| Rombongan PMII Rayon Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAI Syarifuddin saat Ziaroh ke Makam para Wali |
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Tiap kata dari kalimat
tersebut bisa dikupas lebih dalam lagi. Pertama pergerakan, yaitu sebuah
dinamika yang dilakukan setiap insan untuk bergerak maju menuju tujuan
idealnya. Kedua mahasiswa, yaitu generasi muda yang menuntut ilmu di
perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri, diantaranya sebagai insan
religius, insan akademik, insan sosial, dan insan yang mandiri. Ketiga
islam, yaitu merupakan agama yang dianut, dipahami dan diyakini mempunyai
paradigma atau berhaluan ahlussunah wal jama'ah. Keempat Indonesia,
yaitu masyarakat yang berbangsa dan bernegara Indonesia yang mempunyai falsafah
serta berideologi pancasila dan UUD 1945 dengan landasan kesatuan dan
keutuhan bangsa dan negara dari sabang sampai merauke, serta diikat dengan
kesadaran wawasan nusantara.
PMII lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan
zaman. PMII merupakan organisasi mahasiswa terbesar yang ada di Indonesia. Awal
mula berdirinya PMII merupakan hasrat kuat para mahasiswa NU untuk mendirikan
organisasi mahasiswa yang berideologi ahlussunah wal jama'ah.
Saya pertama kali masuk kuliah di perguruan tinggi swasta Institut
Agama Islam Syarifuddin Wonorejo Lumajang (IAIS). Beberapa minggu sebelum
perkuliahan aktif dimulai, pada saat hari terakhir PKKMB (program pengenalan
kampus bagi mahasiswa baru) senior mengenalkan organisasi ekstra maupun intra
yang ada di kampus. Saya tidak terlalu minat dengan organisasi intra kampus
sebab saya fikir saya tidak mempunyai potensi disana. Tetapi sayapun tidak mau
jika menjadi mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah pulang) saja. Sebab yang saya
tahu dari beberapa saudara saya yang pernah duduk di bangku kuliah bahwa di
perkuliahan itu yang didapatkan hanya 30% nya saja selebihnya mencari sendiri.
Dalam artian sebagai mahasiswa yang menjadi insan akademik serta insan mandiri
kita mempunyai tanggung jawab atas individual dan intelektual kita. Karena sebagai seorang
mahasiswa kita tidak lagi banyak dituntun seperti seorang siswa. Saya tertarik
pada organisasi ekstra, konon di organisasi ekstra ini kita bisa mengasah
potensi yang ada dalam diri kita dan organisasi ini pun diakui oleh pihak
kampus. Pada waktu itu dilema melanda, antara merekrutkan diri menjadi anggota
atau tidak. Saya takut. Entah alasan saya takut itu apa. Mungkin waktu
itu lingkaran setan mengelilingi pikiran saya. Sehingga
saya takut dengan ketakutan itu sendiri.
Tetapi saya berusaha meyakinkan diri untuk mengikuti organisasi
ekstra kampus ini. Saya masuk di rayon fakultas dakwah dan komunikasi islam (FDKI). Rayon ini
khusus untuk kumpulan mahasiswa prodi bimbingan konseling islam, manajemen
dakwah, dan komunikasi penyiaran islam.
Selang sebulan kemudian, tepatnya bulan oktober saya mengikuti
mapaba (masa penerimaan anggota baru) sebutan yang ada di organisasi PMII.
Disitulah awal proses saya masuk atau proses pelantikan sebagai anggota baru
PMII yang acaranya selama 3 hari. Banyak pengalaman yang saya dapatkan.
Setelah mapaba, ada kegiatan formal yang wajib diikuti oleh anggota
baru yakni follow up (tindak lanjut) yang waktu itu dilaksanakan satu minggu
sekali. Follow up dilaksanakan untuk lebih memperdalam materi-materi yang sudah
digodok ketika mapaba. Awal follow up tidak ada kendala yang saya dapatkan,
semua kompak, semua solid, dan semangat dalam berproses.
Hingga akhirnya setelah beberapa kali follow up, saya mendapati
kendala mengikuti PMII yaitu hilangnya satu perasatu sahabat. Banyak lontaran
alasan dari beberapa sahabat ketika tidak mengikuti kegiatan formal ini.
Beberapa alasan masuk akal dan beberapa lagi ngawang wkwk. Asa yang membara
mulai meredup. Mungkin mereka mulai jenuh, hal yang manusiawi, karena itu juga
merupakan hal yang saya rasakan pada waktu itu. Tetapi seharusnya kita bisa
melawan kejenuhan tersebut.
Saya berfikir tentang apa sebenarnya yang salah. Sementara yang
saya tahu semua pengurus sudah banyak berdedikasi untuk mengayomi kami dalam
kegiatan formal tersebut. Lantas apa yang bermasalah?
Beberapa kali berfikir dan bertafakkur hingga terbesit dalam benak
saya sebuah perspektif yang membuat diri saya tertampar. Lebih ke
intropeksi diri, mungkin saya dan sahabat-sahabat pada waktu itu belum sadar
bahwa berproses di PMII tidak hanya untuk individual saja melainkan untuk
seluruh alam. Jika di dalam follow up saja asa kita sudah kendor. Lantas
kedepannya bagaimana? Waktu itu saya merasa semakin tertampar.
Saya berfikir bahwa oknum-oknum yang ada di PMII harus banyak
menumbuhkan kesadarannya, tidak hanya anggota baru melainkan untuk seluruh
kader agar selalu berpatokan pada tujuan PMII. Agar kitapun
tidak lupa akan kewajiban yang dipikul di pundak masing-masing.
Lambat laun seiring berjalannya waktu, beberapa
sahabat yang asanya meredup akhirnya kembali membara. Sepertinya kesadaran
sudah ada dalam diri mereka.
Kesadaran itu
memang harus ada dalam diri kita. Sebab di PMII kita
tidak hanya masuk dan menumpang embel-embel mengikuti organisasi, namun juga
perlu memiliki peran atau berperan dalam organisasi supaya ada perkembangan dan
pastinya ada perubahan dalam diri kita masing-masing. Jika dalam hal kecil saja
kita tidak bisa sadar, lantas bagaimana nanti dalam hal yang jauh lebih besar? Meskipun
setiap sahabat berbeda pemikiran bukan berarti tidak bisa aktif dalam berorgnisasi,
karena setelah kita memutuskan mengikuti organisasi PMII kita juga harus
menerima resikonya, entah dalam membagi waktu ataupun dengan kesibukan masing
masing yang harus di seimbangkan.
Harapan saya dalam organisasi PMII seluruh kader yang ada di
Indonesia ini mampu menumbuhkan kesadarannya dalam berorganisasi khususnya
rayon FDKI IAIS Lumajang.
Oleh: Sahabat Miya
No comments:
Post a Comment