Friday, April 17, 2020

Kesadaran Mahasiswa terhadap Covid-19 (Refleksi Kehidupan Mahasiswa Masa Kini dari Topan Perubahan Sosial)



Alina Chelens PMII Komisariat STIT Al Karimiyah Sumenep
Alina Chelens PMII Komisariat STIT Al Karimiyah Sumenep

Berbincang Mahasiswa saya kira sangat komplek dan menegangkan. Karena bagaimanapun ada sejarah yang senantiasa menjadi kebanggaan tersendiri yang senantiasa dikenang, juga realitas yang terus bergulir mengimbangi perjalanan Mahasiswa selanjunya. Sejarah perjalanan Mahasiswa tempo dulu, seringkali menjadi acuan gerakan Mahasiswa yang mampu memberikan kontribusi penting bagi keberlangsungan negara pun kesejahteraan sosial waktu itu. Baik memang hal itu diingat-ingat, sebagai bentuk koreksi perjalanan Mahasiswa selanjutnya. Sehingga Mahasiswa memiliki sandaran yang logis mengawali berbagai gerakan perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Semisal: ketika kenangan tentang keberhasilan pemuda (baca: jebolan mahasiswa) mendorong lengsernya resim orde baru, dan sejarah lain yang berkaitan erat dengan kemerdekaan bangsa ini dari segala bentuk ketidak adilan. Semua itu menjadi catatan berharga bagi mahasiswa dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan sosial yang lebih baik.
            Era globalisasi saat ini, gerakan mahasiswa dengan berbagai kekayaan: baik intelektual maupun pengalaman, telah cukup mampu memberikan pelayanan juga penyambung keluh kesah masyarakat kepada para pemimpin negeri ini. Sehingga hal-hal yang menjadi kejanggalan mampu sesegera mungkin diselesaikan. Dengan langkah demikian, segala bentuk persoalan yang terjadi ditatanan bawah, tidak luput dari perhatian pemerintah. Dengan demikian ketimpangan antara pemerintah dengan masyarakat akan terminimalisir. Artinya , anggapan masyarakat sebagai alas dan pemerintah sebagai kaki sendirinya terselesaikan.
Disini saya tidak akan belajar memungkiri kehidupan mahasiswa dengan mengatakan sisi positif saja. Namun akan berupaya mengungkap realitas yang terjadi dari kehidupan mahasiswa itu sendiri. Sebab jika ungkapan baik selalu dikeluarkan, biasanya ada banyak pula yang dikecewakan. Karena pernyataan tak jarang selalu berbeda dari kenyataan. Nah, kehidupan saat ini mengiring mahasiswa ke ranah yang sedemikian “miris”. Mahasiswa yang katanya memiliki cakrawala pemikiran dan keluasan pengalaman untuk menyikapi persoalan sosial, seringkali berubah kedudukan menjadi masalah sosial itu sendiri.Seolah catatan kebanggaan sejarah mahasiswa tidak akan terjadi lagi di zaman sekarang.
Entah apa yang menjadikan fungsi mahasiswa sebagai agent of control berubah menjadi yang dikontrol. Tapi yang pasti, keberadaan mahasiswa dilingkungan sosial era ini penting kiranya dipertanyakan eksistensinya. Karena berbagai perubahan sosial dengan sendirinya mengubah orientasi mahasiswa itu sendiri, atau memang ada sesuatu yang mengiring mahasiswa menjadi problem sosial tersebut. Saya akan coba memaparkan gagasan pendorong “buruknya” peran dan fungsi mahasiswa sebagai perubah dan pengontrol laju sosial yang tidak jelas.
Covid -19 merupakan virus yang benar-benar jenius, dan bahkan disebut sebagai political virus atau virus politik. Kenapa demikian karena covid-19 pertama kali menyerang Wuhan, yang mana Wuhan merupakan kota tempat persimpangan jalur kereta api yang menghubungkan semua kota-kota besar Tiongkok serta  Wuhan merupakan satu-satunya kota yang memiliki bandara dengan penerbangan langsung ke lima benua di tiongkok tengah. Dengan demikian akibat dari covid-19 ini maka Wuhan akan mengalami kerugian yang sangat besar karena harus di Lockdown.
Perjuangan mahasiswa pergerakan di era pandemi global ini, mereka dengan sigap berada digarda terdepan dalam memberikan sumbangsi tenaga dan pikirannya dalam menangkal peyebaran wabah ini dengan menyampaikan kepada  masyarakat untuk megikuti instruksi pemerintah dan dokter serta melaukan penyempentrotan disekfektan dan pembacan rotibl haddad sebab tidak hanya rohania saja yang kita jaga dan diperketat tapi batiniah juga harus lebih ditingkatkan sebab kita sebagai mahasiswa pergerakan yang harus selalu bersikap moderat dalam menyikapi hal apapun termasuk pandemi ini. Perjuangan tidak akan pernah selesai, karena problematika sosial selalu datang bersama dengan eksistensi kemanusiaan, maslah adalah bagian dari sunnatullah, ikhtiyar adalah cara yang selalu dilakkan oleh mahasiswa pergerakan agar kehadirannya bisa berfungsi sebagai solusi, bukan malah menambah beban baru bagi realitas kebangsaan kita.
Setiap era memliki tantangan berbeda-beda, termasuk dalam konteks kekinian dimana hari ini negara tengan dihimpit oleh keresahan pandmi global yang tidak tahu sampai kapan akan berakhir, dengan demikian mahasiswa dengan mudah menganalisa kenyataan lingkungan hidupnya. Ironinya, Apakah benar keberhasilan hanya dicatat melalui gedung kramik, berlapis kaca dan sejenisnya ?
Dua hal diatas saya kira cukup untuk menjawab bagaimana kegagalan mahasiswa hari ini mengontrol kejadian sosial yang terus saja bergulir. Saya pun tidak perlu menyatakan solusi, karena dengan sendirinya pemecahan itu akan tercipta bila sistem pendidikan dan kemewahan itu melepas cengkramannya terhadap mahasiswa. Ada cara yang lebih simpel bagi mahasiswa yang hendak menjadi penjawab persoalan sosial, yaitu dengan menumbuhkan kesadaran tentang kehidupan sosial yang kelak akan menjadi tanggung jawabnya sebagai agent of change dan agent of control social.

2 comments:

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM