Agama dalam berbagai prespektif sebagai jalan untuk hidup bahagia, ingin masuk surga, takut akan neraka, terkadang juga sebagai alat untuk mencapai kekuasaan. Dari banyaknya prespektif itu, Islam di dunia ini seakan akan menjadi sorotan dunia, bukan karena perkembangannya, tapi banyak nya kelompok yang mengeklaim islam, yang menyalahkan semua pemahaman yang tidak cocok dengan nya. Akhirnya banyak muncul argumen bahwa islam itu pembunuh, karena ulah teroris yang mengecap dirinya islam.
Di Indonesia islam adalah agama mayoritas, dengan jumlah pemeluk terbanyak dari agama yang lain. Tetapi seiring berkembangnya zaman, seakan islam menjadi wadah atau topeng bagi orang- orang yang tidak bertanggung jawab. Dengan memakai dalih alqur’an dan hadist, mereka bermain dengan nama agama. Tanpa disadari banyak umat islam bahkan non-islam pun ikut terpancing dengan permainannya. Khususnya di dunia politik, dengan tanpa malu mengkampanyekan dirinya dengan dalih ayat dan hadist. Setelah menjadi apa yang dia inginkan, dia lupa dengan dalih ayat tersebut hingga melakukan kejahatan besar seperti korupsi, begitu miris dan memalukan.
Dalam sejarah islam, kejadian di atas juga pernah terjadi ketika wafatnya rasulullah, banyak nabi dan rasul palsu, dengan dalih wahyu yang diturunkan kepadanya hingga mengajarkan yang tidak sesuai dengan ketetapan di alquran dan hadist, perlu diketahui di dalam alqur’an surah Muhammad ayat 7 yang berarti “Barang siapa yang menolong agama allah, maka allah akan menolong orang tersebut.” Ayat ini sering disalah-artikan hingga menuai pro dan kontra. Tidak jarang agama islam perang dengan yang mengeklaim islam, karena pemahaman yang salah tersebut terjadilah gejolak permusuhan, padahal nabi muhammad tidak pernah mengajarkan islam dengan kekerasan. Ingat itu!
Sebagai seorang mahasiswa yang berkecimpung di dunia aktivis, harus bisa menengahi gejolak-gejolak kerusuhan seiring berkembangnya zaman, bukan tambah memperkeruh suasana. Mahasiswa adalah kendali negara, selagi kendali negara ini diisi oleh orang yang paham betul akan moderasi beragama agar tidak terjerumus ke dalam zaman Jahiliyah, negara ini akan aman. Tetapi jika sampai para aktivis ini dibungkam oleh orang orang yang mengeklaim dirinya islam yang benar, maka tamatlah sudah nasib negara ini. Dengan cara kaderisasi yang tepat dan kajian yang rutin, mungkin ini menjadi solusi yang tepat menurut saya, karena jika para senior sudah mementingkan urusan pribadinya, dan memanfaatkan kader untuk kepentingan pribadi maka hancurlah apa yang dicita-citakan oleh pendiri organisasi tersebut.
Sesuai dengan hadist nabi bahwa islam ini akan tepecah menjadi 73 golongan dan hanya 1 golongan yang benar , polemik terus berkembang , dan banyak kesalah pahaman sering terjadi ketika nantinya negara ini di isi oleh orang yang licik dalam beragama, ini juga pernah terjadi dalam versi kuno zaman wali songo. Banyak dukun dan para pemuka agama yang menyalah-pahami tentang ajaran wali songo, menghasut raja-raja agar juga ikut memusuhi. Tetapi atas izin Allah dengan kecerdikan dan terobosan yang dipakai oleh wali songo, semua itu diselesaikan dengan jalur perdamaian hingga minim pertumpahan darah. Seharusnya para pendakwah dan orang yang berpengaruh di negara ini bisa meniru cara dan terobosan wali songo dalam berdakwah. Saya yakin jika para petinggi negeri ini paham betul dengan model wali songo, Indonesia menjadi negara yang tidak mudah terprovokasi oleh oknum pengkhianat negara.
Zaman jahiliyah berbagai versi sudah sering kita dengar, pembodohan publik juga sering kita amati, semua itu bukan kebetulan saja. Itu terjadi karena dalam berpikirnya tidak sampai kepada pemikiran “orang yang tahu di tahunya” kadang terhenti di “orang yang tahu di tidak tahunya” berakibat sangat fatal. Banyak dalil yang keluar dari mulut yang sering membuat keonaran. Maka jangan salahkan hati ketika memilih salah dalam berpikir, salahkan pikiran yang selalu membuatmu dilema oleh semua hal sering kamu lihat. Bukankah hati ini akan bergerak jika mata yang kita fungsikan dengan baik dan difilter di otak, lalu hati akan memerintahkan tubuh ini untuk melakukan kebaikan, itu mungkin pemikiran orang bijak. Sering kali juga orang yang hanya sampai di “orang yang tidak tahu di tidak tahunya” naudzubillah dalam berpikir, inilah adalah kekejaman yang sering kita dapati, ketika orang bijak enggan mengurusi negara, malah di barisan negara hanya di isi oleh orang yang hanya mengandalkan kepintaran orang lain untuk mendapatkan keinginannya.
Dengan banyak wawasan dan polemik diatas, Tinggal kitanya bisa mengaplikasikan wawasan tersebut dengan sebaik mungkin. Dalam benak hati pernah terlintas sebuah keinginan ”Jikalau pengetahuanku di PMII ini tidak membantu, setidaknya tenaga dan apa saja yang aku punya siap untuk diberikan kepada PMII.”
SALAM PERGERAKAN......!
Oleh : Ahmad Muzakki Afandi
No comments:
Post a Comment