Saturday, March 28, 2020

Pro dan Kontra Sekolah yang Diliburkan Karena Corona (COVID-19)

Pro dan Kontra Sekolah yang Diliburkan Karena Corona (COVID-19)
Sekolah Online


Kasus penyebaran virus corona atau COVID-19 (coronavirus disease 2019) yang sudah terjadi sejak awal maret 2020 di Indonesia mulai menggelisahkan hati para orang tua. Apalagi disaat pandemi global virus corona seperti saat ini. Sehingga presiden Indonesia melakukan kebijakan stay at home untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Hal ini juga berimbas pada proses pembelajaran para siswa maupun mahasiswa yang diliburkan untuk belajar di rumah.
Di Indonesia hampir seluruh sekolah dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, bahkan sampai perguruan tinggi (Kampus) diliburkan karena corona atau COVID-19. Tetapi kegiatan belajar mengajar tidak berhenti begitu saja. Para pelajar tetap bisa melakukan kegiatan belajar melalui platform online (daring).
Beberapa orang memaklumi kebijakan libur sekolah dengan pertimbangan virus corona. Secara urgent mereka juga memutuskan untuk home learning dengan pengawasan guru dan pendampingan orang tua, beberapa orang tua tidak setuju dengan kebijakan ini karena tidak semua orang tua bisa menggunakan media sosial, akan tetapi mereka mau tidak mau tetap mengikuti kebijakan pemerintah ini.
Guna memastika anak-anak belajar di rumah dan tidak bermain ke warnet, main game atau ke mall. Beberapa petugas dan personel satpol PP melakukan operasi pengawasan masyarakat. Penertiban ini hampir dilakukan di seluruh wilayah Indonesia.
Jika ditemukan ada anak main game di warnet atau mall akan diminta pulang bahkan orang tuanya akan dipanggil. Sementara, bagi sebagian orang tua yang mendampingi atau mengajari anaknya belajar di rumah juga mengeluh bahkan kesal dengan berbagai keluhan yang bermunculan di medsos. Mulai dari stress, pusing, bahkan protes keras karena merasa tugas yang diberikan para guru secara online terlalu banyak dan berat.
Tidak sedikit orang tua langsung protes bahkan minta beban tugas dikurangi. Dengan berbagai alasan serta fakta masing-masing. Mulai kebanyakan beban, anak stres, bahkan sampai sakit dan masuk rumah sakit. Tentu kita semua harus maklum. Kondisi ini terpaksa diberlakukan karena keadaan darurat serta mencegah bahaya yang lebih besar dari penyebaran covid-19 saat ini.
Namun, sesuai ketentuan Pemerintah, siswa harus tetap masuk dengan metode belajar daring atau memberikan tugas via online, yang artinya ini merupakan pembelajaran jarak jauh kepada para muridnya. Jika kondisi sudah normal, tentu pembelajaran di sekolah akan dipulihkan kembali.
Dalam kondisi seperti ini, salah seorang wali murid Hai School di Kota Padang mengaku saatnya kita sadar, proses belajar anak itu tak cukup hanya di sekolah. Orang tua juga harus berperan, sekaligus saatnya menghargai peran dan pengabdian para guru. "Tugas guru mendidik anak di kelas dari pagi sampai siang/ sore hari bukan pekerjaan mudah. Menghadapi anak satu kelas dengan beragam perilakunya jelas butuh trik dan kesabaran ekstra. Tapi, itulah jati dirinya seorang guru," katanya saat diminta komentarnya mengenai belajar secara online ini. Kondisi ini juga bermanfaat supaya kita bisa tau dan merasakan  bagaimana rasanya menjadi seorang guru.
Menurutnya, justru dengan adamya pembelajaran secara online, beban tugas bagi anak sangat luar biasa. Meski dari rumah, yang kelihatan santai namun beban tugas anak-anak cukup melelahkan juga. "Jika dituruti, sampai tengah malam, tugas dari guru belum selesai dikerjakan," ujarnya.
Ketua KPAI Ratna Listyarti sempat berkomentar, belajar di rumah secara online justru membuat anak makin stress. "Banyak tugas bahkan jauh lebih banyak jika dibandingkan belajar di sekolah biasanya," katanya di Jakarta.
Intinya kita harus melaksanakan dan mengikuti aturan atau kebijakan dari pemerintah. Aturan atau kebijakan ini yang terbaik untuk kita semua agar tidak terkena wabah virus corona atau COVID-19 dan guna memutuskan penyebarannya (penularannya).
            Sekian dari penulis, semoga dengan adanya tulisan ini bisa memberi informasi yang bermanfaat bagi pembaca.

(Oleh: Sahabat Warda)

No comments:

Post a Comment

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM