Saya ingin tumbang bersamamu
Hancur dalam kobar ketakutan
Melucuti panik dan terbakar salju kecemasan
Sudah dingin saya berendam dalam api, dan selama ini kau sedang menyalakan pandemi
Mataku kabur meminum debu, ingin bersamamu tapi yang kulihat, getar luka yang
mengkilat-kilat, di pelupuk mata kita yang sekarat
Dengan api yang padam, dendam kesumat kusimpan
Saya bimbang memakai masker, di wajah yang telah lama tertutupi ketidak wajaran
Muka saya terbiasa tidak beres, ditambal kisah sejarah yang muram
Revolusi yang dulu ingin menyuapi mulutku sepiring nasi, kini adalah mulut yang menyulut
provokasi
Pagelaran demokrasi di istana negara, mengundang rakyat berdemonstrasi agar tertawa
Pandemi di mataku yang rabun, memvonisku agar jauh dari penjagaan hukum
Bukan saatnya hakim bertindak mengetuk palu, tapi setidaknya kutuk pemimpin, yang rajin
memproklamirkan huru hara
Kekar tanganku diatur para pakar konspirasi, bukan didalangi pejabat birokrasi
Mimpi saya kecil.....
Ingin meledakkan dendam kesumat dengan senyum, yang mungkin sedang dilakukan virus,
mendekat dan memeluk
Sudah lama saya selediki, mereka yang korupsi hanyalah hasil konspirasi
Bahwasanya teori mencuci uang, sama dengan membersihkan tangan, dengan handsanitizer
paling canggih
Saat tangan benar-benar bersih, mafia partai mudah memperjual belikan kursi
Saya ingin hancur bersamamu, menebas sepi dalam hujan pandemi
Meluluri seluruh badan dengan penyakit, meminum berita media agar segera pulih, dan
berwisata ke taman pemakaman
Musim musibah yang bobrok, adalah alamat dari penguasa yang tolol
Segala kebodohan dipertonjol, agar kita manggut-manggut
Mengiyakan bencana adalah bencana, yang cukup diurusi dengan sabar dan doa
Pasar swalayan kota menjadi saksi, bahwa kebodohan dipelihara di negeri
Tempat ibadah adalah zona merah, ujar berita sebagai daerah penyebaran sakit dan susah
Dari istana yang megah, terbit kebijakan yang maha bijaksana
Satu-satunya solusi adalah membasmi rakyat satu persatu, sebab pandemi telah lama
bersarang, di hati mereka yang tatu,
Kemanusian masih bisa diurus, asal ada bantuan kompensasi, yang meski tak terlalu serius
Saya ingin celaka, ditindas kengerian
Beribu jenazah sudah melakukan demonstrasi, lewat masing-masing peti mati
Bantuan sembako ibarat verifikasi data, bahwa yang kelaparan nanti siap menjadi jenazah
Karung beras jadi indikator penelitian, bahwa jumlah jenazah masih bisa dipertimbangkan
Kebohongan-kebohongan adalah alat pelindung diri, yang paling efektif menutupi
kegoblokan tirani
Setiap daerah, menerapkan pembatasan sosial berskala biadab
Penghuni tiap kawasan dilarang saling berkunjung
Mudik adalah peristiwa langka, yang tak boleh terjadi, kecuali dibayar nyawa
Saya ingin lebur bersamamu.....
Disucikan pandemi, dan dilahirkan kembali sebagai paru-paru bumi
Statistik kematian adalah kamuflase, yang mengaburkan jumlah kehidupan
Setiap daerah dihitung, berapa jumlah liang kubur, yang sepi dari pengantar jenazah, yang
sunyi dari pengunjung
Duka cita seharga keadilan yang belum terbayar, sebelum nyawa dihantar
Grafik keadilan begerak normal, mendekati angka nol, yang berarti sama sekali kosong
Kematian dianggap seleksi alam yang paling relevan,
Saya ingin musnah bersamamu....
Sepenggal nafasku ingin berkisah: selamat jalan keadilan, terimakasih sudah menemani
perjuangan
Dadaku yang sesak, ingin memeluk kejauhan cinta yang berjarak
Kurva statistik bergerak prematur, menjelma penghancur
Vaksin yang manjur, adalah menyuntikkan tabah ke seluruh badan
Saya ingin hidup bersamamu
Walau dalam tragedi, yang diulang-ulang kembali.
Basarul Mahmudi, S.Sos
Mahasiswa Pascasarjana UIN MALANG FAK PSIKOLOGI
Alumni IAIS SYARIFUDDIN FAK DAKWAH

No comments:
Post a Comment