Friday, April 17, 2020

Pandemi Covid-19: PMII Ngapain?



Akhmad Afnan Fajarudin PMII Rayon Tarbiyah Lumajang
Akhmad Afnan Fajarudin PMII Rayon Tarbiyah Lumajang


         Virus Corona muncul pada pertengahan Desember 2019 di Wuhan, China. Virus Corona menyebar dengan cepat di dunia dan sekarang menyebar di negara kita yaitu Indonesia. Saat ini, virus telah mewabah di Jawa Timur. Tentu kita sebagai organisasi kemahasiswaan atau Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang mana PMII bukanlah dijadikan sebuah obyek namun PMII merupakan subyek yang harus bergerak, untuk ikut andil dalam memerangi pandemi global ini.
            Bahasa Corona berasal dari bahasa latin berarti “Mahkota” yang bila virus itu di observasi lewat mikroskop bentuknya akan seperti mahkota. Dari segi bahasanya itu, kita harus bergerak sesuai dengan sudut pandang paradigma PMII yang sudah ditetapkan.
            Organisasi Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia yang merupakan salah satu badan PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional. Pada pertengahan Maret 2020 lalu, setelah menyebar ke seluruh dunia, WHO menetapkan bahwa virus Corona menjadi status pandemi global.
            Sekarang kita menyadari bahwa virus corona akan membawa bangsa Indonesia lebih mengarah ke Empiris Pragmatisme yang akan ditundukkan oleh perkembangan teknologi, itu salah satu efek dari pandemi covid-19 ini. Apabila kita melihat hal ini, WHO maupun pemerintah pusat yang sudah mengeluarkan keputusan kepada masyarakat untuk tidak keluar dari tumah, social distancing, dan keputusan lainnya untuk pencegahan virus ini agar tidak sampai keruh dan menuai korban yang semakin banyak. Penyampaian pihak-pihak tersebut pastilah melalui media tidak akan lewat hal lain selain itu karena pihak-pihak tersebut juga menginginkan keselamatan sama halnya dengan kita semua.
            Dampak dari hal tersebut akan merubah desain juga perilaku bangsa Indonesia dan budaya pun akan berubah secara drastis pasca pandemi covid-19 ini. Teknologi sebelum pandemi ini, sudah menggerus pemikiran, kesadaran diri dan mengikis pola pikir sahabat-sahabat PMII. Sehingga apa yang sudah menjadi tradisi, virtual-virtual pergerakan menjadikan hal ini sebagai wisata dan teknologi menjadikan wisata baru untuk sahabat-sahabat PMII. Disini kita harus mempunyai pisau bedah untuk manangkis realitas tersebut. Sebelum pandemi ini menjelma dan menjadikan teror ketakutan pada masyarakat, kita harus menganalisinya dengan tepat karena yang hilang dari adanya efek tersebut adalah budaya dan pola pikir masyarakat kita yaitu kritisme dan humanistik. Padahal tujuan awal terebentunya teknologi adalah percepatan menggali informasi yang disajikan kepada halayak publik, khusunya masyarakat.
Yang perlu difikirkan PMII saat ini adalah masa depan selesai pandemi global ini. Poin terpentingnya adalah apakah pasca pandemi ini civil society makin kuat ataukah negara yang tambah kuat?. Kalau kita hanya menilai pandemi sebagai persoalan dari problem kesehatan, kedokteran, teknologi, hal ini adalah kesalahan besar, karena kita melakukan analisis dari satu sudut pandang saja bukan menganalisis dan menelaah lebih dalam lagi. Karena tanpa analisis yang tepat maka kita tidak bisa memahami dampak adanya covid-19 ini.
Selama pandemi ini kita tetap harus mengikuti aturan pemerintah dan WHO, agar virus corona tidak semakin menyebar ke penjuru Indonesia utamanya di lingkungan pribadi. Tapi perlu diingat bahwa kita sebagai Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia tidak bisa diam saja melihat keadaan dan situasi negara kita yang sudah terjamah oleh wabah ini. Kita harus turut andil dalam memerangi virus covid-19 ini dengan memakai sistem humanisme dan sosialisme kepada masyarakat sekitar.
Ada lima poin hal-hal yang harus dilakukan untuk menerjemahkan amal sholeh oleh sahabat-sahabat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Yang pertama adalah melakukan konsolidasi gerakan keumatan. Kedua adalah memperkuat basis intelektual kader baik tentang fakultatif, analisis maupun metodologi biar kita faham apa yang harus dilakukan nantinya. Ketiga adalah mengimplementasikan ideologi PMII yang kita sebut dengan nasionalisme dan hubbul wathan minal iman. Keempat adalah mengembangkan teknologi murah dan tepat guna yang mempunyai keberpihakan pada kelompok marjinal, karena teknologi itu tidak dibuat semata-mata hasil dari laboratorium, riset, tapi teknologi itu pasti ada yang mengendalikannya. Kelima adalah tetap kita akan mengkampanyekan, gotong royong untuk mengahadapi tantangan global.
Inti dari hal ini adalah kita harus melakukan semangat kemasyarakatan, gotong royong, membantu sesama dalam nilai-nilai sosialisme. Karena sekarang masyarakat butuh yang namanya simpati gerakan nyata untuk mempertahankan budaya yang ada di masyarakat kita, meskipun negara kita sekarang mengalami pandemi global tapi perlu diketahui bahwa masyarakat kuat adalah penunjang kekuatan negara demi terciptanya tujuan negara yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.


1 comment:

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

KOMISARIAT INSTITUT AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN

RAYON FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM