![]() |
| Mendekatkan diri Kepada Allah |
Sebelum
membahas tentang mu’aqobah atas pandemi Corona, penulis terlebih dahulu
akan menjabarkan tentang Mu’aqobah itu sendiri. Mu’aqobah itu sendiri artinya merasa selalu diawasi oleh
Allah SWT. Sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Terkadang
kata-katapun merasa kesepian jika ia harus berjuang sendirian untuk menenangkan
hingga mampu memberikan perlindungan ditengah kepungan wabah yang mematikan. Sebelumnya,
kata-kata itu menentukan kita agar selalu berhati-hati bukan terhadap virus,
melainkan terhadap kata-kata diri sendiri yang sering terkesan takabur atau
sombong.
Benar
saja, akibat akses kemudahan untuk mendapatkan sebuah informasi. Semua
berlomba-lomba untuk membagikan kebaikan dengan cara mensosialisasikan tentang
COVID-19 kepada masyarakat agar penyebaran virus tidak semakin meluas dan mampu
meminimalisir penyebaran wabah ini.
Kata-kata
ini tersusun hanya untuk sebisa mungkin memahami dan bersatu meskipun berbeda
dimensi ataupun ranah intelektualitas yang sangat jelas berbeda. Namun, cinta
selalu menuntut untuk memberikan apa saja yang sanggup untuk memaksimalkan dan
menemani agar kata-kata itu sendiri tidak kesepian dari kesunyian.
Sejak
pertama kita diajak untuk sadar akan peranan tuhan khusus pandemic Corona. Sadar
bukan berarti lantas menanyakan “dimana” atau “kapan”, karena tuhan sendiri
terlepas dari ruang dan waktu, sedangkan Covid 19 ini adalah wujud yang lembut
yang tak kasat mata.
Jelas
peranan tuhan disini mesti disadari, kerena sebaik apapun kita mengantisipasi
diri agar terhindar dari wabah. Apabila Tuhan berkehendak, lalu apa yang bisa
kita perbuat? Dia-lah pemilik segala-galanya, Dia-lah sang Maha Pencipta meski
harus melalui perantara tangan-tangan manusia.
Mu’aqobah sangat penting
untuk dijadikan pondasi dalam melakukan tugas manusia sebagai khalifah di
semesta ini. Jika kita sedang melakukan suatu ibadah, anggaplah Tuhan selalu
mengawasimu, dan apabila kamu tidak bisa melihat Tuhan, percayalah tuhan pasti
selalu mengawasimu. Kita tidak bisa menggantungkan hidup pada kesementaraan
termasuk manusia, karena sudah pasti ia hanya akan mendatangkan kekecewaan
kecuali ketulusanmu mampu menembus dua dimensi sekaligus, yaitu kehidupan dan
kematian.
Namun,
apakah kita mencermati sedikit urutan dari pernyataan tentang muhasabah
(intropeksi) diatas? Dari penggalan frasa segala akibat pasti ada sebabnya,
sampai para Ulul Albab (sekelompok manusia pilihan yang intelektual)
milenial yang sedang mencobah untuk berkompetisi dengan kecanggihan teknologi
Tuhan dari yang pertama siapakah yang menciptakan COVID 19 hingga siapa yang
salah? Sekelompok manusia satu bangsa, atau seluruh umat manusia? Dan
pertanyaan tersebut mengarahkan diri untuk bermusahabah atau intropeksi
tentang kesalahan dan hukuman.
Lantas
kita harus menyalahkan si COVID 19 ini sedangkan kita hanyalah alat? Virus ini
memiliki naluri seperti parasit pada umumnya, dimana dia akan tumbuh dan
berkembang biak sesuai dengan habitatnya, yang menyebabkan kematian dan
kematian sendiri tudak bisa 100% menyalahkan virus ini, karena dia hidup pun
sebagaimana hewan ingin makan dan berkembang biak.
Seandainya
virus yang tumbuh pertama di Wuhan ini memang ada segelintir oknum penciptaan,
dendam atau kepentingan apa yang mereka sedang lakukan sehingga tega menutup
mata atas meninggalnya puluhan ribuan orang ? ataukan memang itu peran yang
dipercayakan oleh Tuhan dengan mematikan rasa ketidaktegaannya demi membahas
dendam atau kepentingan apapun itu.
Dan
dengan adanya Mu’aqobah ini agar manusia bisa memantaskan diri untuk menerima
hukuman atas segala khilaf yang telah dilakukan sekecil apapun dosa yang telah
diperbuat.
Sekian
dari penulis semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk kita semua agar lebih
memantaskan diri dan bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat.
Oleh: Sahabat Warda

No comments:
Post a Comment