Thursday, April 9, 2020

Mu’aqobah atas Pandemi Corona



Mu’aqobah atas Pandemi Corona
Mendekatkan diri Kepada Allah

Sebelum membahas tentang mu’aqobah atas pandemi Corona, penulis terlebih dahulu akan menjabarkan tentang Mu’aqobah itu sendiri. Mu’aqobah  itu sendiri artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT. Sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Terkadang kata-katapun merasa kesepian jika ia harus berjuang sendirian untuk menenangkan hingga mampu memberikan perlindungan ditengah kepungan wabah yang mematikan. Sebelumnya, kata-kata itu menentukan kita agar selalu berhati-hati bukan terhadap virus, melainkan terhadap kata-kata diri sendiri yang sering terkesan takabur atau sombong.
Benar saja, akibat akses kemudahan untuk mendapatkan sebuah informasi. Semua berlomba-lomba untuk membagikan kebaikan dengan cara mensosialisasikan tentang COVID-19 kepada masyarakat agar penyebaran virus tidak semakin meluas dan mampu meminimalisir penyebaran wabah ini.
Kata-kata ini tersusun hanya untuk sebisa mungkin memahami dan bersatu meskipun berbeda dimensi ataupun ranah intelektualitas yang sangat jelas berbeda. Namun, cinta selalu menuntut untuk memberikan apa saja yang sanggup untuk memaksimalkan dan menemani agar kata-kata itu sendiri tidak kesepian dari kesunyian.
Sejak pertama kita diajak untuk sadar akan peranan tuhan khusus pandemic Corona. Sadar bukan berarti lantas menanyakan “dimana” atau “kapan”, karena tuhan sendiri terlepas dari ruang dan waktu, sedangkan Covid 19 ini adalah wujud yang lembut yang tak kasat mata.
Jelas peranan tuhan disini mesti disadari, kerena sebaik apapun kita mengantisipasi diri agar terhindar dari wabah. Apabila Tuhan berkehendak, lalu apa yang bisa kita perbuat? Dia-lah pemilik segala-galanya, Dia-lah sang Maha Pencipta meski harus melalui perantara tangan-tangan manusia.
Mu’aqobah sangat penting untuk dijadikan pondasi dalam melakukan tugas manusia sebagai khalifah di semesta ini. Jika kita sedang melakukan suatu ibadah, anggaplah Tuhan selalu mengawasimu, dan apabila kamu tidak bisa melihat Tuhan, percayalah tuhan pasti selalu mengawasimu. Kita tidak bisa menggantungkan hidup pada kesementaraan termasuk manusia, karena sudah pasti ia hanya akan mendatangkan kekecewaan kecuali ketulusanmu mampu menembus dua dimensi sekaligus, yaitu kehidupan dan kematian.
Namun, apakah kita mencermati sedikit urutan dari pernyataan tentang muhasabah (intropeksi) diatas? Dari penggalan frasa segala akibat pasti ada sebabnya, sampai para Ulul Albab (sekelompok manusia pilihan yang intelektual) milenial yang sedang mencobah untuk berkompetisi dengan kecanggihan teknologi Tuhan dari yang pertama siapakah yang menciptakan COVID 19 hingga siapa yang salah? Sekelompok manusia satu bangsa, atau seluruh umat manusia? Dan pertanyaan tersebut mengarahkan diri untuk bermusahabah atau intropeksi tentang kesalahan dan hukuman.
Lantas kita harus menyalahkan si COVID 19 ini sedangkan kita hanyalah alat? Virus ini memiliki naluri seperti parasit pada umumnya, dimana dia akan tumbuh dan berkembang biak sesuai dengan habitatnya, yang menyebabkan kematian dan kematian sendiri tudak bisa 100% menyalahkan virus ini, karena dia hidup pun sebagaimana hewan ingin makan dan berkembang biak.
Seandainya virus yang tumbuh pertama di Wuhan ini memang ada segelintir oknum penciptaan, dendam atau kepentingan apa yang mereka sedang lakukan sehingga tega menutup mata atas meninggalnya puluhan ribuan orang ? ataukan memang itu peran yang dipercayakan oleh Tuhan dengan mematikan rasa ketidaktegaannya demi membahas dendam atau kepentingan apapun itu.
Dan dengan adanya Mu’aqobah ini agar manusia bisa memantaskan diri untuk menerima hukuman atas segala khilaf yang telah dilakukan sekecil apapun dosa yang telah diperbuat.
Sekian dari penulis semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk kita semua agar lebih memantaskan diri dan bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat.


Oleh: Sahabat Warda

No comments:

Post a Comment

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM