Oleh: Sahabat Amarul
![]() |
| Sahabat Amarul |
Korelasi aswaja dengan idiologis kapitalis. Belakangan ini
orang-orang banyak menganut gaya hidup kapitalis, dimana mereka lebih
berorientasi memperkaya diri sendiri dan tidak memperdulikan orang lain.
Tentunya itu sangat bertentangan dengan faham aswaja dimana lebih identik
dengan faham sosialis. Ada ulama’ aswaja pernah mengatakan bahwasanya orang
masuk surga itu tidak sendirian melainkan secara berbondong-bondong atau
berjama’ah seperti halnya sholat lebih utama daripada sendirian. sedangkan
kapitalis sendiri condong ke mementingkan dirinya sendiri, selagi ia masih
punya modal untuk mengembangkan usahanya maka dia tidak butuh orang lain. Dan
ia seakan-akan menolak bahwasanya dirinya adalah makhluk sosial.
Kalau kita lihat
dari segi sejarah bahwasanya kapitalisme lahir ketika sistem feodalisme sudah
benar-benar mengekang perkembangan produksi manusia. Pada saat itu timbul
golongan baru yaitu borjuis, mereka
menguasai sistem perdagangan dan pertukangan. Mereka bersaing satu sama
lain untuk mendapatkan keuntungan. Mereka membangun industry walaupun masih
sangat sederhana untuk mengembangkan produksi mereka. Sistem feodalisme
berbasiskan last but least kalah dengan
sistem kapitalis yang menggunakan basis manufaktur pabrik.
Dalam sistem
kapitaslisme perkembangan teknologi sangat dibutuhkan untuk memproduksi
mesin-mesin, kemajuan sains sangat diperlukan. Oleh karena itu sifat
kapitalisme adalah ekpansif, maka ia harus bersaing untuk mengembangkan
teknologinya. Mereka yang tidak mempunyai inovasi akan tergerus. Inilah yang
membuat kapitalisme berkembang daripada feodalisme yang cenderung kaku dan
konservatif dimana posisi seorang raja ditentukan melalui keturunan. Maka kaum
borjuis memerlukan Negara republic demokrasi. Sebagai jalannya sistem kapitalis
maka revolusi harus dikobarkan. Sebagai dukungan, mereka menumpang rakyat
jelata yang saat itu tertindas untuk menumbangkan rezim feodalisme.
Seiring dengan
berkembangnya sistem kapitalisme yang membuat manusia lebih produktif. Namun semakin
berkembangnya teknologi jurang antara yang punya dan yang tidak punya semakin
meningkat. Inilah kekonyolan sistem kapitalisme itu dimana mereka tidak peduli
dengan sifat kemanusiaan sehingga merekapun menindas rakyat jelata. Melalui
pola pikir bagaimana ia mengeluarkan modal dan mendapatkan keuntungan
sebesar-besarnya, inilah yang membuat sistem kapitalis merupakan sistem yang
kejam.
Bisa kita sadari
bahwasanya secara tidak langsung pada era 4.0 saat ini banyak orang-orang yang melancarkan sistem kapitalisme itu
sendiri. Terutama bagi seorang wanita dimana mereka telah tereksploitasi
tubuhnya dengan produk kapitalis. Penindasan terhadap perempuan bukan hanya
melalui fisik melainkan berupa penindasan budaya berupa produk-produk
kapitalisme, bisa kita sadari bahwasanya perempuan dijadikan komoditas untuk
kelancaran kapitalisasi. Dari sini fenomena ini lebih cenderung mengarah pada
kepentingan ekonomi politik, sehingga ini perlu ditinjau melalui perspektif
nilai-nilai agama.
Tidak bisa dipungkiri
bahwasanya sistem kapitalime semakin menggerogoti perekonomian indonesia saat
ini terutama dalam produk-produk kecantikan dan bahkan sangat mempengaruhi
budaya indonesia saat ini. Ini merupakan PR terbesar bagi kita sebagai penerus
generasi bangsa, Ekonomi kerakyatan merupakan tatanan ekonomi berpihak kepada
rakyat secara menyeluruh terutama rakyat miskin. Ekonomi kerakyatan tersebut
telah digerakkan oleh Nahdlatul Ulama’ sejak masa-masa awal berdirinya dengan
terbentuknya suatu lembaga yang disebut Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para
pedagang). Lembaga ini berfungsi untuk membangkitkan serta mengembangkan
ekonomi kerakyatan dalam sektor perdagangan di samping pertanian yang telah
menjadi konsentrasi sebagian besar bangsa Indonesia ketika itu.
Untuk menghadapi
penjajahan ekonomi kapitalis, dibutuhkan solusi alternativ yang bersumber dari
Islam, sistem ekonomi Islam merupakan sistem yang memiliki pandangan bahwa
seluruh harta yang ada di dunia ini sesungguhnya milik Allah, seperti yang
terkandung dalam Q.S An-Nur: 33 yang artinya: “…dan berikanlah kepada mereka
sebagian dari harta Allah yang dikaruniakannya kepadamu” Dari ayat tersebut
dapat dipahami bahwa harta yang diberikan Allah kepada manusia merupakan
pemberiaan dari Allah yang bisa dimiliki, dimanfaatkan, dikembangkan dan
didistribusikan secara sah sesuai dengan yang diperintahkan Allah.
Selanjutnya untuk
melawan kapitalisme, islam mewajibkan umat muslim untuk mengeluarkan zakat
fitrah maupun zakat maal jika sudah memenuhi haul dan nashob atau memenuhi
syarat untuk wajib mengeluarkan zakat maal. Dengan melalui lembaga baznas untuk
mengelola zakat tersebut, dengan melalui baznas masyarakat bisa meminjam modal
tanpa bunga untuk mendirikan usaha atau mengembangkan usahanya tersebut. Dengan
begitu kita bisa mengurangi angka pengangguran dalam negeri ini sekaligus
bersaing untuk melawan sistem kapitalisme.
Melawan
kapitalisme di era sekarang ini memanglah tidak melalui peperangan yang dapat
melukai fisik, tetapi dengan cara Mencintai produk dalam Negri, dengan
menumbuhkan rasa cinta serta mengkonsumsi
produk dalam negeri maka secara tidak langsung membantu mempercepat
pertumbuhan ekonomi, karena akan meningkatkan produktifitas perusahaan dan
penyerapan tenaga kerja akan semakin tinggi sehingga pengangguran dapat
diatasi.
Dengan konsep
perekonomian islam yang ada saat ini kita harus berusaha mengembangkan
sistem-sistem perekonomian yang berbasiskan islam. Sehingga ini menjadi sebuah
solusi bagi kita untuk melawan sistem kapitalis. Dengan begitu kita bisa
menjadikan para generasi bangsa untuk menjadi entrepreneur- entrepreneur yang
cerdas dan berinovasi. Dengan begitu diharapkan untuk bersaing dan
menyingkirkan sistem kapitalis yang kejam di negeri ini.

No comments:
Post a Comment