Friday, April 17, 2020

Mencerdaskan Masyarakat dalam Memilih Pemimpin




Miftahus Sholichah PMII Rayon Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Lumajang
Miftahus Sholichah PMII Rayon Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Lumajang

            Banyak tahu tentang kata mahasiswa, mahasiswa adalah orang belajar di perguruan tinggi baik universitas, institut ataupun akademi. Mereka yang telah terdaftar di perguruan tinggi itulah yang disebut sebagai mahasiswa. Tetapi makna mahasiswa tidak sampai pada titik itu saja, menjadi anggota di perguruan tinggi itu hanyalah persyaratan global saja agar dapat menyandang nama mahasiswa.  Menyandang sebagai mahasiswa merupakan sebuah kebahagiaan dan juga bencana tersendiri bagaimana tidak, mahasiswa di juluki sebagai agen perubahan mereka yang merupakan seorang mahasiswa akan menjadi sorotan pertama dikalangan masyarakat apalagi bagi mereka yang bertempat tinggal di desa, kerap kali akan mendapatkan perhatian penuh dari warga desa. Tetapi tidak semua orang akan befikir baik tentang mahasisawa, kerap kali mahasiswa di cibir dan dihujat oleh masyarakat, yang dianggap si tukang nongkrong, si tukang perusuh atau juga si tukang demo. Jika dijawab itu fakta atau fitnah maka jawabanya fakta, yah mahasiswa memang mereka yang suka nongkrong tetapi yang selalu menyelipkan diskusi tentang geopolitika dan sebagainya, jika dianggap tukang perusuh atau demo itu memang benar, tak lain dilakukan hanya untuk membela masyarakat yang tidak pernah dilirik oleh pemerintah, biasa disebut dengan penyulur aspirasi rakyat walau tak sedikit masyarakat yang tak sadar akan hal itu.
            Setiap lima tahun sekali, negara Indonesia selalu heboh dan gempar karena terjadi pemilu, pemilu sendiri adalah suatu sistem pemilihan umum yang di gunakan untuk memilih calon dan wakil calon presiden, tak heran banyak perselisihan yang terjadi di masyarakat atau bahkan sampai terjadi di kalangan pemerintahan, disitu terjadilah persaingan kubu-kubu yang mendukung diantara keduannya. Keresahan dalam setiap pra pemilihan calon presiden memang kerap kali slalu terjadi, sama halnya seperti negera tetangga, saat terjadinya pemilu suatu negara tersebut akan heboh dan gempar,  walau cara pemilihan yang bisa dikatakan jauh berbeda antara negara satu dan yang lainnya, tetapi kehebohan ini dirasakan oleh tiap tiap negaranya. Kehebohan ini tidak lain karena ada campur tangan dari para profokator untuk mencuci otak masyarakat untuk membuat masyarakat mempunyai pemikiran yang sejalan dengannya, sehingga masyarakat berada di pihak yang ia dukung.
            Pencucian otak ini sangatlah gampang sekali, bagi masyarakat yang ingin mencari tahu calon ketua dan wakil presiden itu bukanlah hal yang sulit, apalagi pada zaman sekarang, segala teknologi sudah canggih akses informasi bisa diakukan dimana saja dan kapan saja, masyarakat bisa mencarinya di berbagai portal media online atau pun masa, itu mudah bukan?. Tetapi juga akan seratus delapan puluh derajat  menjadi mengerikan jika sang pengguna media adalah orang yang awam, maksudnya ia yang tak paham dengan literasi media, bagaimana tidak? karena kemudahan dalam mengakses informasi tetapi tidak bisa menggunakannya dengan bijak akibatnya terlalu percaya dengan berita berita yang tak tahu asalnya dari mana, hal itu akan menjadikan ia mudah terprofokasi, apalagi bagi masyarakat yang masih bingung dengan pilihannya atau malah masyarakat yang masih belum menentukan siapa yang akan dipilihnya, masyarakat yang seperti ini akan mudah sekali terdokrin pikirnnya jika hanya melihat dan percaya pada satu media saja tanpa adanya pengkajian lebih lanjut.
            Maka di sinilah peran mahasiswa pergerakan sangat dibutuhkan oleh masyarakat-masyarakat awam, mahasiswa adalah ia yang menjabat sebagai agent of change dan agent of control, yang memiliki arti sebagai agen perubahan dan agen kontrol, dari dua jabatan yang disandang tersebut, mahasiswa harus bisa menciptakan posisi diantara para masyarakat untuk dapat mengajak masyarakat memilih sesuai dengan kata hatinya tanpa ada dokrinan dari media manapun, serta dapat memberikan pengertian di antara dua kubu dengan cara yang sportif. Seorang mahasiswa juga harus serta mampuh merubah menset masyarakat yang awalnya asal comot media menjadi lebih bijak dalam bermedia serta juga harus bisa menetralkan tingkat emosional masyarakat yang awalnya terlalu fanatik terhadap apa yang dia pilih sehingga dapat meresahkan masyarakat yang lain menjadi lebih bersikap sehat dalam memilih. Walau memang hal itu tidak semudah yang di bayangkan karena memang berada ditengah-tengah masyarakat yang tak semua masyarakat mampu menerimanya. Tetapi itu merupakan tugas dari mahasiswa untuk menjawab pertanyaan pertanyaan masyarakat yang tak di jangkau oleh pemerintah setempat. Sehingga mahasiswa mampuh menjadi penyalur lida rakyat.
            Jadi, mahasiswa pergerakan tidak hanya enak enakkan belajar di kampus tetapi juga harus melihat kerana masyarakat dan mengerti apa yang kurang dari mereka dan apa yang mereka butuh.

No comments:

Post a Comment

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM