![]() |
| Akhmad Afnan Fajarudin PMII Rayon Tarbiyah Lumajang |
Virus Corona muncul pada pertengahan
Desember 2019 di Wuhan, China.
Virus Corona menyebar dengan cepat di dunia dan sekarang menyebar di negara
kita yaitu Indonesia. Saat ini, virus telah mewabah di Jawa Timur. Tentu kita
sebagai organisasi kemahasiswaan atau Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang
mana PMII bukanlah dijadikan sebuah obyek namun PMII merupakan subyek yang
harus bergerak, untuk ikut andil dalam memerangi pandemi global ini.
Bahasa
Corona berasal dari bahasa latin berarti “Mahkota” yang bila virus itu di observasi lewat mikroskop bentuknya
akan seperti mahkota. Dari segi bahasanya itu, kita harus bergerak sesuai
dengan sudut pandang paradigma PMII yang sudah ditetapkan.
Organisasi
Kesehatan Dunia World Health Organization
(WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia yang merupakan salah satu badan PBB yang
bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional. Pada pertengahan
Maret 2020 lalu, setelah menyebar ke seluruh dunia, WHO menetapkan bahwa virus
Corona menjadi status pandemi global.
Sekarang
kita menyadari bahwa virus corona akan membawa bangsa Indonesia lebih mengarah
ke Empiris Pragmatisme yang akan
ditundukkan oleh perkembangan teknologi, itu salah satu efek dari pandemi
covid-19 ini. Apabila kita melihat hal ini, WHO maupun pemerintah pusat yang
sudah mengeluarkan keputusan kepada masyarakat untuk tidak keluar dari tumah, social distancing, dan keputusan lainnya
untuk pencegahan virus ini agar tidak sampai keruh dan menuai korban yang
semakin banyak. Penyampaian pihak-pihak tersebut pastilah melalui media tidak
akan lewat hal lain selain itu karena pihak-pihak tersebut juga menginginkan
keselamatan sama halnya dengan kita semua.
Dampak
dari hal tersebut akan merubah desain juga perilaku bangsa Indonesia dan budaya
pun akan berubah secara drastis pasca pandemi covid-19 ini. Teknologi sebelum
pandemi ini, sudah menggerus pemikiran, kesadaran diri dan mengikis pola pikir
sahabat-sahabat PMII. Sehingga apa yang sudah menjadi tradisi, virtual-virtual pergerakan
menjadikan hal ini sebagai wisata dan teknologi menjadikan wisata baru untuk
sahabat-sahabat PMII. Disini kita harus mempunyai pisau bedah untuk manangkis
realitas tersebut. Sebelum pandemi ini menjelma dan menjadikan teror ketakutan
pada masyarakat, kita harus menganalisinya dengan tepat karena yang hilang dari
adanya efek tersebut adalah budaya dan pola pikir masyarakat kita yaitu
kritisme dan humanistik. Padahal tujuan awal terebentunya teknologi adalah
percepatan menggali informasi yang disajikan kepada halayak publik, khusunya
masyarakat.
Yang perlu difikirkan
PMII saat ini adalah masa depan selesai pandemi global ini. Poin terpentingnya
adalah apakah pasca pandemi ini civil
society makin kuat ataukah negara yang tambah kuat?. Kalau kita hanya
menilai pandemi sebagai persoalan dari problem kesehatan, kedokteran, teknologi,
hal ini adalah kesalahan besar, karena kita melakukan analisis dari satu sudut
pandang saja bukan menganalisis dan menelaah lebih dalam lagi. Karena tanpa
analisis yang tepat maka kita tidak bisa memahami dampak adanya covid-19 ini.
Selama pandemi ini kita
tetap harus mengikuti aturan pemerintah dan WHO, agar virus corona tidak
semakin menyebar ke penjuru Indonesia utamanya di lingkungan pribadi. Tapi perlu
diingat bahwa kita sebagai Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia tidak bisa diam
saja melihat keadaan dan situasi negara kita yang sudah terjamah oleh wabah
ini. Kita harus turut andil dalam memerangi virus covid-19 ini dengan memakai
sistem humanisme dan sosialisme kepada masyarakat sekitar.
Ada lima poin hal-hal
yang harus dilakukan untuk menerjemahkan amal sholeh oleh sahabat-sahabat
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Yang pertama adalah melakukan konsolidasi
gerakan keumatan. Kedua adalah memperkuat basis intelektual kader baik tentang
fakultatif, analisis maupun metodologi biar kita faham apa yang harus dilakukan
nantinya. Ketiga adalah mengimplementasikan ideologi PMII yang kita sebut
dengan nasionalisme dan hubbul wathan minal iman. Keempat adalah mengembangkan
teknologi murah dan tepat guna yang mempunyai keberpihakan pada kelompok
marjinal, karena teknologi itu tidak dibuat semata-mata hasil dari
laboratorium, riset, tapi teknologi itu pasti ada yang mengendalikannya. Kelima
adalah tetap kita akan mengkampanyekan, gotong royong untuk mengahadapi
tantangan global.
Inti dari hal ini adalah
kita harus melakukan semangat kemasyarakatan, gotong royong, membantu sesama dalam
nilai-nilai sosialisme. Karena sekarang masyarakat butuh yang namanya simpati
gerakan nyata untuk mempertahankan budaya yang ada di masyarakat kita, meskipun
negara kita sekarang mengalami pandemi global tapi perlu diketahui bahwa
masyarakat kuat adalah penunjang kekuatan negara demi terciptanya tujuan negara
yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

Semoga covid segera berakhir:v
ReplyDelete