Saturday, August 1, 2020

GERAKAN PMII DULU SEKARANG




Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau yang disingkat dengan PMII adalah sebuah organisasi kemahasiswaan. PMII sendiri merupakan alat vital bagi bangsa, yang berdiri pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya. Adapun ketua umum pertama PMII bernama Mahbub Djunaidi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman.
Independensi PMII; pada awal berdirinya PMII sepenuhnya berada di bawah naungan NU. PMII terikat dengan segala garis kebijaksanaan partai induknya, NU. PMII merupakan perpanjangan tangan NU, baik secara struktural maupun fungsional. Selanjutnya sejak dasawarsa 70-an, ketika rezim neo-fasis Orde Baru mulai mengkerdilkan fungsi partai politik, sekaligus juga penyederhanaan partai politik secara kuantitas, dan issue back to campus serta organisasi- organisasi profesi kepemudaan mulai diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, maka PMII menuntut adanya pemikiran realistis. 14 Juli 1972 melalui Mubes ke-III di Murnajati, PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati). Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII. Namun, betapapun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas dari paham Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan. Ahlussunnah wal Jamaah merupakan benang merah antara PMII dengan NU. Dengan Aswaja PMII membedakan diri dengan organisasi lain. Keterpisahan PMII dari NU pada perkembangan terakhir ini lebih tampak hanya secara organisatoris formal saja. Sebab kenyataannya, keterpautan moral, kesamaan background, pada hakikat keduanya susah untuk direnggangkan.
Pengurus PB PMII dari masa ke masa:
1.      Sahabat Mahbub Junaidi (Periode 1960–1967)
2.      Sahabat Muhammad Zamroni (Periode 1967-1973)
3.      Sahabat Abduh Paddare (Periode 1973-1977)
4.      Sahabat Ahmad Bagja (Periode 1977-1981)
5.      Sahabat Muhyiddin Arubusman (Periode 1981-1984)

6.      Sahabat Suryadharma Ali (Periode 1985-1988)
7.      Sahabat Muhammad Iqbal Assegaf (Periode 1988-1991)
8.      Sahabat Ali Masykur Musa (Periode 1991-1994)
9.      Sahabat Muhaimin Iskandar (Periode 1994-1997)
10.  Sahabat Syaiful Bahri Anshori (Periode 1997-2000)
11.  Sahabat Nusron Wahid (Periode 2000-2003)
12.  Sahabat A Malik Haramain (Periode 2003-2005)
13.  Sahabat Herry Azzumi (Periode 2005-2008)
14.  Sahabat Muhammad Rodli Kaelani (2008-2011)
15.  Sahabat Addin Jauharuddin (2011-2014)
16.  Sahabat Aminuddin Ma'ruf (2014-2017)
17.  Sahabat Agus Herlambang (2017-2019)
Dari hasil analisis terdapat tiga fase iklim yang diterima oleh organisasi berwarrna biru dan kuning ini. Pertama, kisaran tahun 1960 hingga 1985, pada proses perjalanan keislaman di tahun ini masih tradisional dan cenderung asing dengan modernitas, tentu hal yang demikian mengikuti dengan situasi dan kondisi yang ada pada tahun-tahun tersebut. Hingga hanya tinggal sekali dan dua kali, perihal niat dan ikhlas dalam proses perjuangan langgeng di dengungkan, untuk PMII dan juga NU berperan dan berkontribusi untu cita-citanya demi kemaslahatan umat.
Kedua, memasuki tahun 1985 hingga 2000-an, kelompok-kelompok Islam tradisional yang cenderung asing dengan modernitas mulai terbuka untuk bertransformasi menuju modernitas secara perlahan namun pasti. Sesuatu yang menjadi kegelisahan bersama bagi warga nahdliyyin pada tahun-tahun sebelumnya, terselamatkan oleh tokoh sentral pada masanya yaitu KH Abdurrahman Wahud atau yang biasa disapa Gus Dur. Atas segala sumbangsih tenaga, waktu dan pikiran yang beliau dedikasikan dengan penuh niat dan keikhlasan yang jernih dan tulus, mampu membuka gerbang dan juga jendela dalam mengindahkan cita-cita bersama dengan ruh kemaslahatan. Terbukti, melalui peran NU yang diprakarsainya, ketika berpindahnya fase orde lama menuju reformasi, menjadi figur dan tonggak terbukanya jalan menuju sistem yang sampai saat ini masih bisa kita rasakan.
Ketiga, fase yang saat ini sedang kita semua jalani dan rasakan khususnya bagi warga nahdliyyin, yaitu situasi menuntut kita untuk bersikap. Melalui sikap tersebut, maka sistem harus dan mampu kita kuasai. Dari sinilah makna kaderisasi dari mulai fase hingga menuju pasca dapat terorganisir, hingga pada akhirnya semua yang telah diraih semata-mata adalah bekal untuk kita mengabdi terhadap NU, bangsa dan juga negara.
            Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengalami semangat yang membara (puncak) membela keadilan yaitu pada masa Zamroni (Orde Baru) dan pada masanya Gusdur PMII bingung arah. Dan kita sekarang sebagai kader PMII terlalu nyaman berada di pusaran Kekuasaan dan terjebak dalam situasi kepemimpinan.
PMII berada didinamika formasi, struktur Sosial yang sangat akur, dan yang menjadi pertanyaan sekarang apakah PMII mampu diruang sesungguhnya?

No comments:

Post a Comment

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM