Monday, March 23, 2020

Aswaja dalam Melawan Kapitalisme


Oleh: Sahabat Amarul

Aswaja dalam Melawan Kapitalisme
Sahabat Amarul

            Korelasi aswaja dengan idiologis kapitalis. Belakangan ini orang-orang banyak menganut gaya hidup kapitalis, dimana mereka lebih berorientasi memperkaya diri sendiri dan tidak memperdulikan orang lain. Tentunya itu sangat bertentangan dengan faham aswaja dimana lebih identik dengan faham sosialis. Ada ulama’ aswaja pernah mengatakan bahwasanya orang masuk surga itu tidak sendirian melainkan secara berbondong-bondong atau berjama’ah seperti halnya sholat lebih utama daripada sendirian. sedangkan kapitalis sendiri condong ke mementingkan dirinya sendiri, selagi ia masih punya modal untuk mengembangkan usahanya maka dia tidak butuh orang lain. Dan ia seakan-akan menolak bahwasanya dirinya adalah makhluk sosial.
            Kalau kita lihat dari segi sejarah bahwasanya kapitalisme lahir ketika sistem feodalisme sudah benar-benar mengekang perkembangan produksi manusia. Pada saat itu timbul golongan baru yaitu borjuis, mereka  menguasai sistem perdagangan dan pertukangan. Mereka bersaing satu sama lain untuk mendapatkan keuntungan. Mereka membangun industry walaupun masih sangat sederhana untuk mengembangkan produksi mereka. Sistem feodalisme berbasiskan last but least  kalah dengan sistem kapitalis yang menggunakan basis manufaktur pabrik.
            Dalam sistem kapitaslisme perkembangan teknologi sangat dibutuhkan untuk memproduksi mesin-mesin, kemajuan sains sangat diperlukan. Oleh karena itu sifat kapitalisme adalah ekpansif, maka ia harus bersaing untuk mengembangkan teknologinya. Mereka yang tidak mempunyai inovasi akan tergerus. Inilah yang membuat kapitalisme berkembang daripada feodalisme yang cenderung kaku dan konservatif dimana posisi seorang raja ditentukan melalui keturunan. Maka kaum borjuis memerlukan Negara republic demokrasi. Sebagai jalannya sistem kapitalis maka revolusi harus dikobarkan. Sebagai dukungan, mereka menumpang rakyat jelata yang saat itu tertindas untuk menumbangkan rezim feodalisme.
            Seiring dengan berkembangnya sistem kapitalisme yang membuat manusia lebih produktif. Namun semakin berkembangnya teknologi jurang antara yang punya dan yang tidak punya semakin meningkat. Inilah kekonyolan sistem kapitalisme itu dimana mereka tidak peduli dengan sifat kemanusiaan sehingga merekapun menindas rakyat jelata. Melalui pola pikir bagaimana ia mengeluarkan modal dan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, inilah yang membuat sistem kapitalis merupakan sistem yang kejam.
            Bisa kita sadari bahwasanya secara tidak langsung pada era 4.0 saat ini banyak orang-orang  yang melancarkan sistem kapitalisme itu sendiri. Terutama bagi seorang wanita dimana mereka telah tereksploitasi tubuhnya dengan produk kapitalis. Penindasan terhadap perempuan bukan hanya melalui fisik melainkan berupa penindasan budaya berupa produk-produk kapitalisme, bisa kita sadari bahwasanya perempuan dijadikan komoditas untuk kelancaran kapitalisasi. Dari sini fenomena ini lebih cenderung mengarah pada kepentingan ekonomi politik, sehingga ini perlu ditinjau melalui perspektif nilai-nilai agama.

            Tidak bisa dipungkiri bahwasanya sistem kapitalime semakin menggerogoti perekonomian indonesia saat ini terutama dalam produk-produk kecantikan dan bahkan sangat mempengaruhi budaya indonesia saat ini. Ini merupakan PR terbesar bagi kita sebagai penerus generasi bangsa, Ekonomi kerakyatan merupakan tatanan ekonomi berpihak kepada rakyat secara menyeluruh terutama rakyat miskin. Ekonomi kerakyatan tersebut telah digerakkan oleh Nahdlatul Ulama’ sejak masa-masa awal berdirinya dengan terbentuknya suatu lembaga yang disebut Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para pedagang). Lembaga ini berfungsi untuk membangkitkan serta mengembangkan ekonomi kerakyatan dalam sektor perdagangan di samping pertanian yang telah menjadi konsentrasi sebagian besar bangsa Indonesia ketika itu.
            Untuk menghadapi penjajahan ekonomi kapitalis, dibutuhkan solusi alternativ yang bersumber dari Islam, sistem ekonomi Islam merupakan sistem yang memiliki pandangan bahwa seluruh harta yang ada di dunia ini sesungguhnya milik Allah, seperti yang terkandung dalam Q.S An-Nur: 33 yang artinya: “…dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakannya kepadamu” Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa harta yang diberikan Allah kepada manusia merupakan pemberiaan dari Allah yang bisa dimiliki, dimanfaatkan, dikembangkan dan didistribusikan secara sah sesuai dengan yang diperintahkan Allah.
            Selanjutnya untuk melawan kapitalisme, islam mewajibkan umat muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah maupun zakat maal jika sudah memenuhi haul dan nashob atau memenuhi syarat untuk wajib mengeluarkan zakat maal. Dengan melalui lembaga baznas untuk mengelola zakat tersebut, dengan melalui baznas masyarakat bisa meminjam modal tanpa bunga untuk mendirikan usaha atau mengembangkan usahanya tersebut. Dengan begitu kita bisa mengurangi angka pengangguran dalam negeri ini sekaligus bersaing untuk melawan sistem kapitalisme.
            Melawan kapitalisme di era sekarang ini memanglah tidak melalui peperangan yang dapat melukai fisik, tetapi dengan cara  Mencintai produk dalam Negri, dengan menumbuhkan rasa cinta serta mengkonsumsi  produk dalam negeri maka secara tidak langsung membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi, karena akan meningkatkan produktifitas perusahaan dan penyerapan tenaga kerja akan semakin tinggi sehingga pengangguran dapat diatasi.
            Dengan konsep perekonomian islam yang ada saat ini kita harus berusaha mengembangkan sistem-sistem perekonomian yang berbasiskan islam. Sehingga ini menjadi sebuah solusi bagi kita untuk melawan sistem kapitalis. Dengan begitu kita bisa menjadikan para generasi bangsa untuk menjadi entrepreneur- entrepreneur yang cerdas dan berinovasi. Dengan begitu diharapkan untuk bersaing dan menyingkirkan sistem kapitalis yang kejam di negeri ini.

No comments:

Post a Comment

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM