Tuesday, April 14, 2020

Saat Seseorang Memandang Orang Lain Hanya dari Luarnya Saja


Saat Seseorang Memandang Orang Lain Hanya dari Luarnya Saja

Setiap kita bertemu orang pasti yang dipandang pertama kali adalah penampilannya, padahal penampilan belum tentu sama dengan karakter atau dari dalam diri orang tersebut, seperti pepatah berikut : “Jangan nilai buku dari luarnya. Mending dapet buku komik yang sampulnya sederhana, daripada sampul bagus tapi ternyata buku kasbon.” Meskipun sudah ada pepatah yang mengatakan seperti itu, namun tidak menilai orang dari penampilan saja sangat sulit untuk dipraktikan, Kadang kita menilai orang hanya dari tampilan luarnya saja, bukan dari perbuatannya, atau apa yang ada dalam hati orang tersebut. Mulai dari warna baju yang tidak matching, dandanan yang menor, atau gaya bicara yang medok dan lucu sering kita jadikan bahan penilaian. Menilai orang dari luar adalah salah satu hal termudah di dunia, Padahal jangan lupa bahwa kita harus mampu untuk mengerti berbagai macam karakteristik manusia. Seorang profesor psikologi di Universty of Toronto, Nicholas Rule, menjelaskan bahwa seseorang mengembangkan ciri kepribadian tertentu agar sesuai dengan penampilannya. Atau sebaliknya, kepribadian seseorang dapat mengubah penampilannya. Jadi, penampilan memang belum tentu sesuai dengan cerminan dari orang tersebut.

Bagaimana agar kita tidak hanya memandang orang dari luarnya saja? yaitu dengan cara mengenali ekspresi dan bahasa tubuhnya terlebih dahulu, dengan mengetahui hal tersebut kita mungkin akan sedikit tahu bahasa tubuh dan ekspresinya baik atau tidak. Selanjutnya adalah selalu berpikiran positif, jika kita ingin dinilai baik oleh orang lain, maka kita juga harus bisa berpikiran positif terhadap orang lain, Setiap orang yang kalian anggap negatif pasti ada sisi positifnya, sebodoh-bodohnya orang bodoh pasti ada sisi positifnya, jangan penuhi otak kalian dengan hanya menilai sisi negatif saja, jangan biarkan hati kalian dipenuhi dengan kebencian, belajarlah menilai orang dari dua sisi  jangan merasa kamu paling benar, kamu harus tau dan kamu harus ingat bahwa di atas langit masih ada langit. Tanamkan dalam diri, bahwa kamu tidak berhak menilai seseorang sebelum bisa mengenalnya. Berikutnya Asah Naluri dan Insting, pemikiran positif juga perlu diimbangi dengan naluri dan insting terhadap bahaya. Kamu tidak bisa mempercayai dan berpikiran positif terhadap orang lain seratus persen. Kamu juga perlu mengenali apakah seseorang berpotensi mencelakai atau punya niat buruk padamu. Perlu mengasah naluri dan pertahanan diri selagi tidak menilai seseorang dari penampilannya. 

Jangan terpukau dengan penampilan. Penampilan bisa menipu. Terkadang orang yang kita anggap remeh, ternyata menyimpan kelebihan yang luar biasa. Terkadang orang yang terlihat alim, ternyata mempunyai sikap yang zalim. Maka jangan sampai tertipu dengan simbol. Allah Maha Mengetahui hati manusia, jadi jangan sampai gampang menyangka-nyangka. Yang dilihat oleh Allah yang utama adalah hati, bukan materi; yang dilihat oleh Allah bukan rupa, tapi takwa. Sehingga dengan demikian, sebagai manusia kita harus berhati-hati dan selalu rendah hati. Diantara kita juga pasti pernah meremehkan orang lain, tapi kita juga perlu ingat bahwa dibalik keremehan yang terlihat dimata kita belum tentu jelek dimata Allah SWT, terkadang banyak kelebihan-kelebihan yang diberikan oleh Allah kepadanya. dan setiap individu pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, setiap orang pintar pasti ada kelemahannya dan setiap orang bodoh pasti ada sesuatu yang gak orang pintar miliki, Allah itu maha adil.

Oleh : Yulia Wulandari

No comments:

Post a Comment

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM