![]() |
| Miftahus Sholichah PMII Rayon Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Lumajang |
Banyak
tahu tentang kata mahasiswa, mahasiswa adalah orang belajar di perguruan tinggi
baik universitas, institut ataupun akademi. Mereka yang telah terdaftar di
perguruan tinggi itulah yang disebut sebagai mahasiswa. Tetapi makna mahasiswa
tidak sampai pada titik itu saja, menjadi anggota di perguruan tinggi itu
hanyalah persyaratan global saja agar dapat menyandang nama mahasiswa. Menyandang sebagai mahasiswa merupakan sebuah
kebahagiaan dan juga bencana tersendiri bagaimana tidak, mahasiswa di juluki
sebagai agen perubahan mereka yang merupakan seorang mahasiswa akan menjadi
sorotan pertama dikalangan masyarakat apalagi bagi mereka yang bertempat
tinggal di desa, kerap kali akan mendapatkan perhatian penuh dari warga desa. Tetapi
tidak semua orang akan befikir baik tentang mahasisawa, kerap kali mahasiswa di
cibir dan dihujat oleh masyarakat, yang dianggap si tukang nongkrong, si tukang
perusuh atau juga si tukang demo. Jika dijawab itu fakta atau fitnah maka
jawabanya fakta, yah mahasiswa memang mereka yang suka nongkrong tetapi yang
selalu menyelipkan diskusi tentang geopolitika dan sebagainya, jika dianggap
tukang perusuh atau demo itu memang benar, tak lain dilakukan hanya untuk membela
masyarakat yang tidak pernah dilirik oleh pemerintah, biasa disebut dengan
penyulur aspirasi rakyat walau tak sedikit masyarakat yang tak sadar akan hal
itu.
Setiap lima tahun sekali, negara Indonesia
selalu heboh dan gempar karena terjadi pemilu, pemilu sendiri adalah suatu
sistem pemilihan umum yang di gunakan untuk memilih calon dan wakil calon
presiden, tak heran banyak perselisihan yang terjadi di masyarakat atau bahkan
sampai terjadi di kalangan pemerintahan, disitu terjadilah persaingan kubu-kubu
yang mendukung diantara keduannya. Keresahan dalam setiap pra pemilihan calon
presiden memang kerap kali slalu terjadi, sama halnya seperti negera tetangga,
saat terjadinya pemilu suatu negara tersebut akan heboh dan gempar, walau cara pemilihan yang bisa dikatakan jauh
berbeda antara negara satu dan yang lainnya, tetapi kehebohan ini dirasakan
oleh tiap tiap negaranya. Kehebohan ini tidak lain karena ada campur tangan
dari para profokator untuk mencuci otak masyarakat untuk membuat masyarakat mempunyai
pemikiran yang sejalan dengannya, sehingga masyarakat berada di pihak yang ia
dukung.
Pencucian otak ini sangatlah gampang
sekali, bagi masyarakat yang ingin mencari tahu calon ketua dan wakil presiden
itu bukanlah hal yang sulit, apalagi pada zaman sekarang, segala teknologi
sudah canggih akses informasi bisa diakukan dimana saja dan kapan saja, masyarakat
bisa mencarinya di berbagai portal media online atau pun masa, itu mudah
bukan?. Tetapi juga akan seratus delapan puluh derajat menjadi mengerikan jika sang pengguna media
adalah orang yang awam, maksudnya ia yang tak paham dengan literasi media,
bagaimana tidak? karena kemudahan dalam mengakses informasi tetapi tidak bisa
menggunakannya dengan bijak akibatnya terlalu percaya dengan berita berita yang
tak tahu asalnya dari mana, hal itu akan menjadikan ia mudah terprofokasi,
apalagi bagi masyarakat yang masih bingung dengan pilihannya atau malah
masyarakat yang masih belum menentukan siapa yang akan dipilihnya, masyarakat
yang seperti ini akan mudah sekali terdokrin pikirnnya jika hanya melihat dan
percaya pada satu media saja tanpa adanya pengkajian lebih lanjut.
Maka di sinilah peran mahasiswa
pergerakan sangat dibutuhkan oleh masyarakat-masyarakat awam, mahasiswa adalah ia
yang menjabat sebagai agent of change dan agent of control, yang
memiliki arti sebagai agen perubahan dan agen kontrol, dari dua jabatan yang
disandang tersebut, mahasiswa harus bisa menciptakan posisi diantara para
masyarakat untuk dapat mengajak masyarakat memilih sesuai dengan kata hatinya
tanpa ada dokrinan dari media manapun, serta dapat memberikan pengertian di
antara dua kubu dengan cara yang sportif. Seorang mahasiswa juga harus serta mampuh
merubah menset masyarakat yang awalnya asal comot media menjadi lebih bijak
dalam bermedia serta juga harus bisa menetralkan tingkat emosional masyarakat
yang awalnya terlalu fanatik terhadap apa yang dia pilih sehingga dapat
meresahkan masyarakat yang lain menjadi lebih bersikap sehat dalam memilih. Walau
memang hal itu tidak semudah yang di bayangkan karena memang berada ditengah-tengah
masyarakat yang tak semua masyarakat mampu menerimanya. Tetapi itu merupakan
tugas dari mahasiswa untuk menjawab pertanyaan pertanyaan masyarakat yang tak
di jangkau oleh pemerintah setempat. Sehingga mahasiswa mampuh menjadi penyalur
lida rakyat.
Jadi, mahasiswa pergerakan tidak
hanya enak enakkan belajar di kampus tetapi juga harus melihat kerana
masyarakat dan mengerti apa yang kurang dari mereka dan apa yang mereka butuh.

No comments:
Post a Comment