Tuesday, April 14, 2020

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Eksis Di Perguruan Tinggi Negeri Maupun Swasta



Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Eksis Di Perguruan Tinggi Negeri Maupun Swasta
Rombongan PMII Rayon Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAI Syarifuddin saat Ziaroh ke Makam para Wali

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Tiap kata dari kalimat tersebut bisa dikupas lebih dalam lagi. Pertama pergerakan, yaitu sebuah dinamika yang dilakukan setiap insan untuk bergerak maju menuju tujuan idealnya. Kedua mahasiswa, yaitu generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri, diantaranya sebagai insan religius, insan akademik, insan sosial, dan insan yang mandiri. Ketiga islam, yaitu merupakan agama yang dianut, dipahami dan diyakini mempunyai paradigma atau berhaluan ahlussunah wal jama'ah. Keempat Indonesia, yaitu masyarakat yang berbangsa dan bernegara Indonesia yang mempunyai falsafah serta berideologi pancasila dan UUD 1945 dengan landasan kesatuan dan keutuhan bangsa dan negara dari sabang sampai merauke, serta diikat dengan kesadaran wawasan nusantara.
PMII lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. PMII merupakan organisasi mahasiswa terbesar yang ada di Indonesia. Awal mula berdirinya PMII merupakan hasrat kuat para mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi ahlussunah wal jama'ah.
Saya pertama kali masuk kuliah di perguruan tinggi swasta Institut Agama Islam Syarifuddin Wonorejo Lumajang (IAIS). Beberapa minggu sebelum perkuliahan aktif dimulai, pada saat hari terakhir PKKMB (program pengenalan kampus bagi mahasiswa baru) senior mengenalkan organisasi ekstra maupun intra yang ada di kampus. Saya tidak terlalu minat dengan organisasi intra kampus sebab saya fikir saya tidak mempunyai potensi disana. Tetapi sayapun tidak mau jika menjadi mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah pulang) saja. Sebab yang saya tahu dari beberapa saudara saya yang pernah duduk di bangku kuliah bahwa di perkuliahan itu yang didapatkan hanya 30% nya saja selebihnya mencari sendiri. Dalam artian sebagai mahasiswa yang menjadi insan akademik serta insan mandiri kita mempunyai tanggung jawab atas individual dan intelektual kita. Karena sebagai seorang mahasiswa kita tidak lagi banyak dituntun seperti seorang siswa. Saya tertarik pada organisasi ekstra, konon di organisasi ekstra ini kita bisa mengasah potensi yang ada dalam diri kita dan organisasi ini pun diakui oleh pihak kampus. Pada waktu itu dilema melanda, antara merekrutkan diri menjadi anggota atau tidak. Saya takut. Entah alasan saya takut itu apa. Mungkin waktu itu lingkaran setan mengelilingi pikiran saya. Sehingga saya takut dengan ketakutan itu sendiri.
Tetapi saya berusaha meyakinkan diri untuk mengikuti organisasi ekstra kampus ini. Saya masuk di rayon fakultas dakwah dan komunikasi islam (FDKI). Rayon ini khusus untuk kumpulan mahasiswa prodi bimbingan konseling islam, manajemen dakwah, dan komunikasi penyiaran islam.
Selang sebulan kemudian, tepatnya bulan oktober saya mengikuti mapaba (masa penerimaan anggota baru) sebutan yang ada di organisasi PMII. Disitulah awal proses saya masuk atau proses pelantikan sebagai anggota baru PMII yang acaranya selama 3 hari. Banyak pengalaman yang saya dapatkan.
Setelah mapaba, ada kegiatan formal yang wajib diikuti oleh anggota baru yakni follow up (tindak lanjut) yang waktu itu dilaksanakan satu minggu sekali. Follow up dilaksanakan untuk lebih memperdalam materi-materi yang sudah digodok ketika mapaba. Awal follow up tidak ada kendala yang saya dapatkan, semua kompak, semua solid, dan semangat dalam berproses.
Hingga akhirnya setelah beberapa kali follow up, saya mendapati kendala mengikuti PMII yaitu hilangnya satu perasatu sahabat. Banyak lontaran alasan dari beberapa sahabat ketika tidak mengikuti kegiatan formal ini. Beberapa alasan masuk akal dan beberapa lagi ngawang wkwk. Asa yang membara mulai meredup. Mungkin mereka mulai jenuh, hal yang manusiawi, karena itu juga merupakan hal yang saya rasakan pada waktu itu. Tetapi seharusnya kita bisa melawan kejenuhan tersebut.
Saya berfikir tentang apa sebenarnya yang salah. Sementara yang saya tahu semua pengurus sudah banyak berdedikasi untuk mengayomi kami dalam kegiatan formal tersebut. Lantas apa yang bermasalah?
Beberapa kali berfikir dan bertafakkur hingga terbesit dalam benak saya sebuah perspektif yang membuat diri saya tertampar. Lebih ke intropeksi diri, mungkin saya dan sahabat-sahabat pada waktu itu belum sadar bahwa berproses di PMII tidak hanya untuk individual saja melainkan untuk seluruh alam. Jika di dalam follow up saja asa kita sudah kendor. Lantas kedepannya bagaimana? Waktu itu saya merasa semakin tertampar.
Saya berfikir bahwa oknum-oknum yang ada di PMII harus banyak menumbuhkan kesadarannya, tidak hanya anggota baru melainkan untuk seluruh kader agar selalu berpatokan pada tujuan PMII. Agar kitapun tidak lupa akan kewajiban yang dipikul di pundak masing-masing.
Lambat laun seiring berjalannya waktu, beberapa sahabat yang asanya meredup akhirnya kembali membara. Sepertinya kesadaran sudah ada dalam diri mereka.
Kesadaran itu memang harus ada dalam diri kita. Sebab di PMII kita tidak hanya masuk dan menumpang embel-embel mengikuti organisasi, namun juga perlu memiliki peran atau berperan dalam organisasi supaya ada perkembangan dan pastinya ada perubahan dalam diri kita masing-masing. Jika dalam hal kecil saja kita tidak bisa sadar, lantas bagaimana nanti dalam hal yang jauh lebih besar? Meskipun setiap sahabat berbeda pemikiran bukan berarti tidak bisa aktif dalam berorgnisasi, karena setelah kita memutuskan mengikuti organisasi PMII kita juga harus menerima resikonya, entah dalam membagi waktu ataupun dengan kesibukan masing masing yang harus di seimbangkan.
Harapan saya dalam organisasi PMII seluruh kader yang ada di Indonesia ini mampu menumbuhkan kesadarannya dalam berorganisasi khususnya rayon FDKI IAIS Lumajang.


Oleh: Sahabat Miya

No comments:

Post a Comment

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM