Selain dikenal kaya akan budaya dan bahasa. Banyak pula ragam jajanan yang mempunyai filosofi tersendiri di Indonesia. Kue jadah ketan salah satunya. Kue yang terbuat dari campuran beras ketan dan kelapa parut, yang dimasak layaknya nasi dan kemudian ditumbuk hingga halus dan menjadi satu kesatuan yang lengket.
Dalam adat suku jawa, jadah ketan atau yang lebih populer dengan sebutan tetel ini, tak pernah absen dalam "iring-iringan" acara pernikahan maupun lamaran hingga saat ini. Tepatnya di daerah Lumajang sendiri. Hal ini masih diberlakukan sebab diyakini memiliki makna filosofi yang diyakini sebagian orang.
Sebagian orang jawa meyakini ketan memiliki arti "keraketan" yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti "merekatkan". Karena teksturnya pula yang lengket, berharap hubungan keluarga yang dibangun akan selalu harmonis dan saling merekat tak terpisahkan. Hingga maut memisahkan pun tetap mencintai meski di alam yang berbeda. Sifatnya yang lengket mengisyaratkan akan saling membersamai satu sama lain menghadapi ujian dan rintangan pernikahan bersama-sama, tanpa adanya perpisahan.
Sebagian juga mengartikan bahwa ketan berasal dari bahasa Arab " khoto' " yang berarti salah. Makna kesalahan inilah yang perlu direnungi dalam kehidupan, terlebih dalam kehidupan rumah tangga. Agar dapat introspeksi diri atas kesalahan yang diperbuat, yang pastinya kerap kali terjadi setiap hari dalam hubungan rumah tangga, dan harus juga saling memaafkan.
Yang membedakan nasi ketan dengan jadah ini hanyalah campuran kelapa dan proses ditumbuknya saja. Jika ingin jadah yang gurih, bisa dengan dicampurkan parutan kelapa lagi ketika sudah matang. Dan jika ingin rasa yang manis, maka bisa dengan ditaburi gula pasir atau pun gula merah cair diatasnya.
Proses pembuatannya yang terbilang panjang ini, memberikan makna bahwa dalam suatu kehidupan rumah tangga pastinya perjalanan yang diarungi tidaklah singkat. Banyak sekali rintangan menghadang yang perlu dihadapi dengan hati lapang. Oleh karenya, perlu adanya kerekatan antara kedua pasangan dan selalu menjaga keharmonisan rumah tangga nya.
Tak hanya itu, rasa manis dan gurih yang dihasilkan juga memiliki makna, bahwa proses yang panjang akan membuahkan hasil yang manis yaitu kebahagiaan.
Oleh : Putri (Tarantula 22)
Kader PMII FDKI 22

No comments:
Post a Comment