakat maupun bangsa.
Sebagai kaum akademis dengan intelektual yang tinggi, mahasiswa diharapkan
dapat menjadi jembatan bagi masyarakat untuk melawan perlakuan birokrasi yang
salah.
Namun di era
sekarang banyak diantara mahasiswa-mahasiswa yang tidak sesuai dengan three
agent. Bagaimana
dengan mahasiswa jaman sekarang yang katanya “agent of change”?. Menurut saya,
kondisi mahasiswa saat ini sangat jauh dengan kondisi mahasiswa jaman dahulu.
Mungkin disebabkan mahasiswa sekarang sudah terjerumus dengan kondisi
perkembangan arus budaya tanpa selektif untuk memilahnya terlebih dahulu.
Sosial media merupakan kebutuhan primer mahasiswa jaman now. Era keterbukaan
informasi membuat tiap generasi millenial tidak dapat jauh dengan gadget
pribadinya. Namun, hal ini lah yang membuat lemahnya ciri khas mahasiswa yang
kritis, idealis, dan akademis dalam kehidupan masyarakat.
Mahasiswa sekarang hanya bisa
mengkritisi tanpa memberi solusi serta menjadikan aksi demonstrasi sebagai gaya
semata tanpa mengambil esensi yang tersirat. Sosial media hanya dijadikan
topeng dibalik suara dan teriakan yang diberikan. Aktif mengkritisi melalui
sosial media untuk mendapatakan pengakuan dan apresiasi tapi, pada faktanya
apatis di dunia nyata. Lalu, inikah fungsi dari ketersediaan teknologi yang
canggih bagi mahasiswa? Harapan untuk meningkatkan kualitas tetapi berbalik
arah menjadi menurunkan kualitas. Mahasiswa yang dulunya dianggap sebagai
akademisi yang memiliki pendidikan lebih, nyatanya belajar hanyalah sebuah
ajang formalitas dan titip absen adalah sebuah identitas.
Seruan jargon yang sudah tidak asing lagi didengar oleh
seluruh mahasiswa Indonesia, “HIDUP MAHASIWA!” hanyalah sebuah seruan fana
tanpa memahami dan memaknai apa arti mahasiswa sesungguhnya. Mahasiswa kini
berulang kali menyuarakan namun tidak berbuat apa-apa. Hilangnya
idealisme mahasiswa dan dukungan masyarakat membuat mahasiswa seperti
kehilangan arah. Momentum-momentum seperti reformasi pun menjadi kehilangan
jiwanya. Reformasi dan mahasiswa seperti berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada
yang mengawal reformasi, sehingga reformasi seperti kehilangan arah dan
kebablasan.
Mahasiswa saat ini seakan lupa siapa dirinya dan untuk
apa mereka dikuliahkan. Kaum minoritas berintelektual ini sebenarnya merupakan
tulang punggung pembangun bangsa dan negara menuju perubahan yang lebih baik.
Sedikit kita melihat sejarah perubahan bangsa, dimana motor penggerak utamanya
adalah mahasiswa seperti kemerdekaan Indonesia yang tidak lepas dari peranan
kaum muda dan mahasiswa, peralihan orde lama ke orde baru dan yang terakhir
adalah reformasi 1998 yang meruntuhkan orde baru. Mahasiswa
jaman sekarang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan melupakan tanggung
jawab diri sebagai mahasiswa yang seharusnya. Julukan agent of change telah
berubah menjadi agent of instagram bagi mahasiswa saat ini. Harapan
terus mengalir terhadap mahasiswa agar kembali menjadi agen-agen perubahan
untuk negara seperti mahasiswa dahulu kala. Mahasiswa yang berani menunjukkan
aksi nyata tanpa embel-embel popularitas.
Indonesia bukan hanya butuh orang-orang akademis tetapi tidak memberikan kontribusi terhadap negara. Mahasiswa kini dituntut agar mampu dalam sisi akademis maupun non akademis. Indonesia butuh penggerak untuk menuju tujuan nasionalnya dari pemudanya. Mahasiswa yang seharusnya menjawab tantangan-tantangan bangsa ini. Mahasiswa memang bukan pekerja sosial. Tetapi mahasiswa harus mampu menunjukkan bahwa mereka adalah agen yang siap menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, dan siap memberikan gagasan cerah dengan sikap optimisnya pada saat menghadapi suatu persoalan
Oleh : Ainin Dita Ayu Arrohmi

No comments:
Post a Comment