Oleh: Sahabat Langgeng
![]() |
| Sahabat Langgeng |
Sering adanya perdebatan tentang liberal dilihat dari aspek manapun
paham ini mengacu pada kebebasan perseorangan dan masalah yang sering
diperdebatkan juga masalah pribadi. Kebenaran hanya milik orang yang mempunyai
gagasan. Oleh sebab itu ham yang dikatakan sudah dimiliki mulai dari kecil
hancur karena perspektif yang maunya memiliki kemerdekaan sendiri. Dari hal ini
peraturan yang ditetapkan oleh pemerintahan dapat terkubur, karena dalam kata
kata bebas mungkin banyak yang beranggapan tidak akan ada yang melanggar
meskipun itu salah dari pandangan orang lain tapi menurut kita berlawanan dari
anggapan tersebut. Nah maka dari itu dalam pandangan aswaja saya akan
mengkaitkan paham ini dengan prinsip aswaja yang merupakan pegangan bagi umat
ber agama islam untuk menjalani kehidupan penuh opini ini.
Secara
etimologi liberal berarti bebas dan isme yaitu aliran. Jadi pada paham ini
kekuasaan disuatu negara di dadasari atas kebebasan meskipun pemerintahannya
sendiri tak berhak menyinggung kebebasan yang diberlakukan oleh rakyatnya.
Dipaham ini memang setiap perseorangan memiliki imajintif atau ide ide yang
cemerlang, karena prinsip bebas membuat orang senang, tidak ada yang menanggapi
gagasan perseorangan. Jika membahas tentang politik, liberal menanggapi sebagian
aturan yang sudah ditetapkan tapi memiliki sifat yang sunnah pada paham ini.
Pembahasan yang identik masuk pada kehidupan bernegara ini pasti terasa
menyenangkan, keperluan yang ingin dimiliki bisa tercapai secara mudah, tidak
adanya aturan yang berlaku wajib. Mengacu pada hasrat, yang sebenarnya hasrat
itu selalu berganti setiap 1 jam sekali paham ini memang banyak memiliki
kegiatan yang instan, memenuhi hasrat juga sebagi ketentuan menjalankan hidup
agar berwana. Kebebasan berperan aktif bagi para manusia, semua hal yang
dilakukan tanpa adanya aturan atau tidak ada embel embel dari orang lain itu
yang diharapkan, karena kebebasan sebagai pengacu kebahagiaan dalam diri
manusia. Namun hal hal yang dijelaskan semuanya hanya ampas, tidak ada nilai
moral, nilai nasionalis, dan nilai religis dari suatu negara. Apakah ad nilai
nilai tersebut? Seperti apa watak suatu negara itu? Hal hal mudah yang
dilakukan akan menjamin? Apa jaminan yang terkait mobilitas negara? Hal yang
rancu seperti itu hanya akan mendapatkan ketidakpastian yang mendalam, bukan
hanya ragu dalam ranah mobilitas tapi mengapa disebut negara ketika aturan yang
berusaha untuk membangun watak ini dianggap remeh dan hanya dijadikan angan
yang tak penting lebih parahnya, akan dijadikan seperti apa negara ini?
Bagaimana caranya bertanggungjawab atas kekeliruan manusia? Atau mengapa suatu
negara tidak memiliki konsep dasar yang lebih spesifik ketika masuk dalam ranah
kebebasan? Maka hal ini banyak yang menggunakan bahasa yang logis ini menjadi
eksekusi negatif untuk orang awam. Mari coba kita mulai membayangkan, ketika
kita dalam ranah kebebasan apa yang kita ingin lakukakn, yang kita mau, atau
yang ingin kita jadikan acuan agar tercapinya hasrat itu mudah dan tidak
halangan lalu ada seseorang menyerang kita dengan fisik atau psikis juga karena
hal yang dinginkannya apakah tidak akan ada timbul yang disebut pertarungan?
Lalu apa yang akan kita lakukan? Jalan keluarnya harus kemana? Selain menindak
lanjuti juga dengan hal yang sama, prinsip yang sudah menjadi hasrat tidak akan
mudah goyah meskipun seekor beruang jantan yang menerpanya. Dalam hal ini
berarti Konspirasi cenderung lebih dari kata buram, pemikiran yang memiliki
kedaulatan tahan banting berkedok hasrat yang sinting, dan juga kreasi-kreasi
tak logis melayang bertebaran, itu lah yang dinamakan liberalis semu dari kaca
peradaban.
Contoh itu
mari kita kaitkan ke bidang religi, aswaja misalnya. Memiliki prinsip yang
sistematis dan sudah memnuhi kriteria yang menjadikan hal positif pada keadaan
tubuh manusia.

No comments:
Post a Comment