Pada zaman dahulu, ada satu kadipaten (kabupaten) yang bernama Pajarakan. Kadipaten itu dipimpin oleh seorang adipati yang bernama Menak Koncar. Dia adalah seorang adipati yang setia pada Majapahit.
Ratu Kencanawungu yang menduduki takhta pada saat itu dibuat sibuk dengan pemberontakan yang terjadi di ber bagai daerah. Akibatnya, dia tidak sempat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Salah satu daerah yang mem berontak adalah Kadipaten Blambangan.
Kadipaten itu ingin melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Untuk mewujudkan rencana tersebut. Adipati Menak Jinggo yang menjadi penguasa di Blambangan, me mengaruhi kadipaten lain di sekitarnya. Termasuk me mengaruhi Adipati Menak Koncar untuk bergabung dengan Blambangan.
"Majapahit di ambang kehancuran. Kencanawungu tidak sehebat pendahulunya. Sebagai seorang wanita, gerak langkahnya terlalu lamban untuk menjadi penguasa. Dia tidak akan mampu memegang kendali Majapahit. Jadi, apa untungnya kamu pertahankan Pajarakan tetap di bawah kekuasaan Majapahit?" kata Menak Jinggo memengaruhi Menak Koncar.
"Ratu Kencanawungu belum lama menduduki takhta. Masih belum cukup waktu bagi kita untuk memberikan pe nilaian. Tapi seandainya dugaanmu itu benar, tidak sepantasnya kita melepaskan diri dari Majapahit. Justru kita harus membantu Ratu Kencanawungu agar Majapahit tetap dapat berdiri tegak di bumi Nusantara ini. ujar Menak Koncar.
"Kenapa kamu begitu setia pada pemerintahan Majapahit? Padahal Majapahit sama sekali tidak menghargai jasa-jasamu. Lihatlah, masa pengabdianmu di Majapahit sudah cukup lama. Tapi kamu tetap saja ditempatkan dil daerah terpencil seperti Pajarakan. Padahal teman-teman seangkatanmu memperoleh kedudukan yang tinggi di pusat pemerintahan."
"Aku berjuang bukan untuk mencari pangkat dan ke kuasaan, Menak Jinggo. Aku berjuang karena terdorong keinginan untuk menyejahterakan rakyat negeri ini."
"Bergabunglah dengan Blambangan. Bila Majapahit berhasil kita taklukkan, dan Nusantara berada dalam genggaman kita, kau akan kuangkat sebagai patih di Blambangan."
"Tidak. Biar kau bujuk dengan cara apa pun, aku tidak akan berpaling dari Majapahit."
Mengetahui usahanya untuk membujuk Menak Koncar gagal. Adipati Blambangan pun menggunakan cara ke kerasan. Dengan membawa ratusan prajurit pilihan, Menak Jinggo menyerang Pajarakan.
Tidak sulit bagi Menak Jinggo yang sakti, dengan prajurit nya, menaklukkan lawannya. Bahkan dalam satu peperang an, keris Menak linggo berhasil merobek perut Menak Koncar
Melihat pemimpinnya terluka parah. para prajurit Pajarakan segera bertindak. Mereka menyelamatkan Menak Koncar, dengan membawanya pergi meninggalkan medan peperangan.
Tujuan mereka Gunung Semeru. Tempat itu dianggap paling aman untuk menyelamatkan diri dari kejaran Menak Jinggo beserta para prajurit Blambangan.
Namun, pelarian tersebut tidak berjalan mulus. Menak Jinggo terus mengejar, ke mana pun mereka pergi. Bahkan ketika sampai di suatu desa yang sempat dijadikan per singgahan Menak Koncar dan prajuritnya, dengan sangat kejam Menak Jinggo membakar habis desa tersebut. Di kemudian hari, desa itu diberi nama Kutorenon (berasal dari bahasa Madura atenon yang artinya terbakar').
Menak Koacar yang tengah menyelamatkan diri, akhir nya tiba di suatu desa. Di situ dia lihat para prajurit pengawal nya tanggung sangat sedikit) sehingga desa tersebut kemudian diberi nama desa Tanggung.
"Aku rela seandainya nanti gugur di tangan Menak Jinggo. Tetapi, aku tidak ingin harta kekayaan milik Majapahit yang tersimpan di Kadipaten Pajarakan, dan saat ini tengah kita bawa jatuh ke tangan prajurit Blambangan. Karena itu aku akan mengutus salah satu di antara kalian untuk me nyelamatkan harta kekayaan yang ada dalam gerobak kencana itu, kata Menak Koncar.
Akhirnya, A-lipati itu mengutus senapati wanita yang bernama Sindhu brorno untuk membawa gerobak kencana Dikawal oleh dua orang senapati pria bernama Lindubovo dan Tambakboj.).
Ketiga senapati itu menempuh arah yang berbeda dengan Menak Koncar dan sisa-sisa prajurit pengawalnya. Perjalanan ketiga orang itu akhirnya sampai di sebelah utara kota. Tepatnya di dua buah yumuk (bukit). Linduboyo dan Tambakboyo berhenti dan berjaga di kedua bukit itu, sedang kan Sindhubromo meneruskan perjalanan ke arah selatan. Karena tempat penjagaan kedua senapati itu memiliki celah di tengahnya, dan tampak seperti lawang (pintu), maka bukit tersebut diberi nama Mlawang
Sindhubromo yang membawa gerobak kencana yang berisi harta kekayaan, akhirnya tiba di sebuah gunung. Di kemudian hari, gurung tersebut diberi nama Gunung Grobogan.
Kembali kepada kepada Menak Koncar yang tengah melanjutkan pelariannya, akhirnya tiba di sebuah desa di saat fajar mulai terbit. Karena suasana sudah padang (terang) maka desa tersebut diberi nama desa Padang.
Perjalanan kembali diteruskan. Para prajurit itu berjalan beriringan di sepanjang tepi kali (sungai) sehingga tampak seperti semut. Dari situlah lahir nama desa Kali Semut.
Karena merasa lelah, Menak Koncar menyuruh prajurit nya untuk berhenti dan beristirahat di sebuah desa. Pada saat itu tampak embok-embok (ibu-ibu) yang tengah adang (menanak pasi) sehingga desa tersebut di kemudian hari diberi nama desa Bodang.
Usai melepas lelah, iring-iringan prajurit kembali berjalan hingga tiba di sebuah tempat yang datar. Di situ mereka memperbaiki perlengkapan dan mengatur pasukan. Tampak bahwa kondisi para prajurit itu sudah babak bandas (babak belur) sehingga tempat tersebut kemudian diberi nama desa Babakan.
Setelan selesai mengatur pasukan, para prajurit itu me lanjutkan perjalanan sampai di desa Kedawung, di kaki Gunung Semeru, Sayang sekali, sesampai di desa itu keadaan Menak Koncar semakin memburuk. Luka parah ditambah darah yang banyak mengalir keluar membuat nyawanya tidak ter selamatkan. Menak Koncar wafat dan dimakamkan di sana.
Perjuangan Menak Koncar, serta pelariannya hingga sampai di kaki Gunung Semeru, terdengar sampai di pusat Kerajaan Majapahit. Akhirnya, Kadipaten Pajarakan juga dikenal sebagai daerah lumajeng atau lumajar yang artinya.
Nama Lamajeng itu sendiri lama-kelamaan berubah menjadi Lumajang. Bahkan Kadipaten Pajarakan akhirnya diganti menjadi Kadipaten Lumajang dengan Pajarakan sebagai ibu kotanya.
Kesimpulan
Cerita ini tergolong legenda
Selain asal usul nama Lumajang, legenda ini juga mengisahkan asal usul nama Gunung Mlawang, Gunung Grobogan, desa Kutorenon, desa Tanggung (sangat sedikit). desa Padang (terang), Kali Semut, desa Bodang, dan desa Babakan.
Legenda ini memberi pelajaran kepada kita mengenai rasa cinta tanah air. Menak Koncar adalah contoh dari sosok yang mencintai tanah airnya sehingga rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk mempertahankan tanah tumpah darahnya.
Oleh : Nesia Anisa Yahya
Barda Mandarawata FDKI 21

No comments:
Post a Comment