Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia atau yang disingkat dengan PMII adalah sebuah organisasi
kemahasiswaan. PMII sendiri merupakan alat vital bagi bangsa, yang berdiri pada
tanggal 17 April 1960 di Surabaya. Adapun ketua umum pertama PMII bernama
Mahbub Djunaidi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir karena
menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman.
Independensi PMII;
pada awal berdirinya PMII sepenuhnya berada di bawah naungan NU. PMII terikat
dengan segala garis kebijaksanaan partai induknya, NU. PMII merupakan
perpanjangan tangan NU, baik secara struktural maupun fungsional. Selanjutnya
sejak dasawarsa 70-an, ketika rezim neo-fasis Orde Baru mulai mengkerdilkan
fungsi partai politik, sekaligus juga penyederhanaan partai politik secara
kuantitas, dan issue back to campus serta organisasi- organisasi profesi
kepemudaan mulai diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, maka PMII menuntut
adanya pemikiran realistis. 14 Juli 1972 melalui Mubes ke-III di Murnajati,
PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun (terkenal
dengan Deklarasi Murnajati). Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto, Jawa
Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII. Namun, betapapun PMII mandiri,
ideologi PMII tidak lepas dari paham Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan ciri
khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis, PMII dengan NU tidak bisa
dilepaskan. Ahlussunnah wal Jamaah merupakan benang merah antara PMII dengan
NU. Dengan Aswaja PMII membedakan diri dengan organisasi lain. Keterpisahan
PMII dari NU pada perkembangan terakhir ini lebih tampak hanya secara
organisatoris formal saja. Sebab kenyataannya, keterpautan moral, kesamaan
background, pada hakikat keduanya susah untuk direnggangkan.
Pengurus PB PMII dari
masa ke masa:
1.
Sahabat Mahbub Junaidi (Periode 1960–1967)
2.
Sahabat Muhammad Zamroni (Periode 1967-1973)
3.
Sahabat Abduh Paddare (Periode 1973-1977)
4.
Sahabat Ahmad Bagja (Periode 1977-1981)
5.
Sahabat Muhyiddin Arubusman (Periode
1981-1984)
6.
Sahabat Suryadharma Ali (Periode 1985-1988)
7.
Sahabat Muhammad Iqbal Assegaf (Periode
1988-1991)
8.
Sahabat Ali Masykur Musa (Periode 1991-1994)
9.
Sahabat Muhaimin Iskandar (Periode 1994-1997)
10. Sahabat
Syaiful Bahri Anshori (Periode 1997-2000)
11. Sahabat
Nusron Wahid (Periode 2000-2003)
12. Sahabat A
Malik Haramain (Periode 2003-2005)
13. Sahabat
Herry Azzumi (Periode 2005-2008)
14. Sahabat
Muhammad Rodli Kaelani (2008-2011)
15. Sahabat
Addin Jauharuddin (2011-2014)
16. Sahabat
Aminuddin Ma'ruf (2014-2017)
17. Sahabat
Agus Herlambang (2017-2019)
Dari hasil analisis
terdapat tiga fase iklim yang diterima oleh organisasi berwarrna biru dan
kuning ini. Pertama, kisaran tahun 1960 hingga 1985, pada proses perjalanan
keislaman di tahun ini masih tradisional dan cenderung asing dengan modernitas,
tentu hal yang demikian mengikuti dengan situasi dan kondisi yang ada pada
tahun-tahun tersebut. Hingga hanya tinggal sekali dan dua kali, perihal niat
dan ikhlas dalam proses perjuangan langgeng di dengungkan, untuk PMII dan juga
NU berperan dan berkontribusi untu cita-citanya demi kemaslahatan umat.
Kedua, memasuki tahun
1985 hingga 2000-an, kelompok-kelompok Islam tradisional yang cenderung asing
dengan modernitas mulai terbuka untuk bertransformasi menuju modernitas secara
perlahan namun pasti. Sesuatu yang menjadi kegelisahan bersama bagi warga
nahdliyyin pada tahun-tahun sebelumnya, terselamatkan oleh tokoh sentral pada
masanya yaitu KH Abdurrahman Wahud atau yang biasa disapa Gus Dur. Atas segala
sumbangsih tenaga, waktu dan pikiran yang beliau dedikasikan dengan penuh niat
dan keikhlasan yang jernih dan tulus, mampu membuka gerbang dan juga jendela
dalam mengindahkan cita-cita bersama dengan ruh kemaslahatan. Terbukti, melalui
peran NU yang diprakarsainya, ketika berpindahnya fase orde lama menuju
reformasi, menjadi figur dan tonggak terbukanya jalan menuju sistem yang sampai
saat ini masih bisa kita rasakan.
Ketiga, fase yang
saat ini sedang kita semua jalani dan rasakan khususnya bagi warga nahdliyyin, yaitu
situasi menuntut kita untuk bersikap. Melalui sikap tersebut, maka sistem harus
dan mampu kita kuasai. Dari sinilah makna kaderisasi dari mulai fase hingga
menuju pasca dapat terorganisir, hingga pada akhirnya semua yang telah diraih
semata-mata adalah bekal untuk kita mengabdi terhadap NU, bangsa dan juga
negara.
Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengalami semangat yang membara (puncak) membela
keadilan yaitu pada masa Zamroni (Orde Baru) dan pada masanya Gusdur PMII
bingung arah. Dan kita sekarang sebagai kader PMII terlalu nyaman berada di
pusaran Kekuasaan dan terjebak dalam situasi kepemimpinan.
PMII berada
didinamika formasi, struktur Sosial yang sangat akur, dan yang menjadi
pertanyaan sekarang apakah PMII mampu diruang sesungguhnya?

No comments:
Post a Comment