Wednesday, April 15, 2020

Kenapa “Kiri” sebagai Pemikir Pergerakan?



Kenapa “Kiri” sebagai Pemikir Pergerakan?
Kader PMII Rayon FDKI Komisariat IAI Syarifuddin Lumajang

Menjadi kiri tidak harus membawa memori kekerasan dan perang di masa lalu. Pertanyaannya bukan mengapa orang membenci komunis, tapi apa yang bisa kita lakukan bersama untuk membangun negeri. Mungkin itulah makna dari rekonsiliasi.
Dari pernyataan diatas mari kita beberkan terminologi kiri. ‘Kiri’ dapat dikatakan sebagai perlawanan, dan resistensi kiri adalah simbol perlawanan mereka yang merasa tersisihkan, mereka yang selalu gelisah atas keadaan mapan. Sedangkan spirit dari kiri, yang selalu gelisah untuk mempertanyakan segala sesuatu, mengkritisi setiap bentuk kebenaran (lisan/tulisan), dan menolak tunduk pada setiap bentuk kebenaran yang bersifat monolitik (keinginan sendiri), terutama kebenaran pengetahuan.
Di dalam teori dialektika(seni berdiskusi) merupakan filsafat politik yang dibawa oleh Hegel. menurut hegel, ada 3 teori didalam negara, sebagai ujung tombak perdaban yaitu :
a.       Tesis (afirmasi)
Tesis ini dapat dikatakan pernyataan. Tesis ini termasuk golongan diktator, dimana pernyataan di usulkan secara otoriter dan diwajibkan mematuhi. Represi jadi cara ampuh dalam dominasi tersebut. Dan masyarakat Feodal yang berkerumun dalam ranah ini.
b.      Antitesis (negasi)
Teori ini digambarkan sebagai perlawanan. Perlawanan yang membuat kehidupan merasa tersisih dan gelisah. Antitesis sebagai golongan anarkis yaitu orang yang tidak menganggap adanya pemerintahan, dengan adanya kekangan dalam hidup, kelompok ini melakukan perlawanan secara radikal, langsung tidak menganggap adanya pemerintahan. Masyarakat ini sering disebut sebagai Borjuis.
c.       Sintesis (integrasi)
Puncak dari peradaban yang sesungguhnya terletak pada tahap ini. Sintesis sebagai kesimpulan dari tesis dan antitesis, secara unversal tahap ini dapat dikatakan tahap gabungan untuk kesadaran sosial bernegara. Tahap ini bisa dikatakan sebagai golongan demokrasi, musyawarah mufakat. Dan diharapkan menjadi masyarakat yang Sosial Komunis.
Di tahap sintesis ada pernyataan “diharapkan menjadi masyarakat yang Sosial Komunis”, mengapa tidak ada kepastian tentang masyarakat seperti itu, karena masih belum ada yang masuk dalam tahap tersebut. Oleh karena itu, pada dasarnya kebenaran di dunia ini masih belum pernah mencapai sintesis, namun hanya akan membentuk scientific circle (Lingkaran pengetahuan) yang berpusar pada tesis dan antitesis beriringan dengan sejarah waktu.
Jadi bisa disimpulkan “kiri” disini bisa disebutkan sebagai perlawanan, namun perlawanan yang memiliki tugas suci untuk membentuk negara yang manusiawi. Jika dipikir-pikir kiri ini berusaha untuk menjangkau ranah Sintesis. Sedangkan perlawanan yang dianggap kekerasan itu sudah tertelan waktu, dan ini saatnya kita berpikir secarakritis bahwa tugas kiri adalah menjangkau ranah sintesis yang beradab.

M Langgeng Prayoga
Pr. FDKI/Komisariat syarifuddin Lumajang

No comments:

Post a Comment

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM