![]() |
| Samiyani PMII Rayon Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Lumajang |
Corona virus (covid19) merupakan
wabah yang terjadi pertama kali di Wuhan Cina pada tahun 2019 yang disebabkan
oleh sindrom pernapasan akut. Corona virus merupakan sekelompok virus terkait penyakit
pada mamalia dan burung. Sedangkan pada manusia virus ini meyebabkan infeksi
pernapasan yang dapat berkisar dari ringan hingga mematikan. Gejala-gejala umum
yang terjadi biasanya seperti demam, flu, batuk, dan sesak napas. Kebanyakan
virus ini terjadi pada lansia, bayi, orang-orang yang bepergian jauh, serta
pada orang yang memiliki riwayat penyakit bawaaan.
Organisasi kesehatan dunia
kini menyatakan covid19 sebagai pandemi. Pandemi merupakan wabah yang
berjangkit serempak di mana-mana melalui daerah geografis yang luas. Menurut
organisasi kesehatan dunia pandemi tidak ada hubungannya dengan tingkat
keparahan ataupun jumlah korban yang terinfeksi, melainkan pada penyebaran
geografisnya. Organisasi kesehatan dunia memutuskan covid19 sebagai pandemi
setelah adanya gelombang infeksi dari orang ke orang di seluruh komunitas. Pandemi
covid19 telah melanda 209 Negara di dunia termasuk di Indonesia. Banyak Negara
maju maupun berkembang kini berjibaku dengan waktu untuk melawan epidemi
covid19 ini.
Di Indonesia sendiri merebaknya
pandemi ini membuat pemerintah giat dalam melakukan upaya-upaya guna menangkal meluasnya
epidemi yang disebabkan oleh virus ini. Beberapa upaya tersebut diantaranya,
masyarakat dilarang bepergian jauh, senantiasa mengenakan masker ketika keluar
rumah, rajin mencuci tangan, dilarang untuk melakukan kontak langsung (paling
tidak jika melakukan kontak langsung harus berjarak 1 meter). Dalam upayanya,
di perlukan kontribusi dari seluruh lapisan masyarakat agar mengimplementasikan
kebijakan tersebut selama pandemi ini melanda. Dalam lapisan pendidikan, peran
mahasiswa sangatlah di butuhkan. Daerah-daerah yang terjangkit zona merah
(pandemi yang sudah tak terkendali) masyarakatnya amat sangat membutuhkan uluran
tangan kita. Saatnya kita berkolaborasi dengan pemerintah memerangi pandemic
covid19 ini. Sebagai mahasiswa kita tidak hanya diwajibkan untuk mengasah
intelektual saja, namun juga harus mengasah kepedulian sosial kita terhadap
sesama. Apakah kita hanya akan mengisolasi diri seperti para pasien yang
terjangkit covid19? Bukankah mahasiswa adalah agent of social? Sudahkah kita
menjadi agent of social itu? Mahasiswa sebagai agent of social tidak hanya
bermakna sebagai penyalur aspirasi rakyat ketika suaranya tak dihiraukan
pemerintah, tetapi lebih dari itu. Agent of social memiliki makna insan yang
berjiwa sosial, yang arti konkritnya “peduli”
terhadap sesama. Apapun yang menyangkut rakyat tandanya kita harus peduli.
Terlebih lagi bagi kita mahasiswa yang aktif berkecimpung dalam oraganisasi
pergerakan. Sebagai mahasiswa pergerakan sudah sepatutnya kita bergerak, tidak
hanya berdiam diri duduk di depan televisi melihat saudara-saudara kita para
akademisi kedokteran, perawat, staf-staf , serta para relawan yang ikut andil
berjuang bergelut melawan pandemi ini. Lalu kapan kita akan bergerak? Perlu
kita ketahui bahwa tidak hanya waktu yang mereka korbankan, tetapi juga nyawa.
Tidakkah kita terenyuh melihat perjuangan mereka yang amat sangat besar demi
negeri dan segenap masyarakat Indonesia tercinta ini. Pernahkah berfikir jika
kita berada di posisi itu? Mampukah kita? Belum tentu. Support! Do’a! Mereka
butuh itu. Bahkan lebih dari itu. Sebagai agent of social kini saatnya kita
bergerak! Mahasiswa pergerakan tidak boleh hanya berdiam diri! Karena mahasiswa
pergerakan menyandang nama “pergerakan”
yang maknanya kita harus aktif berdinamika bukan malah sebaliknya. Sebagai
insan pergerakan sudah sepatutnya kita ikut andil membatu pemerintah untuk
menangkal pandemi ini. Berkiprah dan bahu membahu mengulurkan tangan kita
kepada mereka yang membutuhkan. Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita berkiprah?
Bergerak? Jika jawabannya belum, maka detik ini kita harus bergerak. Demi semesta.
Demi seluruh umat manusia. Dinamika tak harus kita implementasikan dengan cara
turun langsung ke lapangan dan ikut serta membantu menangani pasien yang
terjangkit covid19. Sebab mereka bukanlah satu-satunya yang membutuhkan uluran
tangan kita. Banyak masyarakat yang daerahnya berada dalam zona merah justru
lebih membutuhkan bantuan. Dari sini kita dapat bertafakkur, berfikir dengan
intelektualitas yang kita miliki. Apa yang bisa kita lakukan? Bantuan seperti
apa yang mampu kita berikan? Sudah pasti jawabannya memiliki banyak variasi. Semisal,
jika kita sudah memiliki pekerjaan, kita bisa memanifestasikan uluran tangan
tersebut dengan bentuk uang, sembako, masker, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang
mampu menopang dan menyelamatkan nyawa mereka. Kecanggihan teknologi juga bisa
kita aplikasikan. Melalui sosial media kita dapat open donasi. Karena melalui
sosial media akan lebih banyak jaringan yang kita dapatkan. Sebab mayoritas
umat manusia berkecimpung di sana.
Jadi menurut saya,
dinamika mahasiswa pergerakan sebagai agent of social guna memerangi covid19
ini sangatlah bervariasi. Jika kita tidak bisa turun langsung ke lapangan, maka kita dapat mengaplikasikan
mekanisme yang lain. Tergantung dari ke produktivitasan yang kita miliki.

No comments:
Post a Comment