![]() |
Abdur Rofiq PMII Komisariat STAI
Bustanul Ulum Krai Lumajang
Ditengah kondisi yang semakin menggentingkan publik akibat dari merebaknya
wabah Covid-19 yang berhasil menelan korban 373 jiwa per- minggunya. (Ahmad Yurianto/CNN Indonesia). Pemerintah dunia khususnya Indonesia dibuat bercibaku untuk memutus mata rantai dan
menanggulangi dampak dari serangan virus yang mematikan ini.
Semua sektor dihantam habis – habisan olehnya, mulai dari perindustrian, ketahanan, pendidikan, sosial - budaya, kesehatan dan sebagainya. Tidak hanya
Negara, masyarakat di akar rumput juga terkena dampaknya. Pada umumnya, masyarakat awam sedikit mengentengkan dampak dari wabah ini, ketidaktahuan mereka tentang proses penyebaran virus dan
dampak yang diakibatkan membuat masyarakat bertingkah seolah tidak terjadi apapun. Terbukti dengan banyaknya pemuda - pemudi yang masih keluar rumah pergi
ngopi dan membuat pekumpulan ditengah ganasnya wabah. Hal ini
membuat pemangku kebijakan melakukan penegasan himbauan dengan berpatroli dan menindak tegas siapapun yang
berkeluyuran tanpa kepentingan syar'i dan tidak mengindahkan himbauan pemerintah.
Kepanikan masyarakat terhadap pandemi ini mulai
menguat. Beberapa perbincangan masyarakat, Covid-19 selalu menjadi topik utama
dalam diskusi - diskusi yang
dilakukan. Hal ini memicu para kaum akademisi khususnya kader
– kader PMII untuk terlibat langsung dalam proses pencegahan
dan penanggulangan wabah ini. Diskusi - diskusi ilmiah yang
mengusung tema bergenre
Covid-19 cukup
dilakukan
dengan massif, dengan menghadirkan beberapa narasumber
yang
kompeten di dalamnya, polemik ini berusaha ditelisik dan
dibedah secara komprehensif melalui
berbagai pendekatan ilmu. Sebagai kaum terpelajar yang
menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan sadar akan
pentingnya kesejahteraan. PMII harus bergerak digarda terdepan untuk ikut serta membantu
pemerintah dalam memerangi pandemi ini sesuai kompetensi yang dimiliki. Oleh sebab itu, penulis meresume beberapa point yang bisa diperankan oleh kader PMII dalam memerangi wabah Covid-19.
1. Sosialisasi Pentingnya Menjaga Pola Hidup Sehat dan Sosial Distancing
Dalam
beberapa riset kesehatan disebutkan bahwasanya setiap tubuh manusia memiliki sistem pertahanan (imunitas) yang dapat membentengi tubuh dari
bakteri
atau penyakit. Oleh karenannya menjaga pola
hidup bersih dan sehat sangat dianjurkan dan diperlukan untuk menjaga stamina tubuh.
Umumnya pola
hidup
masyarakat kurang
memperhatikan sistem daya
tahan tubuh
seperti menjaga pola makan dan tidur, sehingga potensi virus ini menyerang lebih besar
berhasil. Pun memberikan pemahaman
kepada
masyarakat terkait proses penyebaran virus ini seperti menjaga jarak dan
tidak berinteraksi langsung dengan hewan. Adanya sosialisasi yang
digalakkan akan membantu masyarakat untuk membentengi diri sendiri dari serangan penyakit.
2. Memberikan Keamanan Psikis
Dipercaya
atau tidak, masyarakat awam sangat membutuhkan motivasi untuk memerangi virus ini.
Angka
korban yang
terus bertambah membuat tekanan yang
luar biasa kepada psikis masyarakat sehingga jika kehawatiran yang
ditimbulkan terlalu berlebihan akan
mempengaruhi sistem kerja pertahanan tubuh.
Kondisi seperti ini rentan diserang
oleh virus.
Ibnu Sina, salah seorang filsuf sekaligus dokter
Islam kelahiran persia, (980 M. – 1037 M.) pernah berkata bahwa " Kepanikan adalah separuh penyakit, Ketenangan adalah separuh obat dan
Kesabaran adalah permulaan kesembuhan". Hal ini diperkuat oleh pernyataan dr. Andri, SpK, FACLP
dalam akun twitternya, ia memberikan penjelasan tentang gejala psikosomatik yang memicu Amygdala atau pusat
rasa
cemas terlalu aktif bekerja sehingga memberikan dampak yang kurang
baik terhadap tubuh.
3. Ikut Serta Dalam Geliat Sosial
Seperti yang
telah disampaikan diatas, bahwasanya pandemi ini telah menghantam
semua sektor termasuk lini perekonomian. Lebih - lebih dikawasan zona
merah, pedagang
banyak
kehilangan pasarnya karena konsumen banyak
yang menahan diri untuk tidak keluar rumah, sedang pekerja juga banyak kehilangan mata pencahariaannya sebab diisolasi atau karantina. Oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, kader PMII semestinya ikut andil dalam geliat sosial baik yang
dilakukan oleh
lembaga pemerintah maupun secara mandiri. Hal yang bisa dilakukan
antara lain dengan memberikan bantuan berupa membagikan masker, melakukan penyemprotan disinfektan, atau
berdonasi berupa barang maupun
uang yang nantinya didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Anjuran untuk membantu sesama
juga
disampaikan dalam literatur - literatur Islam dalam menghadapi wabah (Tho'un). Bahkan terdapat anjuran untuk menyegerakan berzakat/Ta'jilu Zakat harta/Maal (Tijaroh) meskipun tidak sampai satu Nishob dan
satu Haul. Menurut
Kalangan Syafi'i dan
Maliki, Imam Baghowi dalam kitab
Al - Majmu'
Syarhul Muhadzdzab menjelaskan tentang kebolehan mengeluarkan Zakat Fitrah diselain Bulan Ramadhan dengan melihat kondisi mustahiq (orang yang berhak) sangat membutuhkan.
Dalam
konteks memerangi pandemi yang telah
melumpuhkan Indonesia, sudah semestinya seluruh lapisan masyarakat bersama pemerintah pasang badan untuk menjaga Indonesia dari apapun yang mengancam keutuhan dan
kesejahteraan, jangan biarkan keacuhan kita mendorong Indonesia jatuh dalam keterpurukan. Semoga badai
ini cepat berlalu. Get well soon my country.

No comments:
Post a Comment