![]() |
| Alina Chelens PMII Komisariat STIT Al Karimiyah Sumenep |
Berbincang Mahasiswa saya kira sangat
komplek dan menegangkan. Karena bagaimanapun ada sejarah yang senantiasa
menjadi kebanggaan tersendiri yang senantiasa dikenang, juga realitas yang
terus bergulir mengimbangi perjalanan Mahasiswa selanjunya. Sejarah perjalanan
Mahasiswa tempo dulu, seringkali menjadi acuan gerakan Mahasiswa yang mampu
memberikan kontribusi penting bagi keberlangsungan negara pun kesejahteraan
sosial waktu itu. Baik memang hal itu diingat-ingat, sebagai bentuk koreksi
perjalanan Mahasiswa selanjutnya. Sehingga Mahasiswa memiliki sandaran yang
logis mengawali berbagai gerakan perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Semisal: ketika kenangan tentang keberhasilan pemuda (baca: jebolan mahasiswa)
mendorong lengsernya resim orde baru, dan sejarah lain yang berkaitan erat
dengan kemerdekaan bangsa ini dari segala bentuk ketidak adilan. Semua itu
menjadi catatan berharga bagi mahasiswa dalam rangka meningkatkan kualitas
kehidupan sosial yang lebih baik.
Era
globalisasi saat ini, gerakan mahasiswa dengan berbagai kekayaan: baik
intelektual maupun pengalaman, telah cukup mampu memberikan pelayanan juga
penyambung keluh kesah masyarakat kepada para pemimpin negeri ini. Sehingga
hal-hal yang menjadi kejanggalan mampu sesegera mungkin diselesaikan. Dengan
langkah demikian, segala bentuk persoalan yang terjadi ditatanan bawah, tidak
luput dari perhatian pemerintah. Dengan demikian ketimpangan antara pemerintah
dengan masyarakat akan terminimalisir. Artinya , anggapan masyarakat sebagai
alas dan pemerintah sebagai kaki sendirinya terselesaikan.
Disini saya tidak akan belajar memungkiri
kehidupan mahasiswa dengan mengatakan sisi positif saja. Namun akan berupaya
mengungkap realitas yang terjadi dari kehidupan mahasiswa itu sendiri. Sebab
jika ungkapan baik selalu dikeluarkan, biasanya ada banyak pula yang
dikecewakan. Karena pernyataan tak jarang selalu berbeda dari kenyataan. Nah, kehidupan saat ini mengiring
mahasiswa ke ranah yang sedemikian “miris”. Mahasiswa yang katanya memiliki
cakrawala pemikiran dan keluasan pengalaman untuk menyikapi persoalan sosial,
seringkali berubah kedudukan menjadi masalah sosial itu sendiri.Seolah catatan
kebanggaan sejarah mahasiswa tidak akan terjadi lagi di zaman sekarang.
Entah apa yang menjadikan fungsi
mahasiswa sebagai agent of control
berubah menjadi yang dikontrol. Tapi yang pasti, keberadaan mahasiswa
dilingkungan sosial era ini penting kiranya dipertanyakan eksistensinya. Karena
berbagai perubahan sosial dengan sendirinya mengubah orientasi mahasiswa itu
sendiri, atau memang ada sesuatu yang mengiring mahasiswa menjadi problem
sosial tersebut. Saya akan coba memaparkan gagasan pendorong “buruknya” peran
dan fungsi mahasiswa sebagai perubah dan pengontrol laju sosial yang tidak
jelas.
Covid -19 merupakan virus yang benar-benar jenius, dan bahkan
disebut sebagai political virus atau virus politik. Kenapa demikian karena covid-19
pertama kali menyerang Wuhan, yang mana Wuhan merupakan kota tempat
persimpangan jalur kereta api yang menghubungkan semua kota-kota besar Tiongkok
serta Wuhan merupakan satu-satunya kota
yang memiliki bandara dengan penerbangan langsung ke lima benua di tiongkok
tengah. Dengan demikian akibat dari covid-19 ini maka Wuhan akan mengalami
kerugian yang sangat besar karena harus di Lockdown.
Perjuangan mahasiswa pergerakan di era
pandemi global ini, mereka dengan sigap berada digarda terdepan dalam memberikan
sumbangsi tenaga dan pikirannya dalam menangkal peyebaran wabah ini dengan
menyampaikan kepada masyarakat untuk
megikuti instruksi pemerintah dan dokter serta melaukan penyempentrotan
disekfektan dan pembacan rotibl haddad sebab tidak hanya rohania saja yang kita
jaga dan diperketat tapi batiniah juga harus lebih ditingkatkan sebab kita
sebagai mahasiswa pergerakan yang harus selalu bersikap moderat dalam menyikapi
hal apapun termasuk pandemi ini. Perjuangan tidak akan pernah selesai, karena
problematika sosial selalu datang bersama dengan eksistensi kemanusiaan, maslah
adalah bagian dari sunnatullah, ikhtiyar adalah cara yang selalu dilakkan oleh
mahasiswa pergerakan agar kehadirannya bisa berfungsi sebagai solusi, bukan
malah menambah beban baru bagi realitas kebangsaan kita.
Setiap era memliki tantangan
berbeda-beda, termasuk dalam konteks kekinian dimana hari ini negara tengan
dihimpit oleh keresahan pandmi global yang tidak tahu sampai kapan akan
berakhir, dengan demikian mahasiswa dengan mudah menganalisa kenyataan
lingkungan hidupnya. Ironinya, Apakah benar keberhasilan hanya dicatat melalui
gedung kramik, berlapis kaca dan sejenisnya ?
Dua hal diatas saya kira cukup untuk
menjawab bagaimana kegagalan mahasiswa hari ini mengontrol kejadian sosial yang
terus saja bergulir. Saya pun tidak perlu menyatakan solusi, karena dengan
sendirinya pemecahan itu akan tercipta bila sistem pendidikan dan kemewahan itu
melepas cengkramannya terhadap mahasiswa. Ada cara yang lebih simpel bagi
mahasiswa yang hendak menjadi penjawab persoalan sosial, yaitu dengan
menumbuhkan kesadaran tentang kehidupan sosial yang kelak akan menjadi tanggung
jawabnya sebagai agent of change dan
agent of control social.

Bukan rayon kak, tapi dari pk pmii stit al karimiyyah
ReplyDeleteehh maap, segera diperbaiki
Delete